Trump Menang, Misi Besar Bank Dunia Terpaksa Mundur Satu Langkah
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih mengubah arah Bank Dunia. Di bawah tekanan Amerika Serikat (AS), lembaga itu menghapus target pembiayaan iklim dan mulai menggeser fokus dari agenda hijau menuju pembangunan ekonomi negara-negara miskin.
Pada Juni 2023, suasana di Paris terasa seperti titik balik bagi Bank Dunia.
Di hadapan para pemimpin dunia, Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengumumkan rencana mengalokasikan porsi besar pembiayaan lembaga itu untuk proyek-proyek yang berkaitan dengan perubahan iklim dan dampaknya. Ruangan langsung berdiri memberikan tepuk tangan. Presiden Prancis Emmanuel Macron ikut menyambutnya. Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed bahkan menghentikan langkah Ajay Banga di belakang panggung hanya untuk berswafoto.
Tiga tahun kemudian, suasananya berubah total.
Target yang Kini Ditinggalkan
Bank Dunia resmi mencabut target yang mewajibkan 45% pembiayaannya dialokasikan untuk proyek terkait iklim. Target itu dihapus bulan lalu setelah mendapat tekanan dari Amerika Serikat, yang sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada 2025 mendorong lembaga tersebut kembali berfokus pada agenda pembangunan.
Keputusan itu mengakhiri salah satu perubahan terbesar dalam sejarah Bank Dunia beberapa tahun terakhir. Isu iklim yang sempat menjadi prioritas utama kini tidak lagi memiliki target khusus dalam penyaluran pinjaman.
Bukan berarti Bank Dunia berhenti membiayai proyek hijau. Yang hilang adalah kewajiban untuk mengalokasikan porsi tertentu bagi proyek-proyek tersebut.
Perdebatan yang Tak Pernah Usai
Sebenarnya, perdebatan ini sudah berlangsung jauh sebelum target itu dicabut.
Sebagian pihak menilai pembiayaan iklim merupakan bagian dari upaya mengurangi kemiskinan. Dana tersebut digunakan untuk berbagai proyek seperti:
-
energi terbarukan
-
kendaraan listrik
-
restorasi hutan mangrove
-
adaptasi terhadap perubahan iklim
Kelompok lain melihat prioritasnya berbeda. Menurut mereka, ketika anggaran pembangunan terbatas, dana seharusnya lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat, seperti:
-
rumah sakit
-
sekolah
-
jalan
-
infrastruktur dasar
Ajay Banga berulang kali menegaskan bahwa pembangunan dan aksi iklim tidak perlu dipertentangkan. Menurutnya, proyek yang membantu masyarakat keluar dari kemiskinan pada saat yang sama juga dapat memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim.
Namun banyak negara berkembang tidak sepenuhnya sepakat. Jika pembangunan dan iklim memang selalu berjalan searah, mengapa pembiayaan iklim harus memiliki kuota tersendiri?
Ketika Anggaran Berhenti Tumbuh
Perdebatan itu semakin tajam ketika sumber pendanaan mulai menyusut.
Sepanjang 2024, Bank Dunia hampir memenuhi targetnya dengan menyalurkan US$43 miliar, atau sekitar 44% dari total pinjaman tahunan, untuk proyek terkait iklim.
Namun pada saat yang sama, banyak negara maju mulai mengurangi anggaran bantuan pembangunan. Kontribusi kepada Bank Dunia praktis tidak lagi bertambah secara riil, sementara kebutuhan pembiayaan terus meningkat.
Â
Di situlah persoalannya. Ketika total dana tidak bertambah, setiap tambahan pembiayaan untuk satu sektor berarti ruang bagi sektor lain ikut menyempit.
Washington Mengubah Permainan
Perubahan arah mulai terlihat setelah Donald Trump kembali menjadi Presiden Amerika Serikat pada 2025.
Pada Oktober tahun itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan fokus Bank Dunia terhadap agenda iklim mulai mengalihkan perhatian dari tugas utamanya, yakni membantu negara-negara miskin bertumbuh. Ia juga mengisyaratkan bahwa dukungan Amerika bisa terpengaruh bila arah tersebut tidak berubah.
Pernyataan itu sulit diabaikan. Amerika Serikat merupakan pemegang saham terbesar Bank Dunia sekaligus memiliki pengaruh paling besar terhadap arah kebijakan lembaga tersebut.
Memasuki April 2026, pejabat Departemen Keuangan AS mulai mendorong penghapusan target pembiayaan iklim. Berbagai langkah Ajay Banga untuk menjaga hubungan dengan pemerintahan Trump pada akhirnya tidak mampu membendung perubahan tersebut.
Eropa Kehilangan Momentum
Sejumlah negara Eropa berusaha mempertahankan target pembiayaan iklim.
Namun posisinya semakin lemah. Perang Iran membuat isu keamanan energi kembali mengemuka, sementara komitmen net zero yang berpotensi menaikkan harga energi semakin sulit dipertahankan secara politik di banyak negara.
Dukungan terhadap target iklim ikut terkikis seiring berubahnya prioritas pemerintah.
Dilema yang Sebenarnya
Negara-negara berkembang masih membutuhkan jalan, pelabuhan, jaringan listrik, sekolah, dan rumah sakit untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Pada saat yang sama, mereka juga didorong mempercepat dekarbonisasi dan berinvestasi pada proyek-proyek yang lebih ramah lingkungan.
Semakin terbatas sumber pendanaannya, semakin sulit memenuhi dua tujuan tersebut dalam waktu bersamaan.
Perdebatan mengenai Bank Dunia tidak pernah benar-benar berkisar pada angka 45%, ketika uang pembangunan terbatas, siapa yang menentukan kebutuhan mana yang harus didahulukan.
Â
(mae/mae) Addsource on Google