MARKET DATA

IHSG Bangkit Kencang! Asing Tinggalkan Korea Cs, Borong Saham RI?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
21 July 2026 14:40
Ilustrasi berdoa dengan latar belakang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Ilustrasi berdoa dengan latar belakang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Indonesia mulai memperlihatkan tanda-tanda perubahan arah ke zona positif setelah mengalami tekanan berat sejak awal tahun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau naik ke level 6.319,85 pada penutupan sesi pertama.

Dibandingkan posisi 5.643,19 pada akhir Juni, IHSG telah melonjak 11,99% sepanjang Juli hingga sesi pertama hari ini, Selasa (21/7/2026). Kenaikan tersebut membawa indeks menjauh dari titik tertekannya dan kembali ke area di atas 6.300.

Penguatan IHSG semakin menarik karena berlangsung saat saham-saham berbasis artificial intelligence atau AI di Korea Selatan dan Taiwan mengalami koreksi tajam.

Kondisi tersebut memperkuat dugaan adanya rotasi modal global menuju pasar yang sebelumnya tertinggal, memiliki valuasi murah, serta belum menjadi posisi padat investor.

Foreign Flow Berbalik Positif

Perubahan sentimen paling jelas terlihat pada pergerakan dana investor asing. Sepanjang 1-15 Juli, asing masih membukukan jual bersih sebesar Rp3,97 triliun. Namun sejak 16 Juli, arah transaksi berubah menjadi pembelian bersih.

Dalam tiga perdagangan terakhir sampai 20 Juli, investor asing mencatat net buy kumulatif Rp1,96 triliun. Aliran tersebut telah menghapus sekitar 49% tekanan jual asing yang terjadi selama sebelas perdagangan pertama Juli.

Pembalikan ini merupakan sinyal positif karena asing tidak lagi hanya mengurangi penjualan, tetapi mulai menambah posisi pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Pada 16 Juli, pembelian bersih asing mencapai Rp1,22 triliun, disusul Rp638,05 miliar pada 17 Juli dan Rp96,72 miliar pada 20 Juli. Meskipun nominal hariannya mengecil, keberhasilan mempertahankan net buy selama tiga hari menunjukkan perubahan perilaku dibandingkan periode sebelumnya.

Kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai masuknya dana asing secara struktural. Namun, perubahan dari net sell besar menjadi tiga hari net buy beruntun menjadi indikasi awal bahwa investor global mulai menilai risiko penurunan saham Indonesia semakin terbatas.

Aktivitas Transaksi Ikut Melonjak

Sinyal positif tidak hanya berasal dari arah foreign flow. Volume dan nilai transaksi juga meningkat ketika asing mulai berbalik membeli.

Rata-rata volume perdagangan pada 16-20 Juli mencapai 26,95 miliar saham per hari, naik 25,4% dibandingkan rata-rata 21,49 miliar saham pada 1-15 Juli. Sementara itu, rata-rata nilai transaksi melonjak 38,8% menjadi Rp15,59 triliun per hari.

Nilai transaksi yang tumbuh lebih cepat daripada volume memberikan indikasi bahwa aktivitas perdagangan mulai bergeser menuju saham dengan harga dan kapitalisasi lebih besar. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)  dan saham-saham likuid lainnya.

Pada 20 Juli, penguatan pasar juga tergolong luas. Sebanyak 399 saham ditutup menguat, sedangkan 210 saham terkoreksi. Sepuluh dari sebelas sektor berada di zona hijau dan kapitalisasi pasar BEI mencapai sekitar Rp10.860 triliun.

Lebarnya partisipasi saham menunjukkan reli IHSG tidak sepenuhnya bergantung pada satu atau dua emiten. Hal ini meningkatkan kualitas kenaikan dan memperlihatkan bahwa optimisme mulai menyebar ke berbagai kelompok saham.

Rotasi dari Saham AI Mulai Terlihat di Pasar Global

Momentum kebangkitan IHSG ditopang pasar teknologi Asia mengalami tekanan.

Sepanjang Juli, pasar saham Korea Selatan turun sekitar 23%, sedangkan Taiwan melemah sekitar 8% setelah sebelumnya mencatat lonjakan besar berkat saham semikonduktor dan AI.

Pada saat bersamaan, IHSG justru naik lebih dari 10%. Perbedaan arah ini memperkuat narasi rotasi global dari pasar yang valuasinya sudah tinggi menuju pasar laggard atau tertinggal seperti Indonesia.

Investor global tidak harus langsung menjadi bullish terhadap seluruh fundamental Indonesia untuk mulai membeli sahamnya. Cukup dengan mengurangi posisi pada pasar AI yang terlalu padat dan memindahkan sebagian dana ke negara dengan valuasi murah, Indonesia sudah dapat menerima aliran modal yang cukup untuk menggerakkan saham-saham besar.

Valuasi Murah Menjadi Daya Tarik Utama

Pada saat ini IHSG diperdagangkan pada 9,40 kali forward price-to-earnings ratio ketika indeks berada di sekitar 6.231. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata sepuluh tahun sebesar 14,8 kali. Meskipun sudah mengalami rebound, valuasi tersebut masih sekitar 36% lebih rendah daripada rata-rata historis.

Diskon valuasi membuat rasio risiko dan potensi keuntungan Indonesia mulai terlihat menarik, terutama bagi investor yang sebelumnya tidak memiliki posisi besar di pasar ini.

Kembalinya S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada BBB/A-2 dengan prospek stabil juga mengurangi risiko langsung terhadap valuasi. Namun, murahnya IHSG tetap harus dipandang sebagai kompensasi atas ketidakpastian rupiah, fiskal, suku bunga dan persoalan transparansi pasar.

Rupiah dan SBN Belum Sepenuhnya Mengikuti

Walaupun kondisi pasar saham membaik, konfirmasi dari pasar valuta asing dan obligasi masih terbatas.

Melansir data Refintiv, Rupiah terpantau dalam tren menguat 0,22% ke posisi Rp17.890/US$ pada Selasa (21/7/2026) pukul 12.05 WIB. Dibandingkan akhir Juni, rupiah melemah sekitar 0,08%. Dengan demikian, reli saham belum diikuti penguatan mata uang domestik.

Yield SBN tenor 10 tahun juga naik dari 7,167% pada akhir Juni menjadi sekitar 7,297% pada Selasa (21/7/2026) pukul 12.05 WIB. Kenaikan yield mengindikasikan harga obligasi masih tertekan dan investor belum melakukan pembelian serentak pada seluruh kelas aset Indonesia.

Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa rebound saat ini terutama digerakkan oleh valuasi saham dan rotasi regional, belum oleh perubahan menyeluruh terhadap persepsi risiko Indonesia.

Kondisi ini bukan berarti reli IHSG tidak sehat. Namun, penguatan rupiah dan penurunan yield SBN diperlukan agar pemulihan pasar berkembang dari technical rebound menjadi structural re-rating.

Pasar Reguler Masih Perlu Diperhatikan

Komposisi foreign flow juga memberikan sinyal yang bercampur. Pada pekan 13-17 Juli, asing membukukan net buy Rp441,42 miliar pada seluruh pasar. Namun pada pasar reguler, asing masih mencatat net sell Rp449,98 miliar.

Perbedaan tersebut menunjukkan sebagian transaksi asing dilakukan melalui pasar negosiasi atau transaksi blok.

Meski demikian, net buy reguler sebesar Rp725,11 miliar pada 17 Juli memperlihatkan bahwa pembelian melalui order book mulai muncul pada akhir pekan.

Tren foreign baru dapat dinilai semakin kuat apabila net buy pasar reguler bertahan selama beberapa perdagangan berikutnya, bukan hanya muncul dalam satu atau dua sesi.

Enam IPO Juli Terbelah, PRDL Paling Moncer hingga Sesi I

Gelombang IPO Juli 2026 memperlihatkan bahwa minat mengambil risiko di pasar saham Indonesia mulai hidup, tetapi belum merata.

Hingga penutupan sesi I Selasa (21/7/2026), empat dari enam emiten anyar masih diperdagangkan di atas harga penawaran, sedangkan JELI dan EMMI telah jatuh ke bawah harga IPO.

PRDL menjadi bintang utama setelah mencetak lima kali ARA secara beruntun dan masih memberikan keuntungan 155% dari harga penawaran. RANS menempati posisi berikutnya dengan kenaikan 37,65%, disusul BACH sebesar 21,04% dan JECX 6,80%. Sebaliknya, keuntungan awal JELI habis setelah saham tersebut berbalik dari tiga kali ARA menjadi tiga kali ARB.

Secara agregat, enam saham tersebut membukukan 13 kali ARA dan empat kali ARB. Namun, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan seluruh IPO sedang kuat.

Sebanyak lima ARA berasal dari PRDL, sedangkan tiga ARA JELI kemudian dibalas tiga ARB. Rata-rata sederhana kinerja keenam saham mencapai 31,46%, tetapi apabila PRDL dikeluarkan, rata-ratanya menyusut menjadi sekitar 6,75%.

Dengan demikian, performa IPO dapat dibaca sebagai sinyal positif bahwa selera risiko investor domestik mulai pulih. Namun, indikator ini belum cukup untuk mengonfirmasi masuknya likuiditas asing secara luas.

Sinyal Positif Muncul, tetapi 6.450 Jadi Gerbang Konfirmasi

Perbaikan IHSG semakin terlihat setelah indeks menutup perdagangan sesi pertama Selasa (21/7/2026) di level 6.319,85, menguat 88,07 poin atau sekitar 1,41% dari penutupan sebelumnya di 6.231,78.

Penguatan tersebut membawa IHSG menembus level psikologis 6.300 dan memperbesar kenaikan sepanjang Juli menjadi sekitar 11,99%. Indeks kini hanya berjarak 130,15 poin atau sekitar 2,06% dari level konfirmasi utama 6.450.

Meski demikian, posisi 6.319,85 baru merupakan penutupan sesi pertama. IHSG belum mendapatkan konfirmasi teknikal menengah yang cukup kuat untuk menyatakan rally berikutnya telah dimulai.

Level 6.450 tetap menjadi batas utama karena berada di area penawaran yang berpotensi memicu aksi ambil untung. Konfirmasi juga tidak cukup jika indeks hanya menembus 6.450 secara intraday.

IHSG perlu membukukan penutupan mingguan atau weekly close di atas 6.450 untuk menunjukkan bahwa tekanan jual telah diserap dan breakout mampu dipertahankan hingga akhir pekan.

Selama IHSG masih berada di bawah 6.450, kenaikan saat ini lebih tepat dikategorikan sebagai fase pemulihan atau tactical rally. Sinyal positif memang semakin kuat karena indeks sudah menembus 6.300, tetapi foreign inflow belum cukup besar untuk mengonfirmasi pembalikan struktural.

Investor asing mencatat net buy Rp1,96 triliun selama 16-20 Juli, tetapi sepanjang Juli masih membukukan net sell sekitar Rp2,01 triliun.

Karena itu, peningkatan eksposur secara agresif masih menunggu kombinasi antara weekly close di atas 6.450, foreign net buy yang berkelanjutan dan nilai transaksi yang tetap kuat.

Jika konfirmasi tersebut muncul, eksposur saham dapat ditambah secara lebih agresif karena struktur pasar telah berubah dari rebound menjadi rally lanjutan. Level 6.450 kemudian diharapkan berubah fungsi menjadi support baru, dengan peluang penguatan berikutnya menuju 6.650-6.800.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular