MARKET DATA

Dolar AS Nyaris Rp17.100, BI Buka Suara!

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
07 April 2026 17:26
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia-Bank Indonesia (BI) menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dipengaruhi oleh sentimen global. BI memastikan berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.

Hal ini disampaikan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026)

Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup di zona merah dengan depresiasi 0,35% ke level Rp17.090/US$. Posisi ini kembali mencetak rekor sebagai level penutupan terlemah sepanjang masa bagi mata uang Garuda.

Destry menjelaskan stabilitas rupiah menjadi prioritas bank sentral saat ini. Ketidakpastian global yang dipicu oleh perang di Timur Tengah terus berlanjut sehinga harus diantisipasi melalui berbagai kebijakan.

"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI). Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar," kata Destry.

BI, lanjut Destry secara konsisten dan terukur melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-deliverable forward (NDF) di offshore market.

Pada dasarnya, perang yang masih berlangsung menyebabkan kenaikan harga komoditas. Indonesia mendapatkan tekanan dari kenaikan harga minyak dunia. Pada sisi lain, Indonesia mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga batu bara, nikel dan lainnya.

"Posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut," pungkasnya.

(mij/mij) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rahasia Habibie Sukses Turunkan Dolar dari Ro16.000 ke Rp6.550


Most Popular
Features