MARKET DATA

Bencana Iklim Makin Mematikan, Dunia Rugi Rp81.000 Triliun

chd,  CNBC Indonesia
22 July 2026 15:35
People walk through a dust storm on a hot summer day in Prayagraj on April 18, 2023. (Photo by Sanjay KANOJIA / AFP) (Photo by SANJAY KANOJIA/AFP via Getty Images)
Foto: AFP via Getty Images/SANJAY KANOJIA

Jakarta, CNBC Indonesia - Cuaca ekstrem bukan lagi sekadar ancaman, tetapi telah menjadi bencana global yang menelan korban jiwa dan kerugian ekonomi dalam skala masif.

Sepanjang 1995-2024 saja, berbagai bencana cuaca ekstrem menewaskan lebih dari 832 ribu orang di seluruh dunia dengan total kerugian mencapai US$4,5 triliun atau sekitar Rp81.000 triliun (kurs Rp18.000/US$), hampir setara dengan nilai ekonomi Inggris.

Laporan Climate Risk Index 2026 dari Germanwatch menunjukkan fenomena menarik yakni bencana yang paling banyak menewaskan manusia belum tentu menjadi penyebab kerugian ekonomi terbesar.

Gelombang panas tercatat sebagai pembunuh paling mematikan dengan 278.395 korban jiwa selama tiga dekade terakhir, tetapi hanya menyebabkan kerugian ekonomi sekitar US$32,9 miliar karena minim kerusakan fisik pada infrastruktur.

Sebaliknya, badai menjadi bencana dengan dampak ekonomi terbesar, menghanguskan aset senilai US$2,6 triliun sekaligus merenggut 274.750 nyawa.

Pembunuh Senyap Tanpa Jejak Kerusakan

Gelombang panas tercatat menempati posisi puncak sebagai bahaya cuaca paling mematikan di dunia. Bencana iklim ini bertanggung jawab atas 278.395 kematian secara global selama tiga dekade terakhir.

Suhu panas yang ekstrim mampu memperburuk kondisi kesehatan individu secara drastis, sementara serangan panas dapat berakibat fatal secara instan.

Meski memiliki tingkat fatalitas tertinggi, gelombang panas justru mencatatkan kerugian ekonomi paling rendah, yakni sebesar US$ 32,9 miliar. Hal ini menekankan statusnya sebagai "silent predator" yang menelan korban jiwa secara senyap tanpa merusak infrastruktur.

Para pengunjung berdiri sambil memandang cakrawala pusat kota yang tertutup asap kebakaran hutan selama gelombang panas, seperti yang terlihat dari Kepulauan Toronto di Danau Ontario, di Toronto, Ontario, Kanada, 15 Juli 2026. (REUTERS/Kyaw Soe Oo)Para pengunjung berdiri sambil memandang cakrawala pusat kota yang tertutup asap kebakaran hutan selama gelombang panas, seperti yang terlihat dari Kepulauan Toronto di Danau Ontario, di Toronto, Ontario, Kanada, 15 Juli 2026. (REUTERS/Kyaw Soe Oo) Foto: Para pengunjung berdiri sambil memandang cakrawala pusat kota yang tertutup asap kebakaran hutan selama gelombang panas, seperti yang terlihat dari Kepulauan Toronto di Danau Ontario, di Toronto, Ontario, Kanada, 15 Juli 2026. (REUTERS/Kyaw Soe Oo)



Dampaknya pun kerap terjadi di wilayah beriklim sejuk. Pada 2022, lebih dari 60 ribu orang di Eropa meninggal akibat cuaca panas ekstrim, menyusul tragedi serupa di Rusia pada 2010 yang menewaskan 56 ribu orang.

Badai Pemicu Kerugian Finansial Terbesar

Berada di posisi kedua, badai mengakibatkan 274.750 korban jiwa. Berbeda dengan gelombang panas, badai meninggalkan jejak kehancuran material yang sangat signifikan.

Kerugian ekonomi akibat badai menyentuh angka US$ 2,6 triliun, menjadikannya beban finansial terbesar dibandingkan seluruh bahaya cuaca lainnya.

Beberapa negara menanggung beban yang lebih berat akibat tingkat eksposur yang tinggi.

Sebagai contoh, Siklon Nargis di Myanmar pada tahun 2008 menewaskan lebih dari 138 ribu jiwa, sementara Badai Mitch di Honduras memicu kerugian material sebesar US$ 7 miliar dan merenggut 14 ribu nyawa.

Badai BaviBadai Bavi Foto: NASA



Bencana lain seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan menyusul dengan tingkat kerusakan dan korban jiwa yang juga tidak dapat diabaikan dampak turunannya.

Gelombang Panas Lebih Sering Terjadi

Gelombang panas ekstrem kini tak lagi menjadi fenomena langka. Dari Asia Selatan hingga Amerika Utara, suhu udara terus memecahkan rekor seiring laju perubahan iklim. Indonesia pun tak luput dari tren tersebut.

Sejumlah gelombang panas pernah tercatat di bumi.

Pada April 2024, suhu mencapai 44°C di Jaipur, India, dan 50°C di Shaheed Benazirabad, Pakistan, saat gelombang panas melanda Asia Selatan. Para ahli kini memperingatkan bahwa kondisi ini dengan cepat menjadi hal yang biasa di banyak bagian dunia.

Di tingkat nasional, negara-negara di seluruh dunia telah memecahkan rekor suhu panas hanya dalam enam tahun terakhir. Misalnya, Kamboja dan Myanmar mencatat suhu tertinggi baru pada April 2024, masing-masing sebesar 42,8°C dan 48,2°C. Pada 2022, Australia dan Uruguay menyamai rekor nasional mereka pada suhu 50,7°C dan 44,0°C, sementara Inggris memecahkan rekor suhu 40°C untuk pertama kalinya.

Pada 2021, salah satu tahun terpanas di dunia, Kanada mencatat suhu 49,6°C yang mengejutkan, menandai suhu nasional tertinggi ketiga di dunia selama periode ini. Pada musim panas yang sama, Italia melaporkan suhu 48,8°C di Syracuse, rekor Eropa yang kemudian dikonfirmasi oleh Organisasi Meteorologi Dunia.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular