Ada yang Tak Beres dengan Bumi, Ilmuwan Makin Khawatir
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Rekor suhu global terus berulang dalam beberapa tahun terakhir. Gelombang panas datang lebih sering, es mencair lebih cepat, sementara cuaca ekstrem semakin sulit diprediksi.
Namun, yang kini membuat ilmuwan paling khawatir bukan sekadar kenaikan suhu. Ada temuan baru yang menunjukkan bumi sedang menyerap energi jauh lebih banyak dibanding yang dilepaskannya kembali ke luar angkasa.
Lebih mengejutkan lagi, laju perubahan itu kini melampaui perkiraan banyak model iklim yang selama ini menjadi acuan dunia.
Data satelit menunjukkan bumi menyerap energi jauh lebih banyak dibanding yang dilepaskan kembali ke luar angkasa. Ketimpangan ini terus membesar dalam dua dekade terakhir dan bahkan telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2000.
Lebih mengejutkan lagi, laju perubahan tersebut belum sepenuhnya bisa dijelaskan oleh model iklim yang selama ini menjadi acuan dunia.
Temuan ini membuat para ilmuwan mulai mempertanyakan apakah perubahan iklim sedang berkembang lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Bumi Sedang Menyimpan Lebih Banyak Energi
Untuk memahami EEI, bayangkan bumi seperti sebuah rekening keuangan.
Setiap hari matahari mengirimkan energi ke bumi. Sebagian dipantulkan kembali ke luar angkasa, sementara sisanya diserap oleh daratan, lautan, dan atmosfer.
Di sisi lain, bumi juga terus melepaskan energi dalam bentuk radiasi inframerah. Selama pemasukan dan pengeluaran energi relatif seimbang, suhu global tidak berubah banyak.
Masalahnya, keseimbangan itu kini mulai bergeser.
Penyerapan energi bumi Foto: Economist |
Â
Energi yang masuk terus bertambah, tetapi energi yang keluar tidak meningkat dengan kecepatan yang sama. Selisih inilah yang disebut Earth's Energy Imbalance atau EEI.
Dengan kata lain, sistem bumi kini terus "menabung" panas.
Menurut ilmuwan, selama EEI tetap positif, pemanasan global akan terus berlangsung meski perubahan suhu di permukaan tidak selalu terjadi secara langsung.
Mengapa Ketidakseimbangan Ini Penting?
EEI bukan sekadar angka baru dalam ilmu iklim. Bagi para peneliti, indikator ini menggambarkan "mesin utama" yang menggerakkan pemanasan global.
Selama bumi masih menerima lebih banyak energi daripada yang dilepaskan, sistem iklim akan terus menghangat. Dampaknya tidak langsung berhenti meskipun emisi suatu saat mulai melambat.
Â
Lebih dari 90% kelebihan energi tersebut tidak langsung memanaskan udara, melainkan diserap oleh lautan. Laut kemudian berperan sebagai penyimpan panas dalam jumlah sangat besar yang dapat memengaruhi suhu global, pola cuaca, hingga meningkatkan peluang terjadinya gelombang panas dan cuaca ekstrem di masa mendatang.
Karena itu, ilmuwan menilai EEI memberikan gambaran yang lebih mendasar dibanding hanya melihat perubahan suhu permukaan.
Data Satelit Menunjukkan Tren yang Konsisten
Perubahan ini dipantau melalui proyek Clouds and the Earth's Radiant Energy System (CERES) milik NASA yang sejak akhir 1990-an mengukur neraca energi bumi menggunakan satelit.
Instrumen tersebut mencatat tiga komponen utama sekaligus, yaitu energi matahari yang masuk, jumlah cahaya matahari yang dipantulkan kembali ke luar angkasa atau albedo, serta panas inframerah yang dipancarkan bumi.
Hasil pengamatan menunjukkan albedo bumi terus menurun. Artinya, semakin sedikit sinar matahari yang dipantulkan dan semakin banyak energi yang diserap planet ini.
Pada saat yang sama, bumi memang melepaskan panas lebih banyak ke luar angkasa. Namun, peningkatan energi yang keluar tidak mampu mengejar kenaikan energi yang masuk. Akibatnya, Earth's Energy Imbalance terus membesar.
Temuan CERES juga diperkuat oleh jaringan pelampung Argo yang mengukur suhu hingga kedalaman sekitar 6 kilometer di lautan dunia. Karena lebih dari 90% kelebihan energi bumi tersimpan di laut, data Argo menjadi pembuktian independen bahwa panas tambahan tersebut memang benar-benar terakumulasi di samudra.
Yang Membuat Ilmuwan Semakin Cemas
Kenaikan EEI sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Pemanasan global memang diperkirakan akan meningkatkan ketidakseimbangan energi.
Yang menjadi persoalan adalah kecepatannya.
Data terbaru menunjukkan kenaikan EEI jauh lebih besar dibanding yang diperkirakan banyak model iklim yang digunakan dalam berbagai proyeksi perubahan iklim, termasuk model yang menjadi rujukan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).
"Untuk pertama kalinya kami benar-benar sedang menafsirkan pengukuran, bukan sekadar model," kata Bjorn Stevens, Direktur Max Planck Institute for Meteorology di Hamburg, kepada The Economist.
Â
Menurut Stevens, temuan tersebut menjadi game changer karena ilmuwan kini memiliki pengamatan jangka panjang yang cukup untuk membandingkan dunia nyata dengan hasil simulasi model.
Lebih dari 50 peneliti iklim juga menyampaikan kekhawatiran serupa dalam sebuah makalah ilmiah yang terbit pada akhir 2025. Mereka menyebut tren kenaikan EEI saat ini "sulit direkonsiliasi dengan model iklim", sehingga mengindikasikan bahwa kondisi nyata telah bergerak di luar variasi yang selama ini diperkirakan model.
Bagi ilmuwan, persoalannya bukan sekadar apakah bumi memanas. Pertanyaan yang kini muncul adalah apakah laju perubahan tersebut sudah lebih cepat dibanding kemampuan model iklim dalam memprediksinya.
Dua Dugaan Terbesar di Balik EEI
Hingga kini, ilmuwan belum memiliki satu jawaban pasti mengapa ketidakseimbangan energi bumi meningkat begitu cepat. Namun, sebagian besar penelitian mengarah pada dua penyebab utama.
Yang pertama adalah bumi memantulkan lebih sedikit sinar matahari dibanding sebelumnya.
Yang kedua adalah perubahan pada tutupan awan yang membuat lebih banyak energi tersimpan di dalam sistem iklim.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan albedo, yakni kemampuan bumi memantulkan kembali radiasi matahari ke luar angkasa.
Saat albedo menurun, lebih banyak energi terserap daripada dipantulkan.
Secara sederhana, dua dugaan terbesar tersebut adalah:
-
Langit memantulkan lebih sedikit cahaya
-
Emisi sulfur dari pembangkit listrik dan kapal menurun.
-
Jumlah partikel aerosol di atmosfer ikut berkurang.
-
Aerosol selama ini membantu memantulkan sinar matahari.
-
Ketika aerosol berkurang, lebih banyak energi matahari mencapai permukaan bumi.
-
Tutupan awan berubah
-
Luas awan rendah di beberapa wilayah lautan berkurang.
-
Awan rendah biasanya membantu memantulkan radiasi matahari.
-
Berkurangnya awan membuat lautan menyerap lebih banyak panas.
-
Akibatnya, albedo bumi kembali menurun.
Menurut para peneliti, kedua mekanisme tersebut kemungkinan bekerja bersamaan sehingga memperbesar Earth's Energy Imbalance.
Udara Lebih Bersih, Bumi Justru Lebih Cepat Menghangat?
Di antara berbagai temuan tersebut, ada satu paradoks yang paling banyak menarik perhatian ilmuwan.
Selama puluhan tahun, banyak negara memperketat aturan emisi sulfur dari pembangkit listrik dan kapal karena polutan tersebut berbahaya bagi kesehatan manusia.
Kebijakan itu berhasil.
Emisi sulfur global turun dari sekitar 81 juta ton menjadi 69 juta ton setelah berbagai kebijakan pengendalian diterapkan. Salah satu perubahan terbesar datang dari aturan baru International Maritime Organization (IMO) yang mulai berlaku pada 2020 dan mewajibkan kapal menggunakan bahan bakar dengan kandungan sulfur lebih rendah.
Â
Namun, sulfur memiliki satu efek samping yang selama ini justru membantu mendinginkan bumi.
Partikel sulfat (sulfate aerosols) mampu memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke luar angkasa. Partikel-partikel ini juga membantu pembentukan awan rendah yang lebih cerah dan lebih mampu memantulkan cahaya.
Ketika udara menjadi lebih bersih, efek pendinginan alami tersebut ikut berkurang.
Menurut penelitian Øivind Hodnebrog dari CICERO bersama rekan-rekannya, sekitar separuh kenaikan tren EEI pada periode 2001-2019 dapat dijelaskan oleh berkurangnya aerosol. Mereka juga memperkirakan dampak pendinginan sulfur selama ini kemungkinan diremehkan sekitar 10% hingga 40% dalam berbagai estimasi sebelumnya.
Penelitian lain memperkirakan regulasi IMO pada 2020 sendiri telah mengurangi efek pendinginan yang berasal dari sulfur lebih dari 10%.
Bagi ilmuwan, hasil tersebut bukan berarti pengendalian polusi merupakan langkah yang keliru. Sebaliknya, temuan ini menunjukkan sistem iklim jauh lebih kompleks dibanding yang diperkirakan sebelumnya.
Awan Ikut Berubah
Selain aerosol, ilmuwan juga menyoroti perubahan tutupan awan, terutama awan rendah di atas lautan.
Pada 2023, Helge Gössling dari Alfred Wegener Institute bersama timnya menemukan berkurangnya awan rendah di sejumlah wilayah samudra. Tahun yang sama juga mencatat suhu global tertinggi, albedo terendah, dan EEI tertinggi yang tidak mampu direproduksi oleh model-model IPCC.
Â
Seorang petani mengamati padi yang mengalami kekeringan di Desa Kramat, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu, (9/8/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Seorang petani mengamati padi yang mengalami kekeringan di Desa Kramat, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu, (9/8/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) |
Â
Penelitian lain yang dipimpin Paulo Ceppi dari Imperial College London menemukan bahwa perubahan awan rendah memang ikut meningkatkan EEI selama dua dekade terakhir.
Namun, hasil tersebut juga menunjukkan perubahan awan saja belum cukup menjelaskan seluruh kenaikan EEI yang diamati.
Model Iklim Mulai Tertinggal dari Data
Di sinilah perhatian ilmuwan mulai bergeser.
Masalah utamanya bukan lagi apakah bumi memanas, melainkan mengapa model iklim belum mampu mengikuti apa yang benar-benar terjadi.
Pada akhir 2025, lebih dari 50 peneliti menerbitkan makalah yang menyebut tren kenaikan EEI saat ini "sulit direkonsiliasi dengan model iklim". Mereka menyimpulkan sinyal yang terlihat di dunia nyata telah melampaui variasi internal yang selama ini diperkirakan model.
Â
Maria Rugenstein dari Colorado State University mengatakan persoalan ini tidak hanya berdampak pada penelitian iklim.
"Model-model ini digunakan untuk menghitung dampak perubahan iklim, anggaran karbon, dan hampir semua proyeksi tentang masa depan," ujarnya.
Artinya, jika model belum mampu menggambarkan kondisi saat ini secara akurat, berbagai proyeksi jangka panjang juga perlu terus dievaluasi
Apa Artinya bagi Dunia?
Bagi masyarakat, EEI mungkin terdengar seperti istilah teknis yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Namun, dampaknya sangat nyata.
Semakin besar ketidakseimbangan energi, semakin banyak panas yang tersimpan di lautan. Energi tersebut kemudian dapat muncul kembali dalam bentuk gelombang panas yang lebih intens, hujan ekstrem, kekeringan, hingga fenomena El Niño yang lebih kuat.
Sejumlah ilmuwan juga memperkirakan laju pemanasan global dalam dekade mendatang bisa meningkat sekitar 10% hingga 30% dibanding perkiraan saat ini apabila tren EEI terus berlanjut.
Artinya, dunia tidak hanya menghadapi persoalan suhu yang terus meningkat, tetapi juga kemungkinan bahwa perubahan tersebut berlangsung lebih cepat daripada yang selama ini diperkirakan.
Â
(mae/mae) Addsource on Google

