S&P Dow Jones Taruh RI ke Watchlist & Bisa Turun Kelas, Perang Memanas
Dari bursa saham AS, Wall Street melemah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks jatuh karena investor kembali melakukan rotasi keluar dari saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), sementara harga minyak terus menguat.
Indeks Dow Jones turun 130,76 poin atau 0,25%, setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi baru secara intraday. Pada penutupan perdagangan, Dow Jones berada di 52.925,15.
Sementara itu, Nasdaq Composite turun 1,16% menjadi 25.818,69, dan S&P 500 melemah 0,45% ke 7.503,85.
Saham Micron ditutup merosot 4,7%, diikuti pelemahan saham KLA, Marvell Technology, Broadcom, dan AMD. Sementara itu, VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun lebih dari 3%.
"Ekspektasi pasar sudah sangat tinggi, sementara fundamental perusahaan kesulitan memenuhi harapan tersebut. Itulah yang mendorong pelemahan pasar hari ini," kata Direktur Riset FBB Capital Partners, Mike Bailey, kepada CNBC International.
Ia memperkirakan rotasi sektor yang terjadi belakangan ini masih akan berlanjut.
Investor justru mengalihkan dana ke sektor lain seperti kesehatan, keuangan, dan perusahaan teknologi besar.
Saham Eli Lilly naik hampir 3%, sementara JPMorgan Chase dan Microsoft juga menguat.
Saham Walmart turut naik setelah perusahaan mengumumkan pemangkasan harga sejumlah produk, termasuk daging sapi giling dan minuman Coca-Cola.
Sentimen pasar juga terbebani oleh lonjakan harga minyak setelah Iran menyerang sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Qatar di dekat Selat Hormuz.
Harga minyak acuan global Brent ditutup naik 3% ke US$74,16 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat hampir 3% menjadi US$70,44 per barel.
Harga minyak kemudian kembali melanjutkan kenaikan setelah penutupan pasar menyusul keputusan AS mencabut izin yang mengizinkan penjualan minyak Iran.
Tekanan terhadap saham-saham AI bermula dari pasar Asia-Pasifik setelah indeks Kospi Korea Selatan anjlok hampir 5%, dipicu merosotnya saham produsen chip memori Samsung Electronics sekitar 7%.
Meski Samsung membukukan lonjakan laba kuartal II, kekhawatiran mengenai belanja dan permintaan membuat investor tetap melakukan aksi jual. Sementara itu, indeks Stoxx 600 Eropa ditutup melemah sekitar 0,7%.
Adam Crisafulli dari Vital Knowledge menjelaskan reaksi terhadap Samsung menunjukkan salah satu risiko terbesar pasar dalam beberapa pekan ke depan.
"Laporan kinerja kuartal II kemungkinan cukup kuat secara absolut, tetapi berbeda dengan musim laporan kuartal I, ekspektasi investor kini sudah sangat tinggi. Hal itu membuat standar yang harus dipenuhi perusahaan menjadi jauh lebih berat," ujarnya.
Sentimen negatif juga dipicu laporan Reuters yang mengutip sumber bahwa DeepSeek tengah mengembangkan chip AI buatannya sendiri. Langkah tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap semikonduktor dari produsen seperti Nvidia dan Samsung.
Sementara itu, saham SpaceX anjlok lebih dari 6% di hari pertama masuk ke dalam indeks Nasdaq-100. Penurunan tersebut terjadi meskipun banyak analis Wall Street memberikan rekomendasi positif beserta target harga yang optimistis, termasuk dari Morgan Stanley dan Raymond James.
Menurut Bailey, pelemahan saham SpaceX merupakan indikasi adanya pergeseran investor ke aset yang lebih aman (risk-off), mengingat perusahaan tersebut dipandang sebagai salah satu pemain di sektor kecerdasan buatan (AI).
(mae/mae) Addsource on Google