Hello Mr. Trump! Iran Tak Akan Menukar 'Berlian' dengan 'Permen' Anda
Jakarta, CNBC Indonesia - Iran belum menyerah terhadap Amerika Serikat (AS). Sikap menantang Iran ini menegaskan Iran memiliki daya tawar tinggi dalam perang, terutama melalui Selat Hormuz
Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bukan sekadar perpisahan nasional. Lautan pelayat yang memenuhi Teheran menjadi pesan politik kepada Amerika Serikat dan Israel bahwa upaya mereka untuk melemahkan Republik Islam Iran telah gagal.
Alih-alih terlihat melemah setelah perang yang dimulai oleh serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, Iran justru menampilkan citra sebagai negara yang tetap kuat, bersatu, dan siap menentukan arah masa depannya sendiri.
Sikap menantang serta kemampuan Iran bertahan dari perang kini menjadi fondasi strategi negosiasi Teheran.
Pemakaman tersebut dipandang sebagai momen ketika Iran berusaha mengubah daya tahannya selama perang menjadi modal tawar dalam diplomasi.
Sebuah kendaraan yang membawa peti jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan anggota keluarganya, melintas di tengah iring-iringan prosesi pemakaman Khamenei, yang tewas pada 28 Februari dalam serangan udara Israel dan AS, di Teheran, Iran, 6 Juli 2026. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS) Foto: Sebuah kendaraan yang membawa peti jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan anggota keluarganya, melintas di tengah iring-iringan prosesi pemakaman Khamenei, yang tewas pada 28 Februari dalam serangan udara Israel dan AS, di Teheran, Iran, 6 Juli 2026. (via REUTERS/Majid Asgaripour) |
"Berlian Tidak Ditukar dengan Permen"
Perang tersebut, menurut para analis, semakin menegaskan posisi strategis Iran di Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Teheran kini menuntut agar setiap kesepakatan mengenai program nuklirnya dimulai dengan pengakuan bahwa pengaruh Iran atas Selat Hormuz merupakan kenyataan yang harus diterima dunia.
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia? Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian |
Â
Gencatan senjata selama 60 hari yang diinisiasi Washington awalnya dimaksudkan untuk menghidupkan kembali diplomasi guna menghentikan program senjata nuklir Iran. Namun, yang terjadi justru muncul arena persaingan baru.
Dalam persaingan tersebut, posisi geografis Iran dinilai lebih berharga daripada cadangan uranium yang dimilikinya.
Teheran ingin mengubah keuntungan strategis selama perang menjadi keunggulan permanen dengan memperoleh pengakuan atas dominasinya di sekitar Selat Hormuz.
Hingga kini, hitungan mundur 60 hari menuju kesepakatan final pasca-gencatan senjata bahkan belum benar-benar dimulai. Dalam kekosongan itu, Iran dinilai berhasil mengendalikan ritme negosiasi.
Alex Vatanka dari Middle East Institute mengatakan, meskipun Iran berpotensi memperoleh pemasukan besar dari biaya pelayaran di Selat Hormuz, Teheran lebih memandang selat tersebut sebagai simbol legitimasi politik dibanding sumber pendapatan ekonomi.
"Bagi Iran, nilai simboliknya jauh lebih penting daripada pendapatannya. Mereka menginginkan semacam pengakuan simbolis bahwa Selat Hormuz adalah milik Iran. Intinya adalah pengakuan bahwa Iran merupakan kekuatan berdaulat atas selat tersebut," ujarnya, kepada Reuters.
Vatanka kemudian mengutip pepatah Persia:
Why give away a diamond for a lollipop
"Mengapa menukar berlian dengan permen?"
"Cherâ almâs râ bâ yek âb-nabât avaz konim? {Jangan melepaskan sesuatu yang sangat berharga demi imbalan yang nilainya jauh lebih kecil)"
Dalam pandangan Iran, Selat Hormuz adalah berlian, sedangkan pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan aset yang dibekukan hanyalah "permen".
"Anugerah Ilahi"
Pandangan tersebut juga ditegaskan oleh pimpinan Iran.  Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menyebut Selat Hormuz sebagai alat kekuatan terbesar Iran sekaligus "anugerah ilahi" yang harus dijaga.
Ia menegaskan Iran dalam keadaan apa pun tidak akan melepaskan haknya atas kawasan tersebut.
Menurut sejumlah diplomat dan pejabat kawasan, Iran sengaja memperlambat proses negosiasi agar dapat mengamankan keuntungan strategis yang diperoleh selama perang sebelum kembali membahas isu nuklir.
Bagi Teheran yang terus membantah sedang mengembangkan senjata nuklir, persoalan uranium masih bisa menunggu, sedangkan memperkuat posisi di Selat Hormuz tidak bisa ditunda.
Alan Eyre, mantan diplomat Amerika Serikat yang lama menangani Iran, menilai strategi Iran sangat jelas.
"Iran tidak keberatan mengulur waktu dan memperpanjang negosiasi. Mereka menginginkan kendali atas Selat Hormuz dan menggunakan pembicaraan untuk melembagakan kendali tersebut," katanya.
Hal itu dapat dilakukan melalui pengaturan jalur pelayaran, mekanisme koordinasi, hingga pungutan layanan di koridor yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman Foto: Infografis/ Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman/ Ilham Restu |
Â
Trump Dinilai Lebih Terdesak
Teheran meyakini Presiden AS Donald Trump lebih membutuhkan kesepakatan dibanding Iran. Menurut mantan diplomat AS Alan Eyre, tekanan politik domestik dan pemilu paruh waktu Kongres membuat Trump ingin segera mengakhiri konflik.
"Iran tahu Trump ingin segera keluar dari situasi ini. Mereka yakin waktu berada di pihak mereka," ujarnya, dikutip dari Reuters.
Mantan negosiator Timur Tengah AS Aaron David Miller menilai operasi militer Washington gagal mengurangi daya tawar Iran. Karena itu, Teheran tidak terburu-buru membahas program nuklir sebelum dunia mengakui posisi barunya di Selat Hormuz dan ada kemajuan pencairan aset yang dibekukan.
"Batas waktu 60 hari hanyalah ilusi. Iran ingin memastikan tidak ada jalan kembali ke situasi sebelum 27 Februari," kata Miller.
Miller menilai perang justru memperkuat posisi Iran di Selat Hormuz.Â
"Mereka tidak akan pernah melepaskannya." ujar Miller.
Presiden Emirates Policy Center, Ebtesam Al-Ketbi, mengatakan penghentian perang tanpa menyelesaikan akar masalah membuat Hormuz berubah menjadi sumber daya tawar permanen bagi Iran.
"Setelah menemukan 'harta karun' bernama Hormuz, mereka tidak akan meninggalkannya."
Sejumlah analis menilai AS pada akhirnya kemungkinan harus menerima pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat yang sebagian besar ditentukan Teheran.
Laporan Keuangan Jadi Ujian Dampak Perang
Dampak ekonomi perang Iran diperkirakan mulai terlihat saat emiten di kawasan Teluk merilis laporan keuangan kuartal II-2026.
Analis menilai sektor perbankan dan properti menjadi yang paling rentan akibat tekanan inflasi, suku bunga, dan melemahnya aktivitas ekonomi. Sebaliknya, telekomunikasi relatif bertahan berkat kontrak jangka panjang, sementara perusahaan energi diuntungkan kenaikan harga minyak meski menghadapi gangguan pasokan.
"Kuartal kedua akan menunjukkan dampak nyata perang," kata Wakil CEO FH Capital Tariq Qaqish.
Pemenang dan yangkalah dari Perang Iran Foto: Reuters |
Â
Geografi Jadi Penentu
Negara yang bergantung pada Selat Hormuz diperkirakan paling terdampak.
Menurut HSBC, Arab Saudi, yang memiliki jalur ekspor melalui Laut Merah, masih diproyeksikan tumbuh 2,1% pada 2026. Oman juga relatif lebih tahan karena berada di luar Selat Hormuz.
Sebaliknya, ekonomi UEA, Qatar, dan Kuwait diperkirakan tertekan karena sangat bergantung pada jalur pelayaran tersebut.
S&P Global Ratings memperingatkan ketidakpastian akibat perang dapat menekan sektor jasa dan konsumsi jika kepercayaan pelaku usaha kembali melemah.
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) turut memberikan gambaran mengenai negara-negara Timur Tengah dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Update edisi Juli 2026.
Jika sejumlah negara Asia masih diproyeksikan tumbuh kencang, kawasan Timur Tengah justru menjadi salah satu kelompok yang paling rentan dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi versi IMF.
Penyebab utamanya adalah perang yang berakibat pada gangguan jalur energi, dan membuat naiknya harga komoditas energi.
Dalam laporan tersebut, IMF memperkirakan pertumbuhan kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah turun tajam menjadi 0,7% pada 2026. Padahal pada 2025, kawasan ini masih tumbuh 3,7%.
Energi Masih Perkasa, Properti Melemah
HSBC menaikkan proyeksi harga minyak Brent menjadi US$95 per barel pada 2026, dengan rata-rata harga kuartal II mencapai US$114 per barel.
Di sisi lain, ADNOC Gas memperkirakan penjualan gas domestiknya turun 19% akibat gangguan operasional.
Sektor telekomunikasi seperti STC, Mobily, dan e& tetap tangguh. Sementara saham perusahaan pesan-antar makanan Talabat melonjak lebih dari 60% dalam tiga bulan terakhir seiring meningkatnya konsumsi domestik.
Sebaliknya, sektor perbankan diperkirakan mencatat penurunan laba kuartalan, sedangkan properti mulai kehilangan momentum. Citigroup mencatat penjualan rumah di Dubai turun tajam dibandingkan sebelum perang, meski sejumlah analis menilai fundamental para pengembang masih cukup kuat untuk menghadapi guncangan.
(mae/mae) Addsource on Google



