MARKET DATA
Newsletter

Minyak Membara, BI Tahan Suku Bunga: Bagaimana Nasib IHSG & Rupiah?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
23 July 2026 06:21
Sudaryono saat dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden)
Foto: Sudaryono saat dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden)

Memasuki perdagangan hari ini, pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.

Dari dalam negeri, pasar tertuju pada keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan di level 5,75%, pergantian Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), hingga rilis uang beredar (M2) periode Juni. 

Sementara dari eksternal, pasar akan mencermati neraca perdagangan Jepang yang kembali mencatat defisit serta keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan diumumkan pada Kamis malam waktu Indonesia.

Perkembangan Perang

Presiden AS Donald Trump mengancam akan membombardir satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz. Trump bahkan menyebut target tersebut bisa berada di ibu kota Teheran.

Iran membalas ancaman itu dengan memperingatkan akan menyerang infrastruktur dan fasilitas energi yang terkait dengan kepentingan AS di kawasan jika Washington melaksanakan ancamannya. Teheran juga menegaskan kapal yang melintas di Selat Hormuz hanya akan aman jika berkoordinasi dengan Iran.

Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai Iran tidak serius berunding, meski Washington masih membuka jalur diplomasi. Militer AS juga telah melancarkan serangan terhadap target Iran selama 11 malam berturut-turut untuk menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka.

Harga Minyak Terbang

Harga Brent ditutup melonjak 3,4% ke US$94,07 per barel sementara WTI menguat 1,3% ke US$ 87,45 per barel. Harga minyak brent sudah terbang 11% lebih dalam empat hari terakhir.

Harga minyak dunia sempat menembus US$95 per barel untuk pertama kalinya dalam enam pekan pada Rabu kemarin.

Lonjakan harga didorong oleh serangan AS ke Iran untuk malam ke-11 berturut-turut, ancaman Iran di Selat Hormuz, serta ancaman Houthi terhadap kapal pengangkut minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb.

Analis Goldman Sachs memperingatkan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$120 per barel pada akhir tahun jika ekspor melalui Selat Hormuz tidak kembali normal.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengatakan pasar sejauh ini masih tertolong oleh pelepasan 400 juta barel cadangan minyak darurat serta peningkatan ekspor dari Arab Saudi, UEA, Amerika Utara, dan Eropa. Namun ia mengingatkan situasi tetap rapuh dan pembukaan penuh Selat Hormuz menjadi kunci untuk mencegah memburuknya ketahanan energi global.

Di tengah kebuntuan diplomasi, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika kapal di Selat Hormuz diserang. Iran pun membalas dengan menegaskan setiap serangan terhadap infrastrukturnya akan dibalas secara tegas.

Badan Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA) melaporkan total persediaan minyak mentah AS, termasuk stok komersial dan Strategic Petroleum Reserve (SPR), turun 131,6 juta barel menjadi 723,1 juta barel pada pekan lalu. Angka ini merupakan level terendah sejak 1984, dipengaruhi oleh turunnya tingkat utilisasi kilang, berkurangnya ekspor minyak mentah, serta meningkatnya impor.

Namun, stok minyak mentah komersial justru naik 2 juta barel menjadi 411,7 juta barel pada pekan yang berakhir 17 Juli, berlawanan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 1,1 juta barel.

EIA juga mencatat pasokan minyak mentah ke kilang turun 58.000 barel per hari, sementara tingkat utilisasi kilang turun tipis 0,1 poin persentase menjadi 96,1%.

Di sisi lain, ekspor minyak mentah AS turun sekitar 368.000 barel per hari, sedangkan impor meningkat 117.000 barel per hari menjadi 5,8 juta barel per hari.

BI Tahan Suku Bunga di 5,75%

Bank Indonesia (BI) akhirnya memilih menahan suku bunga acuannya pada Juli 2026.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21-22 Juli 2026 memutuskan BI Rate tetap berada di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan di 4,75%, sementara suku bunga Lending Facility tetap di 6,50%.

Keputusan ini cukup menarik karena mematahkan hasil polling CNBC Indonesia. Dari 14 institusi dan lembaga yang mengikuti polling, sebanyak delapan responden memperkirakan BI Rate naik 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%. Sementara itu, hanya enam responden yang memperkirakan suku bunga akan ditahan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan mempertahankan BI Rate diambil sebagai bagian dari upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

"Serta mempertahankan inflasi pada kisaran sasaran 2,5% plus minus 1%," kata Perry dalam konferensi pers RDG Bulanan BI, Rabu (22/7/2026).

Keputusan menahan suku bunga ini juga dilakukan setelah BI cukup agresif mengetatkan kebijakan moneter sejak Mei 2026. Pada bulan lalu, BI Rate telah dinaikkan 25 bps menjadi 5,75%, Deposit Facility menjadi 4,75%, dan Lending Facility menjadi 6,50%.

Kenaikan tersebut sebelumnya dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, sekaligus sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5% plus-minus 1%.

Meski BI Rate ditahan, BI tetap menyiapkan sejumlah kebijakan lain untuk menjaga rupiah. Salah satunya dengan memperluas insentif guna mendorong aliran modal asing ke pasar uang domestik.

"BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas," papar Perry.

Di sisi lain, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan makroprudensial longgar akan terus diperkuat untuk mendorong kredit dan pembiayaan ke sektor riil, dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi melalui perluasan pembayaran digital dan penguatan infrastruktur sistem pembayaran.

Neraca Dagang Jepang Kembali Defisit

Neraca perdagangan Jepang kembali masuk zona defisit pada Juni 2026. Defisit perdagangan tercatat sebesar 406,9 miliar yen.

Posisi ini berbalik dari surplus 122,3 miliar yen pada Juni 2025. Defisit tersebut juga jauh lebih besar dibandingkan perkiraan pasar yang hanya sebesar 120 miliar yen.

Defisit Juni sekaligus menjadi defisit perdagangan bulanan kedua secara beruntun bagi Jepang.

Tekanan utama datang dari impor yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor. Impor Jepang melonjak 25,4% secara tahunan (yoy) menjadi 11,34 triliun yen, sekaligus mencetak rekor tertinggi.

Pertumbuhan impor tersebut melaju dari 12,5% pada Mei dan melampaui perkiraan pasar sebesar 21%. Kenaikannya juga menjadi yang paling tinggi sejak November 2022.

Permintaan domestik yang masih kuat setelah stimulus pemerintah pada akhir 2025 ikut mendorong masuknya barang dari luar negeri.

Impor minyak mentah bahkan melonjak 59,3%. Jepang meningkatkan pembelian dari pemasok alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz yang masih terganggu konflik.

Di sisi lain, ekspor Jepang juga tetap kuat. Ekspor naik 19,3% menjadi 10,93 triliun yen, posisi tertinggi dalam tiga bulan.

Pertumbuhan ekspor tersebut menjadi yang paling kuat sejak November 2022 dan sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 18,6%.

Ekspor Jepang tercatat tumbuh selama 10 bulan berturut-turut. Pelemahan yen dan tingginya permintaan terhadap cip terkait kecerdasan buatan ikut menopang ekspor, meski konflik Iran masih mengganggu rantai pasok.

Namun, kenaikan ekspor belum mampu mengimbangi lonjakan impor yang lebih besar. Kondisi ini membuat neraca perdagangan Jepang kembali defisit.

Sepanjang Semester I-2026, Jepang membukukan defisit perdagangan sebesar 1,01 triliun yen atau sekitar US$6,2 miliar.

Bagi pasar, defisit perdagangan ini bisa menambah tekanan terhadap yen. Perusahaan Jepang membutuhkan lebih banyak mata uang asing, terutama dolar AS, untuk membayar impor barang dan energi dari luar negeri.

Tekanan pada yen juga akan menjadi perhatian pasar Asia, terutama karena Bank of Japan (BOJ) masih berada dalam fase normalisasi kebijakan moneter di tengah inflasi dan pelemahan mata uang.

Sudaryono Resmi Jadi Kepala BGN

Pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) resmi terjadi. Nanik S Deyang mengundurkan diri dari jabatan Kepala BGN, dan posisinya kini digantikan oleh Sudaryono.

Kabar mundurnya Nanik awalnya disampaikan oleh Asisten Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, melalui unggahan media sosial pada Rabu (22/7/2026).

"Hari ini Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung sekaligus mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional," tulis Dirgayuza.

Dalam unggahan tersebut, Dirgayuza menyebut Nanik telah meletakkan fondasi perbaikan di BGN meski baru menjabat sekitar satu setengah bulan.

Selama kepemimpinan Nanik, BGN disebut telah mengevaluasi 28.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.000 dapur SPPG telah diberikan klasifikasi A, B, dan C berdasarkan kualitas serta keamanan pangan.

Setelah Nanik mundur, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Sudaryono sebagai Kepala BGN yang baru.

Sudaryono sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian. Setelah dilantik menjadi Kepala BGN, dia menyatakan akan melepas jabatan tersebut karena tidak diperbolehkan rangkap jabatan.

Pergantian Kepala BGN cukup menjadi perhatian karena badan ini memegang peran penting dalam pelaksanaan program prioritas pemerintah, terutama terkait pemenuhan gizi dan pengelolaan dapur SPPG.

Publik akan melihat apakah kepemimpinan baru Sudaryono bisa mempercepat perbaikan tata kelola dan pelaksanaan program di lapangan.

Perkembangan Uang Beredar Juni 2026

Bank Indonesia (BI) akan merilis data uang beredar periode Juni pada hari ini. 

Sebagai catatan, BI mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 mencapai Rp10.415,9 triliun, tumbuh 10,8% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 yang sebesar 9,2% (yoy).



Kenaikan uang beredar ditopang oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) yang melesat 15,3% (yoy) serta uang kuasi yang meningkat 6% (yoy).

BI menjelaskan, penguatan likuiditas terutama didorong oleh akselerasi penyaluran kredit dan kenaikan aktiva luar negeri bersih. Penyaluran kredit tumbuh 10,8% (yoy) pada Mei 2026, meningkat dari 9,4% (yoy) pada April. Sementara itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh 5,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 3,7% (yoy).

Menanti Keputusan Suku Bunga ECB

Pasar juga akan mencermati keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) pada Kamis malam waktu Indonesia.

ECB diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya, setelah pada pertemuan sebelumnya kembali menaikkan bunga sebesar 25 basis poin (bps).

Saat ini, suku bunga utama ECB atau main refinancing operations berada di level 2,40%. Sementara itu, suku bunga deposit facility berada di 2,25% dan marginal lending facility di 2,65%.

Keputusan ECB akan menjadi perhatian karena inflasi kawasan Eropa masih belum sepenuhnya nyaman bagi bank sentral. Di sisi lain, ekonomi Eropa juga masih menghadapi tekanan dari biaya energi, pelemahan konsumsi, dan ketidakpastian geopolitik.

Jika ECB memberi sinyal masih membuka ruang kenaikan bunga, dolar AS berpotensi mendapat lawan dari euro. Namun, sinyal hawkish ECB juga bisa membuat pasar global kembali berhati-hati karena menandakan era suku bunga tinggi belum benar-benar selesai.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features