Harga Kopi hingga Teh Kini Ditentukan Langit, Sulit Dijinakkan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar kopi, kakao, dan teh memasuki fase yang semakin sensitif terhadap gangguan cuaca.
Kekeringan, hujan ekstrem, embun beku, hingga serangan hama kini menjadi faktor utama yang menggerakkan harga ketiga komoditas tersebut, jauh melampaui pengaruh kondisi makroekonomi.
Badan Pangan Dunia (FAO) menghitung lebih dari 90% pergerakan harga jangka pendek berasal dari perubahan kondisi pasokan dan permintaan.
Ekspektasi pelaku pasar terhadap panen berikutnya ikut memperbesar volatilitas sebelum perubahan produksi benar-benar terjadi. Artinya, harga dapat melonjak atau turun hanya karena perkiraan hasil panen di beberapa negara produsen utama.
Kondisi tersebut muncul karena produksi dunia sangat terkonsentrasi. Brasil dan Vietnam menyumbang hampir separuh produksi kopi global. Pantai Gading dan Ghana menghasilkan lebih dari dua pertiga pasokan kakao dunia. Sementara lebih dari separuh produksi teh berasal dari China. Ketika cuaca bermasalah di satu kawasan, dampaknya cepat menjalar ke pasar internasional.
Kopi Masih Mahal, Tetapi Risiko Mulai Berkurang
Harga kopi Arabika memang masih berada di level tinggi dibandingkan rata-rata historis. Trading Economics mencatat harga mencapai 324,55 sen AS per pon pada 20 Juli atau naik lebih dari 21% dalam sebulan.
Berdasarkan data Refinitiv, kontrak kopi Arabika (KCc1) ditutup di level 334,40 sen AS per pon pada 20 Juli 2026. Harga tersebut memang lebih tinggi dibandingkan penutupan 17 Juli di 328,45 sen AS per pon, tetapi masih berada di bawah posisi 363,95 sen AS per pon yang tercatat pada 6 Juli.
Koreksi ini mencerminkan mulai membaiknya ekspektasi pasokan seiring percepatan panen di Brasil. Namun ruang penurunan harga masih terbatas karena stok kopi global tetap ketat dan pelaku pasar terus memantau kualitas biji setelah hujan lebat menghambat proses panen di sejumlah wilayah produsen.
Â
Freshly harvested arabica coffee cherries are seen in a bucket at a plantation near Pangalengan, West Java, Indonesia May 9, 2018. Picture taken May 9, 2018. REUTERS/Darren Whiteside Foto: REUTERS/Darren Whiteside |
Â
Namun arah pasar mulai berubah. Panen di Brasil, produsen kopi terbesar dunia, terus berlangsung meski tertinggal dibandingkan tahun lalu akibat hujan deras sepanjang Juni hingga awal Juli. Keterlambatan tersebut sempat memicu kekhawatiran terhadap kualitas biji kopi sehingga harga terdorong naik.
Saat ini fokus pasar bergeser. Volume panen mulai bertambah sehingga pasokan jangka pendek diperkirakan meningkat. Cecafé bahkan mencatat ekspor kopi hijau Brasil pada Juni naik 14,4% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 2,64 juta kantong. Pemerintah Amerika Serikat yang mengecualikan kopi instan Brasil dari tarif impor baru sebesar 25% turut mengurangi tekanan terhadap eksportir.
Meski demikian, ruang penurunan harga masih terbatas. Stok kopi dunia tetap rendah sehingga setiap gangguan cuaca berikutnya masih dapat memicu lonjakan harga baru.
Kakao Keluar dari Krisis
Pasar kakao bergerak berbeda. Harga memang naik hampir 20% selama sebulan terakhir, tetapi masih lebih rendah sekitar 32% dibandingkan tahun lalu setelah sempat mencetak rekor sepanjang masa pada akhir 2024.
Perhatian pasar kini bergeser dari pasokan menuju permintaan.
Data penggilingan kakao Eropa pada kuartal II turun 4,6% menjadi 316.366 ton, level terendah sejak 2020. Eropa merupakan pusat industri pengolahan kakao terbesar dunia sehingga perlambatan tersebut memberi sinyal konsumsi cokelat mulai melemah.
Buah Kakao. (Dok. Freepik) Foto: Buah Kakao. (Dok. Freepik) |
Â
Sebaliknya, Asia mencatat pertumbuhan pengolahan sebesar 25,1%, sedangkan Amerika Utara meningkat 7,7%. Kenaikan itu belum mampu menutup pelemahan permintaan dari Eropa.
Dari sisi pasokan, kondisi sudah lebih baik dibanding masa krisis 2024. Persediaan kakao yang dipantau ICE naik menjadi sekitar 3,23 juta kantong, tertinggi dalam hampir dua tahun. Stok yang lebih besar menjadi bantalan apabila produksi Afrika Barat kembali terganggu.
Di pasar domestik, harga kakao Indonesia juga masih bergerak sangat fluktuatif. Berdasarkan data Refinitiv, harga kakao Makassar untuk kontrak terdekat (CCUP-N1 ICE) ditutup di level 4.438,05 pada 20 Juli 2026. Posisi tersebut memang lebih tinggi dibandingkan 17 Juli yang sebesar 4.292,70, tetapi masih jauh di bawah level 5.221,75 yang sempat tercatat pada 10 Juli.
Pasar kakao Indonesia masih mengikuti dinamika global, meski dipengaruhi pula oleh kondisi pasokan dalam negeri dan aktivitas ekspor. Selama harga internasional masih sensitif terhadap perkembangan cuaca di Afrika Barat dan perubahan prospek produksi global, volatilitas harga biji kakao Indonesia diperkirakan tetap tinggi.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut menciptakan peluang sekaligus tantangan. Harga global yang masih berada jauh di atas rata-rata historis dapat menjaga nilai ekspor kakao, tetapi fluktuasi yang tajam menyulitkan pelaku industri dalam mengelola pembelian bahan baku maupun menyusun kontrak penjualan jangka panjang.
Teh Paling Stabil
Di antara ketiga komoditas tersebut, teh menjadi pasar yang paling tenang.
Harga naik sekitar 13% dibandingkan tahun lalu dan hampir 10% dalam sebulan terakhir. Kenaikan tersebut jauh lebih moderat dibanding kopi maupun kakao.
FAO mencatat lonjakan harga teh selama pandemi terutama dipicu peningkatan konsumsi rumah tangga serta persepsi manfaat kesehatan. Setelah pandemi berlalu, permintaan tetap bertahan sehingga harga bergerak lebih stabil dibanding dua komoditas lainnya.
Prospek hingga beberapa kuartal mendatang masih bergantung pada kondisi iklim.
Hari yang cerah para petani mulai bekerja memetik daun teh di kawasan Pasir Jambu, Bandung, Jawa Barat. Teh merupakan satu dari 15 komoditas utama dan unggulan perkebunan Indonesia.Jawa Barat merupakan produsen teh terbesar di Indonesia. Sekitar 70% produksi teh nasional berasal dari provinsi ini.Jawa Barat menjadi lokasi pengembangan perkebunan teh karena daerahnya yang subur, udaranya sejuk, dan topografinya yang bergunung-gunung yang sangat cocok untuk tanaman teh.Kebun teh dikawasan ini tak hanya dikelola badan usahan namun terdapat juga kebun teh rakyat. Kebun teh rakyat merupakan budidaya yang diusahakan secara mandiri oleh masyarakat tanpa berbentuk badan usaha. Setiap pagi para petani sudah sibuk beraktivitas untuk memetik dan dikumpulkan di wadah yang dipikul sambil menggunting daun-daun teh terbaik di perkebunan tersebut.Menurut mereka dalam sehari mereka dapat memetik sebanyak 1 kwintal dari perkebunan teh rakyat ini dan dibawa ke pabrik untuk diolahDisela sela aktivitas memetiknya, para petani tersebut berkumpul untuk beristirahat diselingi canda gurau untuk menghilangkan letihnya.Produksi teh dalam negeri beberapa tahun terakhir cenderung melandai karena penyusutan areal perkebunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi daun teh kering dalam negeri bergerak fluktuatif dalam 5 tahun terakhir. Produksi tertinggi daun teh kering sebanyak 154.369 ton yang terjadi pada 2014.Dalam kurun 18 tahun terakhir, jumlah ekspor teh berkurang lebih dari separuh. Dari 105.581 ton pada 2000 menjadi 49.038 ton pada 2018.Peringkat Indonesia sebagai negara pengekspor teh turun cukup banyak dari urutan ke-5 di dunia pada 2004 menjadi peringkat ke-12 pada 2018.(CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) Foto: Perkebunan teh di Kawasan Pasir Jambu, Bandung, Jawa Barat (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) |
FAO memperkirakan volatilitas belum akan mereda selama produksi dunia masih terkonsentrasi pada sedikit negara produsen dan sebagian besar diusahakan oleh petani kecil. Perubahan cuaca di Brasil, Vietnam, Pantai Gading maupun Ghana masih berpotensi menggerakkan harga global dalam waktu singkat.
Organisasi tersebut merekomendasikan investasi pada pertanian tahan iklim, pengendalian hama dan penyakit, peningkatan transparansi data produksi, stok, serta perdagangan. Langkah tersebut dinilai penting untuk meredam gejolak harga sekaligus menjaga pendapatan jutaan petani yang menggantungkan hidup pada kopi, kakao, dan teh.
Untuk pasar, arahnya mulai terlihat. Kopi berpeluang mengalami koreksi terbatas jika panen Brasil terus membaik.
Kakao kemungkinan bergerak dalam rentang yang lebih sempit karena stok global sudah pulih, meski ancaman cuaca Afrika Barat tetap menjadi risiko utama musim tanam 2026/2027. Sementara itu, teh diperkirakan menjadi komoditas dengan pergerakan harga paling stabil selama tidak terjadi gangguan cuaca besar di negara-negara produsen Asia.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google


