SRBI Jadi Senjata BI Bikin Rupiah Balik ke Rp 17.880/US$
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui optimalisasi berbagai instrumen, termasuk melalui suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Hal ini ditegaskan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026). Upaya ini dinilai BI menimbulkan hasil positif, yakni rupiah kembali menguat ke Rp17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026, setelah sempat melemah sejak akhir Juni 2026 akibat kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan FFR.
"Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880," ujar Perry.
Perry pun menjelaskan guna tetap menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia terus mengoptimalkan intervensi baik di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.
"Suku bunga SRBI dinaikkan untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah," tuturnya.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa meskipun suku bunga tidak naik, bank sentral menggelontorkan sejumlah insentif melalui SRBI. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong arus modal masuk ke dalam negeri sebagai langkah stabilisasi nilai tukar.
"Insentif SRBI dengan spread menarik sehingga dapat menarik inflow ke dalam portofolio investment kita," tegasnya.
Dari data BI, Kepemilikan nonresiden di SRBI meningkat dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun (27,11% dari total posisi SRBI) pada 20 Juli 2026.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]