MARKET DATA
Newsletter

IHSG Sudah Bangkit, Kini Saatnya Rupiah Bangun dari Tidur

mae,  CNBC Indonesia
10 July 2026 06:38
Koalse IHSG dan mata uang. (CNBC Indonesia)
Foto: Koalse IHSG dan mata uang. (CNBC Indonesia)
  • Pasar keuangan kembali ditutup beragam, saham menguat sementara rupiah turun
  • Wall Street berakhir di zona hijau
  • Perkembangan perang hingga data ekonomi menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia masih bergerak beragam. Bursa saham menguat sementara rupiah tak kunjung bangkit.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis (9/7/2026), di tengah pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global. Pelaku pasar terus mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah serta menunggu katalis ekonomi berikutnya.

IHSG mengakhiri perdagangan di level 5.912,44, menguat 39,07 poin atau 0,67% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Penguatan ini sekaligus membawa indeks kembali ke level psikologis 5.900.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 327 saham menguat, 275 saham melemah, dan 190 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai Rp10.351 triliun.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 689,3 miliar.

Berdasarkan data Refinitiv, mayoritas sektor berada di zona hijau. Penguatan dipimpin oleh sektor barang baku, energi, dan konsumer, yang menjadi motor kenaikan IHSG. Sebaliknya, sektor kesehatan, teknologi, properti, dan keuangan masih mengalami tekanan.

Secara individual, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi kontributor utama penguatan indeks pada perdagangan kemarinkemarin.

 

Meski mampu menguat, pergerakan pasar keuangan domestik dibayangi volatilitas tinggi. Investor masih mencermati berbagai sentimen global yang berpotensi memengaruhi aset berisiko, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik hingga prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Salah satu perhatian utama datang dari Timur Tengah. Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu (8/7/2026) dengan tujuan melemahkan kemampuan Teheran mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz, rute strategis yang menjadi lintasan sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah.

Memanasnya konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, yang berpotensi mendorong volatilitas harga komoditas sekaligus memengaruhi sentimen investor di pasar keuangan, termasuk Indonesia.

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (9/7/2026).


Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda terdepresiasi 0,44% dan parkir di level Rp18.070/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level terlemah rupiah dalam sekitar sebulan terakhir. Rupiah juga kembali ditutup di atas level psikologis Rp18.000/US$ untuk pertama kalinya sejak 9 Juni 2026.



Sepanjang perdagangan kemarin rupiah konsisten berada di zona merah. Mata uang Garuda sudah dibuka melemah 0,33% ke level Rp18.050/US$, lalu tekanannya semakin dalam hingga sempat menyentuh Rp18.095/US$. Hanya selangkah lagi menembus level psikologis berikutnya di Rp18.100/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,10% ke level 100,892.

Rupiah melemah disebabkan masih kencangnya dolar AS.

Harga energi yang lebih tinggi berpotensi kembali menekan inflasi global dan memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).

Pasar menilai lonjakan harga minyak dapat mempercepat waktu kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi ini ikut menopang dolar AS karena pasar kembali memperhitungkan risiko suku bunga AS yang lebih tinggi.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai di 7,281% pada perdagangan kemarin, dari 7,258% pada hari sebelumnya.

Imbal hasil yang turun menandai harga SBN yang tengah menguat karena diburu investor.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Saham-saham di Amerika Serikat ditutup menguat pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Kenaikan didorong lonjakan sektor semikonduktor dan penurunan harga minyak, seiring pasar ekuitas berupaya bangkit meski ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.

Indeks Nasdaq Composite naik 1,30% ke level 26.206,89, sementara S&P 500 menguat 0,81% menjadi 7.543,64. Adapun Dow Jones Industrial Average menanjak 139,02 poin atau 0,27% ke 52.487,41.

ETF semikonduktor VanEck Semiconductor (SMH) melonjak 2,5%, dipimpin kenaikan saham Micron Technology sebesar 4,5%. Saham Sandisk juga melesat 7,6%.

Bursa saham Eropa turut bangkit pada Kamis ketika investor memantau kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Indeks Stoxx 600 pan-Eropa ditutup menguat 0,8%.

Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang ditutup naik 1,4%, sementara Kospi Korea Selatan menguat 0,62% di tengah perdagangan yang berfluktuasi. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 0,7%, sedangkan indeks CSI 300 China daratan melonjak 2,5%.

Untuk hari kedua berturut-turut, militer AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran, menurut Komando Pusat AS (U.S. Central Command).

Serangan terbaru tersebut dilakukan setelah Teheran menyerang kapal-kapal dagang di sekitar Selat Hormuz, yang menyebabkan lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut melambat.

Meski demikian, harga minyak mentah justru melemah setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Iran telah menghubungi AS untuk mencapai kesepakatan.

Menurut MS NOW, yang mengutip pejabat dari kedua negara, mediator dari Qatar dan Pakistan juga tengah berupaya mempertemukan kedua pihak di meja perundingan.

Perkembangan ini terjadi setelah Trump pada Rabu mengatakan bahwa dirinya mungkin sudah tidak lagi tertarik untuk bernegosiasi dengan Iran. Sebelumnya, ia juga menyatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Teheran telah "berakhir" menyusul gelombang serangan baru di Timur Tengah.

"Situasi ini sangat memicu inflasi dan penuh ketidakpastian," kata Megan Horneman, Chief Investment Officer di Verdence, dikutip dari CNBC International.

 

"Konflik ini bisa saja berakhir besok, atau justru berkembang menjadi peristiwa yang jauh lebih besar. Kita tidak tahu. Karena itu, investor perlu memiliki portofolio saham yang terdiversifikasi secara global," ujarnya.

Horneman menilai kondisi pasar akan tetap volatil ke depan karena investor mulai kebal terhadap pola konflik yang terus memanas lalu mereda. Ia juga menilai harga saham saat ini belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada paruh kedua 2026.

"Ini memperburuk persoalan inflasi yang akan terus berlanjut hingga sisa tahun ini," kata Horneman.

Menurutnya, penyebab tekanan inflasi bukan hanya kenaikan harga minyak. Meski investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) berpotensi menekan inflasi dalam jangka panjang, dalam waktu dekat justru sebaliknya.

"Dalam jangka pendek, besarnya investasi, pertumbuhan ekonomi yang kuat, serta konsumen yang terus berbelanja akan bersifat inflasioner," tuturnya.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile hari ini dengan banyaknya sentiment negatif dari luar negeri. Namun, melemahnya indeks dolar diharapkan bisa menjadi "obat" bagi kebangkitan rupiah hari ini.

Perang menjadi salah satu penggerak utama sentiment hari ini. Sementara dari dalam negeri, sentiment relative sepi.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

Perang Masih Panas

Ketegangan AS-Iran kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan udara Washington. Aksi tersebut semakin mengikis gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan.

Militer AS sebelumnya mengklaim telah menyerang sekitar 90 target militer Iran, sementara Teheran menyatakan serangan balasan menyasar fasilitas militer AS di Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Yordania.

Konflik juga meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Meski demikian, harga minyak dunia turun pada Kamis setelah sebelumnya sempat melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi.

B50 Diluncurkan Prabowo, Apa Dampaknya Buat RI?

Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori B50, yakni solar dengan campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit (FAME), di SPBU Pertamina Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Kamis (9/7/2026).

 Kebijakan ini meningkatkan kadar campuran biodiesel dari sebelumnya B40 yang mulai berlaku pada awal 2025.

Pemerintah menargetkan implementasi B50 berlangsung bertahap. Saat ini, 57,6% atau 3.696 dari total 6.412 SPBU Pertamina telah menyalurkan B50 di wilayah Jawa, Sumatra, dan sebagian Sulawesi. Sisanya masih menjual B40 dan akan beralih secara bertahap.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah memberikan masa transisi hingga 30 September 2026 agar badan usaha dapat menghabiskan stok B40 sebelum sepenuhnya beralih ke B50.

Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo) Foto: Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

 

Pemerintah juga menetapkan alokasi penyaluran FAME sebesar 16,7-18 juta kiloliter pada 2026. Angka tersebut masih berada di bawah kapasitas terpasang industri yang mencapai sekitar 22 juta kiloliter per tahun.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan implementasi B50 akan mengakhiri impor solar Indonesia pada tahun ini. Menurutnya, selama ini Indonesia masih mengimpor sekitar 3-4 juta kiloliter solar per tahun dari total konsumsi nasional yang mencapai 38-40 juta kiloliter.

"Dengan implementasi B50 ini kita tidak impor solar lagi. Ini pertama kali," kata Bahlil di acara peluncuran.

 

Menurut perhitungan Kementerian ESDM, penerapan B50 berpotensi memberikan penghematan devisa hingga Rp170 triliun per tahun.

Kebijakan ini juga menciptakan nilai tambah industri sawit sebesar Rp23,49 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menekan emisi karbon hingga 44,46 juta ton per tahun.

Penjualan Ritel Kontraksi

Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan eceran tetap terjaga pada Juni 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diproyeksikan mencapai 221,6, ditopang oleh meningkatnya penjualan suku cadang dan aksesori kendaraan serta perlengkapan rumah tangga.

Secara bulanan, penjualan ritel diperkirakan masih terkontraksi 0,8% (mtm), namun lebih baik dibandingkan penurunan 1,5% pada Mei, seiring dimulainya musim libur sekolah.

Sementara itu, pada Mei 2026, IPR tercatat 223,4. Penjualan secara tahunan masih tumbuh didorong oleh sektor suku cadang dan aksesori, BBM, serta barang budaya dan rekreasi.

Dari sisi harga, BI memperkirakan tekanan inflasi meningkat pada Agustus 2026, tercermin dari kenaikan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) menjadi 178,0 dari 175,8 pada Juli. Adapun ekspektasi harga pada November diproyeksikan relatif stabil.

 IMF Ingatkan 4 Risiko Besar

Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan empat risiko utama yang masih membayangi ekonomi global dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Update Juli 2026, yakni lonjakan harga energi, era suku bunga tinggi, ruang fiskal yang semakin sempit, serta meningkatnya risiko geopolitik akibat konflik di Timur Tengah.

IMF memperkirakan ekonomi global hanya tumbuh 3,0% pada 2026, melambat dari rata-rata 3,5% pada 2024-2025, sebelum naik menjadi 3,4% pada 2027. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan Indonesia tetap dipertahankan di 5,0% pada 2026 dan 5,1% pada 2027.

 

Berikut empat peringatan IMF:

1. Harga energi masih tinggi
IMF memperkirakan harga minyak rata-rata mencapai US$89 per barel pada 2026, naik 9% dari proyeksi April. Harga gas, pupuk, dan pangan juga diperkirakan tetap tinggi sehingga berpotensi menekan inflasi, biaya impor energi, dan subsidi pemerintah.

2 Suku bunga tinggi bertahan lebih lama
Inflasi global diproyeksikan naik menjadi 4,7% pada 2026 akibat mahalnya energi dan pangan. Kondisi ini membuat bank sentral, termasuk The Fed, diperkirakan belum agresif memangkas suku bunga.

3. Ruang fiskal makin terbatas
IMF mengingatkan pemerintah agar bantuan energi dan subsidi tetap tepat sasaran. Subsidi yang terlalu besar berisiko membebani APBN dan mempersempit ruang fiskal.

4. Risiko geopolitik meningkat
Konflik Timur Tengah masih menjadi ancaman utama. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak, memperkuat dolar AS, meningkatkan volatilitas pasar, serta menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

 OJK Sempurnakan Aturan Karbon

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan POJK Nomor 10 Tahun 2026 yang menyempurnakan aturan perdagangan karbon melalui bursa karbon. Aturan ini mulai berlaku sejak diundangkan pada 6 Juli 2026 dan merupakan revisi atas POJK Nomor 14 Tahun 2023.

Regulasi baru tersebut diterbitkan untuk menyesuaikan dengan Perpres Nomor 110 Tahun 2025 mengenai penyelenggaraan nilai ekonomi karbon dan pengendalian emisi gas rumah kaca.

Sejak bursa karbon diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 30 Juni 2026, tercatat 155 pengguna jasa telah terdaftar. Volume transaksi mencapai 1,98 juta tCO2e dengan nilai transaksi sebesar Rp93,81 miliar.

Substansi POJK 10 Tahun 2026 mengatur ketentuan antara lain:

1. Unit Karbon yang dapat diperdagangan di Penyelenggara Bursa Karbon wajib tercatat pada Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) yang menggantikan Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI).
2. Perluasan lingkup Unit Karbon;
3. Perdagangan atas unit karbon dari luar negeri yang tidak tercatat pada SRUK;
4. Penetapan penyampaian pelaporan tertentu oleh Penyelenggara Bursa Karbon kepada Kementerian terkait;
5. Ketentuan mengenai prinsip pelindungan konsumen yang relevan sebagaimana diatur dalam POJK mengenai pelindungan konsumen dan masyarakat di sektor jasa keuangan berlaku bagi setiap Pihak yang terlibat dalam Perdagangan Karbon melalui Bursa Karbon, dan
6. Fasilitasi perdagangan Unit Karbon yang tercatat pada sistem berbasis elektronik di kementerian terkait sampai dengan SRUK beroperasi, paling lama 3 bulan setelah POJK diundangkan.

 Klaim Pengangguran AS Turun

Jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran awal turun 2.000 menjadi 215.000 pada pekan yang berakhir 4 Juli, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan menjadi 218.000.

Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan (continuing claims), yang dianggap sebagai indikator jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan di AS, naik 8.000 menjadi 1,814 juta pada pekan penuh terakhir Juni.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak akhir Maret, tetapi masih lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 1,820 juta.

Meski levelnya masih sedikit lebih tinggi dibandingkan awal kuartal II, data tersebut tetap mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang rendah.

Di sisi lain, klaim awal yang diajukan oleh pegawai pemerintah federal, yang menjadi sorotan di tengah upaya pemerintahan untuk mengurangi jumlah aparatur sipil federal, turun 40 klaim menjadi 404.

 The Fed Bentuk Gugus Khusus

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh membentuk lima satuan tugas (task force) yang akan mengevaluasi kebijakan dan operasional bank sentral AS, mulai dari pengelolaan neraca, inflasi, data ekonomi, komunikasi kebijakan, hingga dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap produktivitas dan lapangan kerja.

The Fed menunjuk 15 ekonom dan mantan bankir sentral dari berbagai latar belakang untuk memimpin kajian tersebut. Mereka akan bekerja secara independen dan diharapkan menyampaikan rekomendasi kepada Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir tahun.

Warsh mengatakan evaluasi ini diperlukan karena ekonomi AS telah berubah signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Menurutnya, The Fed perlu memastikan metode, alat analisis, dan pendekatan kebijakannya tetap relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • Jepang umumkan data PPI Juni
  • Gaikindo umumkan penjualan motor dan mobil
  • Presiden meresmikan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat

  • Menteri Perumahan menghadiri rapat koordinasi terkait program Bedah Rumah BSPS di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat

  • Pencatatan perdana saham PT Rans Entertainment Indonesia Tbk. (RANS) sebagai perusahaan tercatat ke-7 di Bursa Efek Indonesia

  • Penandatanganan Kerja Sama Perumahan BSI bersama BPJS Ketenagakerjaan di Grha BP Jamsostek, Jakarta Selatan

  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menghadiri Monthly Economic Diplomacy Breakfast di Grha Sawala, kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat

  • Deklarasi Asosiasi Jaringan Tetap Telekomunikasi (Jarjatel) di Dobu, Jakarta Selatan

  • Konferensi Nasional Kusta 2026 di Puri Agung Ballroom, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Kesehatan.

Berikut agenda korporasi hari ini:

 

RUPS PT Rencana Wijaya Karya Beton

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Champion Pacific Indonesia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Daaz Bara Lestari Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Madusari Murni Indah Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Asia Pramulia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Jakarta Setiabudi Internasional Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Multi Bintang Indonesia Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai ALAM SUTERA REALTY Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Metrodata Electronics Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Daya Intiguna Yasa Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai KDB Tifa Finance Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Aneka Tambang Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bukit Asam (Persero) Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Summarecon Agung Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Hero Global Investment Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Timah Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai ALAM SUTERA REALTY Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Blue Bird Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Roda Vivatex Tbk

Berikut indikator ekonomi terbaru:



Most Popular
Features