MARKET DATA
Newsletter

IHSG Pesta 9 Hari Tanpa Henti, Semua Mata Kini Tertuju ke BI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 July 2026 06:20
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)
  • Pasar keuangan Tanah Air ditutup cerah, IHSG menguat tajam, rupiah menguat, meski pasar obligasi masih tertekan.
  •  Wall Street bangkiti ditopang saham teknologi
  • Pasar hari ini akan mencermati keputusan suku bunga BI hingga data ekonomi Jepang dan Inggris.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup cukup cerah pada perdagangan kemarin, Selasa (21/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tajam, rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun kembali naik tipis.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak dinamis pada perdagangan hari ini, Rabu (22/7/2026).

Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang diumumkan siang nanti.Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG ditutup melesat 1,74% ke level 6.340,02 pada perdagangan Selasa (21/7/2026).

Penguatan tersebut menunjukkan momentum IHSG masih cukup kuat. Indeks saham domestik bahkan berhasil memperpanjang reli menjadi sembilan hari perdagangan beruntun.

Sepanjang perdagangan, sebanyak 421 saham menguat, 205 saham stagnan, dan hanya 169 saham melemah.

Aktivitas transaksi juga terlihat ramai. Volume perdagangan mencapai 51,06 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp21,50 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,94 juta kali.

Investor asing pun tercatat kembali melakukan net buy dengan total Rp31,36 miliar.

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor kompak bergerak di zona hijau. Sektor utilitas memimpin penguatan dengan kenaikan 4,68%, disusul properti 3,97%, barang baku 3,53%, dan energi 2,95%.

Sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang melemah pada perdagangan kemarin.

Adapun emiten penggerak utama IHSG adalah Amman Mineral Internasional (AMMN) dengan kontribusi 11,82 indeks poin, disusul Dian Swastatika Sentosa (DSSA) sebesar 10,74 indeks poin, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 7,31 indeks poin.

Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga berhasil ditutup perkasa terhadap dolar AS pada perdagangan kemarin.

Melansir Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.875/US$, menguat 0,28% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.930/US$.

Penguatan rupiah sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Mata uang Garuda dibuka menguat tipis 0,06% ke level Rp17.920/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp17.860-Rp17.945/US$.

Pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika dolar AS. Indeks dolar AS melemah tipis pada sore hari, meskipun posisinya masih berada dekat level 101.

Meski begitu, harapan meredanya konflik masih terbuka setelah Teheran menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari dari para mediator. Kabar tersebut ikut meredakan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman dan memberi ruang bagi rupiah untuk menguat.

Sementara itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun kembali bergerak naik pada perdagangan Selasa kemarin.

Yield SBN 10 tahun naik 0,10% ke level 7,297%.Kenaikan yield menunjukkan harga SBN sedang mengalami tekanan. Di pasar obligasi, yield bergerak berlawanan arah dengan harga. Saat yield naik, harga obligasi cenderung turun.

Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Penguatan didorong reli saham semikonduktor yang mengalihkan perhatian investor dari konflik Timur Tengah dan perang tarif. Investor kini menanti laporan keuangan raksasa teknologi yang dinilai akan menjadi penentu arah tren kecerdasan buatan (AI).

Indeks S&P 500 naik 0,86% ke 7.507,32, Nasdaq melonjak 1,26% ke 25.829,61, sementara Dow Jones menguat 0,74% ke 52.223,72. Sektor teknologi menjadi motor penguatan.

Kenaikan saham-saham semikonduktor yang sebelumnya sempat tertekan menjadi penopang utama penguatan indeks-indeks saham AS.

\Indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) juga melonjak tajam untuk hari kedua berturut-turut, setelah pada penutupan Jumat lalu berada lebih dari 20% di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada akhir Juni.

 

"Investor benar-benar kembali membeli saham semikonduktor menjelang musim laporan keuangan karena mereka takut ketinggalan (fear of missing out/FOMO)," kata Lindsey Bell, Chief Investment Strategist di 248 Ventures, Charlotte, North Carolina, dikutip dari Reuters.

Dia menambahkan ada kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan ini akan melaporkan laba yang jauh melampaui ekspektasi sekaligus menaikkan proyeksi bisnisnya, sementara kepemilikan investor terhadap saham-saham tersebut kini lebih rendah dibandingkan sebelum koreksi terakhir.

Namun, Bell mengingatkan bahwa ketika harga saham sudah melonjak tajam sebelum laporan keuangan dirilis, ruang kenaikan lebih lanjut setelah laporan keluar menjadi semakin terbatas.

"Angka-angka kinerjanya kemungkinan akan sangat bagus, tetapi harga sahamnya juga sudah mencerminkan ekspektasi yang nyaris sempurna," ujarnya.

Indeks saham chip sempat melemah pekan lalu setelah investor mulai khawatir terhadap valuasi yang terlalu tinggi dan besarnya investasi yang digelontorkan untuk pengembangan AI.

Meski demikian, setelah koreksi tersebut, indeks ini masih mencatat kenaikan hampir 75% sepanjang tahun berjalan (year-to-date).

 

Berdasarkan data awal, indeks S&P 500 naik 64,04 poin atau 0,86% menjadi 7.507,32. Nasdaq Composite melonjak 321,53 poin atau 1,26% ke 25.829,61. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 384,46 poin atau 0,74% menjadi 52.223,72.

Dari 11 sektor utama dalam indeks acuan S&P 500, sektor teknologi informasi mencatat penguatan terbesar selama sesi perdagangan, sedangkan sektor barang kebutuhan pokok (consumer staples) menjadi sektor dengan kinerja terlemah.

Investor saham tampaknya mengabaikan pengumuman Presiden AS Donald Trump pada Senin mengenai penerapan tarif impor sebesar 50% terhadap berbagai produk asal Kanada.

Investor juga tidak terlalu memperhatikan meningkatnya ketegangan geopolitik, meskipun harga minyak ditutup naik sekitar 2% setelah menyentuh level tertinggi dalam lima pekan.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi ke Asia berbalik arah di Laut Merah menyusul ancaman kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman untuk memberlakukan blokade terhadap pelayaran komersial di kawasan tersebut. Trump mengatakan Amerika Serikat akan mengambil tindakan jika ancaman Houthi benar-benar direalisasikan.

"Investor melihat perang ini hanya bersifat sementara karena ada dua hal yang kami ketahui. Pertama, harga minyak US$100 per barel merupakan titik sensitif bagi Trump. Kedua, pemilu sela (midterm election) juga sudah semakin dekat," kata Bell.

Sementara itu, perhatian investor pada pekan ini akan beralih ke laporan keuangan Alphabet, serta produsen chip Intel dan Texas Instruments.

 

Di antara saham-saham individual, saham 3M melonjak setelah perusahaan industri tersebut menaikkan proyeksi laba setahun penuh.

Saham Hasbro juga melesat setelah perusahaan meningkatkan proyeksi pendapatan dan laba tahunan, didorong optimisme terhadap permintaan produk gim digital dan permainan kartu Magic: The Gathering.

Sebaliknya, saham Danaher anjlok setelah perusahaan ilmu hayati tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan inti dan melaporkan pendapatan bisnis bioteknologinya yang lebih rendah dari perkiraan pasar.

Saham MSCI juga merosot setelah penyedia indeks tersebut menaikkan proyeksi beban operasional setahun penuh meskipun pendapatan kuartalannya melampaui ekspektasi analis. Sementara itu, saham Genuine Parts turun setelah distributor suku cadang otomotif tersebut memangkas proyeksi laba untuk sepanjang tahun.

Memasuki perdagangan hari ketiga pekan ini, pasar keuangan Indonesia ada di zona positif di tengah momentum penguatan IHSG dan rupiah.

Meski tengah di zona positif, pelaku pasar keuangan Tanah Air masih akan mencermati sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.

Mulai dari keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan diumumkan pada siang nanti. Serta juga data dari eksternal yakni tingkat pengangguran Inggris dan neraca perdagangan Jepang.

IHSG Menguat 9 Hari Beruntun

Pergerakan IHSG sedang menunjukkan momentum penguatan yang cukup solid.

Terlihat dari penutupan perdagangan kemarin, dimana IHSG menguat 1,74% hingga tembus di atas level 6.300. Kenaikan ini sekaligus membuat IHSG berhasil menguat dalam sembilan hari perdagangan beruntun.

Terakhir kali IHSG mampu naik sembilan hari beruntun terjadi pada Juli 2025. Saat itu, laju penguatan bahkan berlanjut hingga 11 hari perdagangan beruntun.

Selain menguat sembilan hari beruntun, IHSG juga tercatat melesat dalam 14 dari 15 hari perdagangan terakhir. Sejak awal Juli 2026, IHSG hanya sekali ditutup melemah, yakni pada 8 Juli 2026.

Sejak terakhir melemah pada 8 Juli, IHSG sudah menguat 7,93%. Sementara sepanjang Juli berjalan atau month-to-date (MtD), IHSG telah melesat 12,35%.

Kenaikan IHSG kali ini juga mulai ditemani masuknya dana asing. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,99 triliun sejak 16 Juli hingga 21 Juli 2026.

Aksi beli asing tersebut terlihat sejak 16 Juli, ketika asing membukukan net buy Rp1,22 triliun. Setelah itu, asing kembali masuk sebesar Rp638,05 miliar pada 17 Juli, Rp96,72 miliar pada 20 Juli, dan Rp31,36 miliar pada 21 Juli.

Nilai transaksi harian juga mulai lebih ramai. Dalam tiga hari perdagangan terakhir, transaksi IHSG konsisten berada di atas Rp15 triliun per hari.

Setelah sempat mencatatkan nilai transaksi harian terkecilnya di sepanjang 2026 pada perdagangan 10 Juli lalu.

Masuknya dana asing dan naiknya nilai transaksi membuat penguatan IHSG kali ini terlihat lebih sehat dan kita harapkan mampu mempertahankan momentum penguatannya.

Menanti Keputusan Suku Bunga BI

BI akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur atau RDG BI periode Juli pada siang nanti. RDG tersebut sudah berlangsung sejak Selasa-Rabu (21-22 Juli 2026).

Berdasarkan polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi dan lembaga menunjukkan mayoritas responden memperkirakan BI Rate kembali naik.

Sebanyak delapan responden memproyeksikan BI Rate naik 25 basis poin (bps), dari 5,75% menjadi 6,00%. Sementara itu, enam responden lainnya memperkirakan suku bunga akan dipertahankan di level 5,75%.

Jika proyeksi mayoritas tersebut benar terjadi, kenaikan bulan ini akan menjadi pengetatan keempat BI sepanjang 2026. Sebelumnya, BI sudah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei hingga mencapai 5,75% pada Juni.

Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu alasan utama mengapa mayoritas ekonom memperkirakan BI masih akan menaikkan suku bunga.

"BI Rate diperkirakan naik 25 bps ke 6,00% untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah risiko geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah," ujar Ekonom CIMB Niaga Mika Martumpal kepada CNBC Indonesia.

Chief Economist Valbury Asia Futures Fikri C. Permana juga melihat kenaikan bunga masih dibutuhkan. Menurutnya, selain volatilitas rupiah, BI juga perlu mengantisipasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter global lebih lanjut.

"Faktornya adalah volatilitas rupiah yang masih cukup besar, ekspektasi kenaikan Fed Rate tahun ini yang makin besar, serta dorongan untuk meningkatkan daya tarik aset portofolio domestik," ujar Fikri.

Namun, tidak semua ekonom memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga pada bulan ini.

Sebagian ekonom menilai BI perlu memberi waktu agar kenaikan suku bunga sebesar 100 bps sejak Mei benar-benar bekerja terhadap pasar keuangan dan perekonomian.

Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menilai BI memang tetap perlu fokus menjaga rupiah dan stabilitas keuangan di tengah ketegangan geopolitik serta pengetatan moneter global. Namun, tekanan tersebut belum tentu harus langsung direspons dengan kenaikan bunga pada Juli, terlebih bunga kredit mulai meningkat dan aktivitas manufaktur masih melemah.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede juga menilai level BI Rate sebesar 5,75% sudah cukup ketat. Karena itu, keputusan menahan bunga dengan komunikasi yang tegas dinilai lebih tepat selama pergerakan rupiah masih dapat dikendalikan.

"Skenario dasar RDG Juli adalah BI menahan BI Rate di 5,75% dengan pesan kebijakan yang tetap waspada. Kenaikan tambahan hanya diperlukan jika tekanan rupiah dan arus modal memburuk secara nyata," ujar Josua.

Tingkat Pengangguran Inggris

Pasar tenaga kerja Inggris masih terlihat relatif stabil, tetapi sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Tingkat pengangguran Inggris tercatat sebesar 4,9% dalam tiga bulan hingga Mei 2026. Angka tersebut naik 0,2 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun secara kuartalan, tingkat pengangguran justru turun tipis 0,1 poin persentase dari tiga bulan sebelumnya.

Data lain dari HM Revenue and Customs menunjukkan jumlah pekerja yang tercatat dalam payroll perusahaan turun 85.000 orang atau 0,3% pada periode Mei 2025 hingga Mei 2026.

Meski begitu, secara bulanan jumlah payroll relatif stabil. Pada periode April hingga Mei 2026, jumlah pekerja naik tipis 3.000 orang.

Tekanan lebih jelas terlihat dari jumlah lowongan kerja yang terus menurun. Pada kuartal April hingga Juni, jumlah lowongan turun 7.000 menjadi sekitar 712.000, atau melemah 0,9%.

ONS menyebut penurunan lowongan terutama terjadi pada usaha kecil. Pelaku usaha kecil menyebut biaya tenaga kerja dan biaya operasional sebagai alasan untuk tidak menambah pekerja.

RUU PFII Jadi UU, Target Tahun Ini Mulai Beroperasi

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (RUU PFII) menjadi undang-undang.

Pengesahan dilakukan dalam Rapat Paripurna DPR ke-26 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026, Selasa (21/7/2026). Rapat tersebut dihadiri 291 anggota DPR dari seluruh fraksi.

Ketua DPR Puan Maharani selaku pemimpin rapat langsung mengetuk palu setelah seluruh fraksi menyatakan setuju.

"Apakah Rancangan Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia dapat disetujui untuk disahkan menjadi undang-undang?" tanya Puan dan langsung direspons setuju oleh peserta rapat paripurna.

RUU PFII sebelumnya telah disepakati di tingkat I oleh Komisi XI DPR bersama pemerintah pada Senin (20/7/2026). Penyusunan draf dilakukan Panitia Kerja (Panja) RUU PFII sejak awal Juli 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan PFII bisa mulai beroperasi pada 2026. Namun, pemerintah masih perlu merampungkan aturan turunan, termasuk peraturan pemerintah atau PP.

"Kita lihat nanti kan ada PP-nya segala macam belum disusunkan. Kita harapkan sih, kita coba secepatnya. Kita bisa usahakan tahun ini," ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).

Purbaya menilai ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk menghadirkan pusat keuangan internasional. Menurutnya, kebutuhan terhadap pusat finansial yang kompetitif cenderung meningkat saat kondisi global penuh gejolak.

Meski begitu, pemerintah belum menetapkan lokasi PFII. Keputusan akhir akan ditentukan berdasarkan proposal terbaik yang masuk ke pemerintah.

Defisit APBN Semester I Tembus Rp196,5 Triliun

Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN pada Semester I-2026 mencapai Rp196,5 triliun. Angka tersebut setara dengan 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit ini berasal dari posisi pendapatan negara sebesar Rp1.459 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp1.656,6 triliun.

"Di sisi lain kesehatan fiskal terjaga. Defisit 0,76% dan keseimbangan primer Rp85,1 triliun," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rilis APBN KiTa, Selasa (21/7/2026).

Purbaya menegaskan kondisi fiskal masih berada dalam batas aman dan terkendali. Pemerintah juga masih optimistis defisit APBN tetap terjaga hingga akhir tahun.

Keyakinan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan negara yang masih kuat. Pada Semester I-2026, pendapatan negara tumbuh 21,4% secara tahunan (yoy).

"Dengan pendapatan tumbuh kuat dan belanja produktif, defisit Rp196,5 triliun," papar Purbaya.

Di saat yang sama, belanja negara akan tetap dioptimalkan untuk mendukung program prioritas pemerintah. Purbaya juga memastikan defisit APBN 2026 akan tetap dijaga di bawah batas 3% terhadap PDB.

Bagi pasar, realisasi defisit ini menjadi penting karena menggambarkan kondisi fiskal Indonesia masih relatif terkendali. Defisit yang tetap rendah dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar SBN, terutama di tengah tekanan suku bunga global dan volatilitas rupiah.

Pemerintah Siap Terbitkan Panda Bond

Pemerintah akan menerbitkan obligasi berdenominasi yuan China atau panda bond pada Kamis (23/7/2026).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah menargetkan penghimpunan dana dari penerbitan panda bond sebesar US$1 miliar.

"Ini penting sekali karena China pasar yang besar untuk pasar China. Jelas market mereka amat menjanjikan," ujar Purbaya.

Panda bond merupakan obligasi yang diterbitkan entitas asing di pasar domestik China dengan menggunakan mata uang yuan atau renminbi.

Purbaya menilai instrumen ini berpeluang diminati investor China. Salah satu alasannya, lembaga pemeringkat asal China, Lianhe Credit Rating, memberikan peringkat AAA/Stable untuk penerbitan tersebut.

"Di China peringkat utang kita top atas. Rata kanan," tegasnya.

Penerbitan panda bond ini menjadi penting karena membuka sumber pembiayaan baru bagi pemerintah di luar pasar global berbasis dolar AS. Bagi pasar, langkah ini juga menunjukkan upaya pemerintah memperluas basis investor dan memanfaatkan pasar keuangan China yang besar.

Menanti Neraca Perdagangan Jepang

Jepang dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Juni 2026 pada Rabu pagi ini. Data ini akan menjadi perhatian pasar Asia, terutama karena berpotensi mempengaruhi pergerakan yen dan indeks saham Jepang.

Konsensus pasar memperkirakan Jepang mencatat defisit perdagangan sebesar JPY120 miliar pada Juni 2026. Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan defisit JPY378,7 miliar pada Mei 2026.

Namun, perkiraan dari Trading Economics justru menunjukkan defisit perdagangan Jepang dapat melebar hingga JPY700 miliar. Perbedaan proyeksi yang cukup besar ini membuka ruang volatilitas pada yen dan pasar saham Jepang.

Pada Mei 2026, ekspor Jepang tumbuh 17% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak November 2022, terutama ditopang kuatnya permintaan global terhadap semikonduktor.

Impor Jepang juga meningkat 12,5%, sejalan dengan penguatan permintaan domestik setelah stimulus pemerintah pada akhir 2025.

Jika neraca perdagangan Jepang lebih baik dari perkiraan, yen berpeluang mendapat tenaga karena data tersebut menunjukkan sektor eksternal Jepang masih cukup kuat.

Data yang solid juga dapat memperbesar ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) memiliki ruang lebih besar untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.

Sebaliknya, defisit yang lebih lebar dari perkiraan dapat kembali menekan yen. Kondisi tersebut juga bisa memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan impor, terutama di tengah harga energi global yang masih tinggi.

Perang Masih Panas


Dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi ke Asia berbalik arah di Laut Merah pada Selasa setelah kelompok Houthi Yaman mengancam akan menyerang kapal yang mengangkut minyak Saudi. Ancaman itu memicu gangguan baru terhadap jalur pelayaran energi dunia di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi dan memperingatkan akan menyerang kapal yang memuat atau membongkar minyak Saudi. Dampaknya mulai terlihat ketika dua tanker yang berangkat dari Pelabuhan Yanbu menuju China dan India memutar balik menuju Terusan Suez, bukan melintasi Selat Bab el-Mandeb.

Di saat yang sama, perang terus memanas. Militer AS kembali menggempur target-target Iran, sementara Iran melancarkan serangan ke fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Sebuah kapal tanker juga dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz, memaksa awak kapal dievakuasi.

Penutupan Selat Hormuz membuat Laut Merah menjadi jalur alternatif utama ekspor minyak Saudi. Namun, ancaman Houthi terhadap rute tersebut meningkatkan risiko terganggunya pasokan minyak global. Harga minyak Brent pun naik lebih dari 2% dan kembali bertahan di atas US$91 per barel.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

    • Presiden memimpin Upacara Prasetya Perwira TNI dan Pelantikan Perwira Polri Tahun 2026 di halaman Istana Merdeka, Jakarta Pusat

    • CBRE Indonesia Media Briefing yang akan diadakan di World Trade Centre 3, Jakarta Selatan

    • Rapat Koordinasi Terbatas Menteri Koordinator Bidang Pangan dalam rangka Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup di ruang rapat utama Kemenko Pangan, Jakarta Pusat

    • Press Conference Kinerja PT SMF (Persero) di Sini Lagi Coffee, Jakarta Selatan

    • Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Bulan Juli 2026 di ruang konferensi pers Gedung BI, Jakarta Pusat

      Diskusi Kebangsaan antara Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) Republik Indonesia bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI)

    • Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan RDPU Komisi III DPR RI dengan Kapolda Sulawesi Selatan, Kapolres Way Kanan Lampung, Sdr. Jalaludin Maulana beserta Kuasa Hukum,dan Sdri. Supiah

  • Inflasi Inggris
  • Neraca dagang Jepang

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

- Pemberitahuan RUPS Rencana 31-12-2025 PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA)

- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT FAP Agri Tbk (FAPA)

- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA)

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.


(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article 3 Kekuatan Berlawanan Bayangi RI: Review MSCI, Perang & Dampak BI Rate


Most Popular
Features