5 Momen Krusial Perang Iran: Khamenei Tewas hingga Gencatan Senjata
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS)-Isrel dan Iran akhirnya masuk ke fase gencatan senjata setelah konflik panjang yang tidak hanya melelahkan bagi kedua negara, tetapi juga mengguncang dunia lewat lonjakan harga energi, gangguan pelayaran, dan ketidakpastian ekonomi global.
Selama lebih dari satu bulan perang berlangsung, ada sejumlah momen penting yang menjadi penanda bagaimana konflik ini bergerak dari serangan militer terbuka hingga akhirnya masuk ke jeda diplomasi.
Berikut beberapa peristiwa krusial sejak perang AS-Israel ke Iran meletus pada 28 Februari 2026.
1. Tewasnya Ali Khamenei, lalu Mojtaba Khamenei naik
Momen paling mengguncang di awal perang terjadi saat AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Dalam serangan itu, Ali Khamenei tewas, lalu media pemerintah Iran mengumumkan kematiannya pada awal Minggu, 1 Maret 2026. Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah petinggi militer Iran dan langsung mengguncang pusat komando negara itu.
Iran kemudian bergerak cepat menutup kekosongan di pucuk pimpinan. Majelis Ahli memilih Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru, dan Reuters melaporkan keputusan itu diumumkan pada Minggu, 8 Maret 2026, setelah proses yang alot dan didorong kuat oleh Garda Revolusi Iran.
Peristiwa ini menjadi sangat penting karena serangan hari pertama perang bukan hanya membuka konflik militer besar, tetapi juga langsung mengubah wajah kepemimpinan Iran. Rezim tidak jatuh, tetapi justru melahirkan pemimpin baru yang dinilai tetap berada di jalur keras.
2. Selat Hormuz Ditutup Iran, Kapal Sipil Ikut Jadi Korban
Momen krusial berikutnya terjadi ketika Iran menutup Selat Hormuz setelah serangan awal AS dan Israel.
Langkah ini langsung mengguncang pasar karena selat tersebut merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati selat ini, sehingga gangguan di sana langsung memicu kekhawatiran besar.
Tekanan Iran lalu makin keras. Pada pekan berikutnya, pejabat senior Garda Revolusi menegaskan bahwa Hormuz telah ditutup dan kapal yang melintas tanpa izin bisa diserang.
Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya RahadianKenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia? |
Iran juga menyampaikan bahwa hanya kapal yang dianggap tidak bermusuhan dan telah berkoordinasi dengan otoritas Iran yang boleh lewat.
Ancaman itu terbukti nyata. Sejumlah kapal sipil benar-benar menjadi korban, di antaranya:
- Tanker minyak MKD VYOM berbendera Marshall Islands terkena proyektil di lepas pantai Oman. Satu awak kapal tewas.
- Kapal bunker minyak Hercules Star berbendera Gibraltar dihantam proyektil di dekat Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab.
- Kapal kontainer Safeen Prestige berbendera Malta rusak setelah terkena proyektil di bagian atas Selat Hormuz. Serangan ini memicu kebakaran di ruang mesin dan memaksa awak meninggalkan kapal.
- Bulk carrier Mayuree Naree berbendera Thailand diserang di Selat Hormuz hingga menyebabkan kebakaran dan evakuasi awak.
- Kapal One Majesty, Star Gwyneth, Safesea Vishnu, dan Zefyros juga dilaporkan terkena serangan.
Rangkaian serangan ini menunjukkan bahwa penutupan Hormuz bukan hanya mengancam perdagangan minyak dunia, tetapi juga keselamatan pelayaran sipil. Sejak titik itu, perang AS-Iran tidak lagi hanya menjadi konflik militer, tetapi juga berubah menjadi krisis yang mengguncang rantai pasok energi dan transportasi global.
3. Harga Minyak Melonjak, Sempat Menyentuh US$119 per barel
Momen krusial berikutnya terlihat dari lonjakan harga minyak dunia setelah perang pecah. Melansir data Refinitiv, harga minyak Brent berada di kisaran US$72 per barel pada Jumat (27/2/2026), atau sebelum serangan AS-Israel ke Iran dimulai.
Namun, pada hari pertama perdagangan setelah perang meletus, harga minyak Brent langsung ditutup melonjak 7,26% ke level US$77,74 per barel. Kenaikan ini menunjukkan pasar sejak awal langsung menangkap bahwa konflik tersebut bukan sekadar perang biasa, melainkan berisiko mengganggu pasokan energi dunia.
Setelah itu, tekanan terus berlanjut. Harga Brent terus menanjak hingga sempat menyentuh US$119 per barel secara intraday pada 9 Maret 2026.
Jika dibandingkan dengan level sebelum perang, berarti harga Brent sempat melonjak sekitar 65,3%. Lonjakan ini menegaskan bahwa pasar melihat perang AS-Iran sebagai ancaman serius bagi stabilitas pasokan minyak global, terutama karena konflik terjadi di kawasan yang sangat dekat dengan Selat Hormuz.
Namun kini, seiring dengan pengumuman gencatan senjata oleh Trump, harga minyak Brent berhasil mengalami penurunan bahkan saat ini harga nya sudah berada di bawah level US$100 per barel.
4. F-15 jatuh di Iran, lalu misi penyelamatan AS berubah jadi operasi berdarah
Pada 3 April 2026, sebuah F-15E Strike Eagle milik AS ditembak jatuh di Iran. Satu awak berhasil ditemukan lebih dulu, sementara satu lagi sempat hilang dan memicu operasi pencarian besar-besaran.
Dalam operasi itu, dua helikopter Black Hawk terkena tembakan, sementara Iran juga mengklaim beberapa aset udara AS lain dihancurkan.
Reuters melaporkan awak kedua akhirnya berhasil diselamatkan pada 5 April 2026, tetapi operasi penyelamatan ini memperlihatkan bahwa bahkan misi evakuasi pun bisa berubah menjadi pertempuran besar yang menambah kerugian AS.
5. Trump Ancam Iran, Ujungnya Malah Gencatan Senjata
Trump lebih dulu mengancam Iran lewat Truth Social pada Minggu (5/4/2026). Dalam unggahan itu, dia memberi ultimatum agar Iran membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa (7/4/2026) pukul 8 malam waktu AS bagian timur. Jika tidak, Iran disebut akan menghadapi serangan besar ke infrastruktur pembangkit listrik hingga jembatan.
Namun yang terjadi justru berbalik. Hanya sekitar 90 menit hingga dua jam sebelum tenggat, Trump malah mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran. Dari ancaman serangan besar yang terdengar final, arah kebijakan AS mendadak berubah menjadi jeda diplomasi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian