10 Emiten RI yang Dulu Berjaya, Kini Kembang Kempis: Ada yang Bangkrut
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah emiten yang dulu akrab dengan keseharian masyarakat Indonesia kini berada di fase yang jauh berbeda. Nama-nama seperti Bata, Ramayana, Hero, Matahari, Hypermart, Express Taxi, hingga Sritex pernah menjadi simbol kejayaan di industrinya masing-masing.
Namun perubahan pola konsumsi, tekanan daya beli, kompetisi digital, utang, hingga pergeseran model bisnis membuat sebagian dari mereka tak lagi segarang masa lalu. Ada yang masih bertahan dengan laba, ada yang terus merugi, dan ada pula yang sudah masuk fase pailit serta likuidasi.
Jejak Para Raksasa Lama
Sebelum melihat kinerja keuangannya, menarik untuk melihat dulu usia dan rekam jejak pasar modal dari emiten-emiten ini. Sebagian besar merupakan perusahaan lama yang sudah berdiri puluhan tahun, bahkan ada yang sudah hadir sejak era sebelum kemerdekaan.
Kinerja Terbaru: Ada yang Masih Untung, Ada yang Rugi Dalam
Usia panjang tidak selalu berarti kinerja yang kuat. Data keuangan terbaru menunjukkan sebagian emiten masih mampu mencetak laba, tetapi tekanan penjualan dan margin tetap terlihat jelas.
Untuk SRIL, data yang dipakai adalah laporan tahunan terakhir yang tersedia, yakni FY2023, karena tidak tersedia laporan FY2025 normal seperti emiten aktif.
Dari tabel tersebut, tekanan terbesar terlihat pada emiten ritel lama dan transportasi konvensional. Bata masih rugi meski kerugiannya mengecil. Ramayana dan Matahari masih untung, tetapi pendapatannya turun. Electronic City justru berbalik rugi cukup dalam pada 2025.
Bukan Sekadar Turun, Ada yang Berubah Total
Beberapa nama dalam daftar ini bukan hanya mengalami penurunan angka keuangan, tetapi juga perubahan identitas bisnis. MDRN, misalnya, dulu dikenal luas lewat 7-Eleven Indonesia. Namun seluruh gerai 7-Eleven dihentikan operasinya pada 2017, sehingga bisnis perseroan saat ini tidak lagi mencerminkan masa kejayaan Sevel.
HERO juga sudah bukan Hero-Giant seperti dulu. Giant ditutup seluruhnya pada 2021, sementara perseroan kini bergerak dengan fokus yang berbeda. Sritex menjadi kasus paling berat, karena BEI pada 2025 menyatakan SRIL telah memenuhi kriteria delisting, dengan proses menunggu likuidasi oleh kurator. perusahaan ini bahkan bangkrut.
Kisah para emiten ini menunjukkan bahwa nama besar bisa menjadi modal, tetapi bukan jaminan. Perubahan kanal belanja, kompetisi harga, beban utang, dan kegagalan membaca konsumen baru bisa menggerus perusahaan yang dulu terlihat terlalu besar untuk jatuh.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google