MARKET DATA

Jangan Anggap Remeh! IMF Beberkan 4 Ancaman Besar untuk Dunia & RI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
09 July 2026 14:25
Logo Dana Moneter Internasional (IMF). (REUTERS/Yuri Gripas/File Photo)
Foto: REUTERS/Yuri Gripas

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memberi empat peringatan penting untuk perekonomian global, dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Update edisi Juli 2026.

Empat peringatan itu datang dari sektor energi, kebijakan moneter, ruang fiskal, dan geopolitik. Keempatnya saling berkaitan karena perang di Timur Tengah membuat kenaikan harga energi, inflasi, era suku bunga tinggi, dan penurunan ruang fiskal di banyak negara. 

IMF memproyeksikan ekonomi global tumbuh 3,0% pada 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan 2024-2025 yang mencapai 3,5%. Pada 2027, ekonomi global diperkirakan membaik ke 3,4%.

Ekonomi dunia masih tumbuh, tetapi lajunya mulai kehilangan tenaga. Tekanan datang dari perang di Timur Tengah, harga energi yang masih tinggi, inflasi yang belum benar-benar turun, ruang fiskal yang makin sempit, serta ketidakpastian geopolitik yang masih besar.

Di tengah kondisi tersebut, IMF masih melihat ekonomi Indonesia cukup stabil. Dalam laporan yang sama, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,0% pada 2026 dan 5,1% pada 2027. Proyeksi tersebut tidak berubah dari laporan IMF edisi April 2026.

Namun, stabilnya proyeksi Indonesia bukan berarti risiko global bisa diabaikan begitu saja. Tekanan dari luar negeri tetap bisa masuk lewat banyak jalur, mulai dari harga minyak dan gas, inflasi impor, arah suku bunga global, tekanan nilai tukar rupiah, hingga beban subsidi dan kompensasi energi di APBN.

Berikut empat peringatan utama IMF yang perlu dicermati:

1.Harga Minyak, Gas, Pupuk, dan Pangan Masih Tinggi

Peringatan pertama datang dari sektor energi. IMF melihat harga energi masih akan bertahan lebih tinggi dibandingkan sebelum perang di Timur Tengah.

Dalam skenario dasar IMF, pembukaan kembali Selat Hormuz diasumsikan mulai terjadi pada pertengahan Juli 2026. Kondisi diperkirakan kembali mendekati masa sebelum perang pada Maret 2027. Namun, selama masa penyesuaian itu, harga komoditas energi masih berada di level tinggi.

IMF memperkirakan rata-rata harga minyak pada 2026 berada di sekitar US$89 per barel. Angka ini lebih tinggi 9% dibandingkan asumsi pada laporan WEO April 2026. Harga gas alam juga diperkirakan berada di US$15, atau 5% lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan 2025, harga minyak mentah pada 2026 diproyeksikan naik 32%. Harga gas alam naik 22%. Tekanan energi juga merembet ke harga pupuk yang diperkirakan naik 26%. Harga pangan ikut terdorong naik 8% karena biaya energi, pupuk, dan transportasi yang lebih mahal.

Tekanan ini perlu diperhatikan Indonesia. Kenaikan harga minyak dan gas bisa berpengaruh ke biaya impor energi, harga BBM nonsubsidi, biaya listrik, ongkos logistik, serta beban subsidi dan kompensasi energi.

Harga pupuk dan pangan juga perlu dicermati. Jika energi dan pupuk naik, biaya produksi pangan bisa ikut terkerek. Dampaknya tidak selalu langsung terasa di harga konsumen, tetapi tekanan di rantai produksi bisa membesar jika berlangsung lama.

IMF juga mencatat bahwa dampak kenaikan energi tidak sama di semua kawasan. Sejak perang dimulai, harga bensin ritel di emerging Asia naik sekitar 30%, lebih tinggi dibandingkan Amerika Latin yang naik 15%. Harga LNG di Asia naik sekitar 50%, sedangkan Eropa naik 25% dan harga Henry Hub Amerika Serikat hanya naik sekitar 10%.

Ini menunjukkan Asia menjadi salah satu kawasan yang lebih sensitif terhadap tekanan energi.

2. Era Bunga Tinggi Bisa Lebih Lama

Peringatan kedua berkaitan dengan kebijakan moneter. IMF melihat inflasi global belum benar-benar berhasil diturunkan. Tren penurunan inflasi yang berlangsung sejak awal 2024 bahkan mulai tertahan.

Inflasi global diperkirakan naik dari 4,1% pada 2025 menjadi 4,7% pada 2026. Pada 2027, inflasi diperkirakan turun ke 3,9%. Kenaikan inflasi 2026 terutama didorong harga energi dan pangan yang lebih tinggi.

Kondisi ini membuat bank sentral dunia belum bisa terlalu cepat melonggarkan kebijakan. IMF menyebut kebijakan moneter diperkirakan menjadi kurang suportif karena tekanan inflasi terlihat, sementara perlambatan ekonomi tidak terlalu dalam.

Suku bunga di Amerika Serikat dan kawasan euro diperkirakan relatif bertahan dalam level riil tertentu. Jepang diperkirakan bergerak bertahap menuju posisi suku bunga yang lebih netral. Di pasar keuangan, investor juga mulai memperhitungkan jalur suku bunga nominal yang lebih tinggi karena tekanan inflasi muncul lagi.

3. Fiskal: Bantuan Energi Jangan Terlalu Lebar

Peringatan ketiga datang dari sisi fiskal. IMF melihat banyak negara memakai kebijakan fiskal untuk meredam dampak perang Timur Tengah, terutama melalui subsidi, pemotongan pajak, kontrol harga, atau bantuan kepada rumah tangga dan dunia usaha.

Namun, IMF mengingatkan bahwa dukungan fiskal harus hati-hati. Bantuan yang terlalu luas bisa berakibat cukup mahal, kurang tepat sasaran, dan sulit dihentikan. IMF menyarankan agar bantuan diberikan secara sementara, lebih tepat sasaran ke kelompok rentan, dan tetap menjaga sinyal harga di pasar.

Peringatan ini sangat relevan untuk Indonesia. Setiap kali harga minyak dan energi naik, tekanan ke APBN biasanya ikut meningkat. Pemerintah perlu menjaga agar subsidi dan kompensasi energi tidak membengkak terlalu besar, tetapi tetap melindungi daya beli masyarakat.

Tantangannya tidak mudah. Jika harga energi global naik, pilihan kebijakan menjadi lebih sempit. Menahan harga terlalu lama bisa menambah beban APBN. Melepas harga terlalu cepat bisa menekan inflasi dan daya beli.

IMF juga menekankan pentingnya membangun kembali ruang fiskal. Banyak negara sudah memakai anggaran besar sejak pandemi, lalu kembali diuji oleh perang, inflasi, dan biaya pinjaman yang tinggi. Kondisi seperti ini membuat pengelolaan APBN harus lebih disiplin.

4. Geopolitik

Peringatan terakhir datang dari fakktor geopolitik. Risiko paling dekat terhadap proyeksi ekonomi global masih berasal dari perkembangan di Timur Tengah.

Jika konflik kembali memanas, dampaknya bisa menyebar ke banyak arah. Harga komoditas dapat kembali naik, volatilitas pasar meningkat, pasokan energi terganggu, dan tekanan ke nilai tukar negara berkembang bisa ikut membesar.

Selat Hormuz juga menjadi salah satu titik penting dalam proyeksi kali ini. Jalur ini sangat strategis bagi perdagangan energi global. Gangguan di kawasan tersebut bisa langsung mengubah arah harga minyak dan gas dunia.

Dalam laporan WEO Juli 2026, pertumbuhan kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah diperkirakan turun tajam ke 0,7% pada 2026, sebelum melonjak ke 6,5% pada 2027. Pola ini mencerminkan tekanan besar pada 2026, lalu pemulihan setelah kondisi energi dan jalur pasok mulai membaik.

Risiko geopolitik untuk Indonesia perlu dilihat dari sisi energi, perdagangan, dan pasar keuangan. Indonesia memang bukan negara yang berada langsung di zona konflik. Namun, jalur rambatannya tetap terbuka ke ekonomi domestik.

Harga minyak yang naik bisa menekan neraca perdagangan migas. Dolar AS yang menguat bisa menekan rupiah. Biaya impor bisa meningkat. Pasar keuangan juga bisa lebih mudah bergerak liar jika investor global memilih aset aman.

Selain Timur Tengah, risiko fragmentasi perdagangan juga perlu dicermati. Jika lebih banyak negara menaikkan tarif atau membatasi perdagangan, pertumbuhan global bisa ikut tertekan dan harga barang berpotensi naik. Ini penting untuk Indonesia yang sedang berusaha memperluas ekspor dan menarik investasi manufaktur.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular