RI Terbelah! BI Rate Perlu Naik Lagi atau Saatnya Berhenti?
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21-22 Juli 2026. Tekanan terhadap rupiah dan risiko kenaikan inflasi menjadi pertimbangan utama.
Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi dan lembaga menunjukkan mayoritas responden memperkirakan BI kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Sebanyak delapan responden memproyeksikan BI Rate naik 25 basis poin (bps), dari 5,75% menjadi 6,00%. Sementara itu, enam lainnya memperkirakan suku bunga akan dipertahankan.
Jika proyeksi mayoritas responden terwujud, kenaikan bulan ini akan menjadi pengetatan keempat BI sepanjang 2026. BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei hingga mencapai 5,75% pada Juni.
Rupiah Jadi Pertimbangan Utama
Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu alasan utama mayoritas ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga.
Melansir Refinitiv, mata uang Garuda masih mengalami tekanan dengan ditutup melemah 0,25% ke posisi Rp17.930/US$ pada perdagangan Senin (20/7/2026), atau melemah 7,53% sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
Posisi ini membuat rupiah masih berjuang keras untuk menjauh dari level psikologisnya di Rp18.000/US$.
Pelemahan tersebut terjadi ketika dolar AS masih cukup kuat di pasar global seiring dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkat. Konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dan menambah risiko terhadap inflasi serta kebutuhan valuta asing.
Dalam kondisi tersebut, kenaikan suku bunga dapat digunakan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik. Selisih imbal hasil yang tetap kompetitif diharapkan dapat menahan keluarnya modal asing dan membantu meredam tekanan terhadap rupiah.
"BI Rate diperkirakan naik 25 bps ke 6,00% untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah risiko geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah," ujar Ekonom CIMB Niaga Mika Martumpal kepada CNBC Indonesia.
Sejalan dengannya, Chief Economist Valbury Asia Futures Fikri C. Permana juga melihat kenaikan bunga masih dibutuhkan. Selain volatilitas rupiah, BI perlu mengantisipasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter global lebih lanjut.
"Faktornya adalah volatilitas rupiah yang masih cukup besar, ekspektasi kenaikan Fed Rate tahun ini yang makin besar, serta dorongan untuk meningkatkan daya tarik aset portofolio domestik," ujar Fikri.
Inflasi Mulai Mendekati Batas Atas
Selain rupiah, perkembangan inflasi turut memperkuat perkiraan kenaikan suku bunga. Inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari 3,08% pada Mei.
Inflasi memang masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5% plus-minus 1%. Namun, posisinya sudah mendekati batas atas sasaran sebesar 3,5%.
Pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi global berisiko menambah tekanan harga melalui barang impor, bahan baku, transportasi, serta biaya produksi. Kenaikan suku bunga dapat membantu menahan tekanan tersebut melalui stabilisasi nilai tukar dan pengendalian ekspektasi inflasi.
Chief Economist Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang menyampaikan proyeksi serupa. Ia memperkirakan BI kembali menaikkan bunga sebesar 25 bps untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran sekaligus menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.
Meski demikian, sebagian menilai BI perlu memberi waktu agar kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 bps sejak Mei bekerja terhadap pasar keuangan dan perekonomian.
Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman menilai BI tetap berfokus menjaga rupiah dan stabilitas keuangan di tengah ketegangan geopolitik serta pengetatan moneter global. Namun, tekanan tersebut belum tentu harus direspons dengan kenaikan bunga pada Juli, terlebih bunga kredit mulai meningkat dan aktivitas manufaktur melemah.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai level BI Rate sebesar 5,75% sudah cukup ketat. Karena itu, keputusan menahan bunga dengan komunikasi yang tegas dinilai lebih tepat selama pergerakan rupiah masih dapat dikendalikan.
"Skenario dasar RDG Juli adalah BI menahan BI Rate di 5,75% dengan pesan kebijakan yang tetap waspada. Kenaikan tambahan hanya diperlukan jika tekanan rupiah dan arus modal memburuk secara nyata," ujar Josua.
Inflasi yang meningkat juga belum keluar dari sasaran BI. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi bank sentral untuk menunggu perkembangan rupiah, arus modal, dan harga energi sebelum kembali menaikkan suku bunga.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google