Minyak Membara, BI Tahan Suku Bunga: Bagaimana Nasib IHSG & Rupiah?
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street melemah pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Bursa tertekan oleh lonjakan harga minyak, di tengah perhatian investor yang tertuju pada gelombang laporan kinerja emiten berikutnya.
Indeks S&P 500 turun 0,14% ke 7.498,96, sementara Nasdaq Composite melemah 0,57% menjadi 25.690,90. Adapun Dow Jones Industrial Average melandai 6,06 poin atau 0,01% ke 52.218,58.
Kontrak berjangka Brent naik sekitar 3,4% dan ditutup di US$94,07 per barel, level tertinggi dalam lebih dari satu bulan, bahkan sempat menembus US$95. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 3% ke US$86,83 per barel.
Harga minyak melonjak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke-11 berturut-turut terhadap Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Iran tidak serius dalam pembicaraan.
"Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami serta kepentingan sekutu kami," ujar Rubio, dikutip dari CNBC International.
Rubio juga menegaskan bahwa militer AS akan terus menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pelaku pasar terus mencermati pergerakan harga minyak karena khawatir kenaikan harga energi akan mempertahankan inflasi pada level tinggi, yang pada akhirnya dapat mendorong Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga.
"Inflasi jelas masih tinggi, dan saya rasa The Fed tidak memiliki banyak pilihan untuk mengatasinya," kata Thomas Martin, Senior Portfolio Manager di Globalt Investments.
"Yang menjadi beban pasar saat ini adalah ke mana arah suku bunga selanjutnya."imbuhnya.
Hingga Rabu sore waktu AS, pelaku pasar di kontrak berjangka suku bunga (fed funds futures) memperkirakan peluang sekitar 34% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga bulan ini, meningkat tajam dari 10% sepekan sebelumnya.
Selain itu, pasar juga memperkirakan peluang 78% untuk kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada September, berdasarkan data CME FedWatch Tool.
Musim Laporan Keuangan Berlanjut
Perhatian investor kembali tertuju pada musim laporan keuangan, dengan sejumlah perusahaan besar dijadwalkan merilis kinerja, termasuk ServiceNow, IBM, Tesla, Texas Instruments, dan Alphabet.
Investor akan mencermati perkembangan belanja kecerdasan buatan (AI), permintaan layanan cloud, anggaran teknologi perusahaan, serta prospek bisnis pada paruh kedua tahun ini.
Pasar juga ingin memastikan apakah permintaan yang kuat terhadap infrastruktur dan perangkat lunak AI masih cukup untuk membenarkan valuasi saham teknologi yang saat ini tergolong tinggi.
"Yang paling penting sebenarnya adalah pesanan (orders)," ujar Martin.
Dia menambahkan laba yang melampaui ekspektasi memang penting, begitu juga kenaikan proyeksi. Namun yang benar-benar menggerakkan pasar adalah seberapa lama siklus pertumbuhan ini akan bertahan dan seberapa besar pertumbuhan yang bisa diharapkan dalam satu, dua, hingga tiga tahun ke depan.
Ia menjelaskan bahwa perhatian utama investor akan tertuju pada para hyperscaler, yaitu perusahaan teknologi raksasa penyedia layanan cloud.
Saham Super Micro Computer melonjak hampir 20% setelah produsen server tersebut memproyeksikan margin laba kuartal IV fiskal yang lebih tinggi dari perkiraan. Perusahaan juga mengungkapkan telah memperoleh pesanan baru senilai lebih dari US$60 miliar selama periode tersebut.
Di sisi lain, saham AT&T naik 3,5% setelah perusahaan telekomunikasi itu membukukan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi analis.
Sebaliknya, saham GE Vernova anjlok lebih dari 8% setelah laba kuartal II perusahaan berada di bawah perkiraan pasar.
(evw/evw) Addsource on Google