Lanjut ke Rupiah, Mata uang Garuda berhasil tampil perkasa dalam menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (10/6/2026).
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street kompak melemah pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia setelah pasukan Amerika Serikat mulai melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah target di Iran.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 953,33 poin atau 1,87% ke level 49.918,78. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,62% menjadi 7.266,99 dan Nasdaq Composite anjlok 1,98% ke posisi 25.169,50.
Ketiga indeks utama Wall Street jatuh setelah Trump berjanji akan melancarkan serangan tambahan terhadap Iran. Ia mengatakan bahwa kami akan menyerang mereka dengan sangat keras.
Dalam unggahannya pada Rabu pagi, Trump menulis bahwa Iran telah terlalu lama menunda negosiasi untuk mencapai kesepakatan yang sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka, dan sekarang mereka harus membayar harganya!!!".
Amerika Serikat mulai melancarkan serangan ke Iran pada Rabu, menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM).
Dalam unggahan di platform X, CENTCOM menyatakan militer AS mulai "melancarkan serangan tambahan untuk pertahanan diri pada pukul 17.15 waktu ET terhadap sejumlah target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi." Unggahan tersebut menegaskan bahwa serangan dilakukan "sebagai respons atas agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut."
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran telah menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz dengan serangan rudal dan drone.
Harga minyak melonjak setelah ancaman tersebut. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,07% dan ditutup di US$90,03 per barel, sedangkan minyak Brent menguat 1,8% ke US$93,10 per barel.
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat pada Selasa malam setelah pasukan AS melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS pada Senin, menurut Komando Pusat AS. Sebelumnya, Trump menuduh Iran menembak jatuh helikopter tersebut yang sedang berpatroli di Selat Hormuz.
"Perkembangan perang Iran ini sangat berdampak besar," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, dikutip dari CNBC International.
"Investor mungkin akan terbukti benar bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Trump akan mengatasinya, akan ada kesepakatan dengan Iran dan Selat Hormuz kembali terbuka. Namun jika tidak, rasanya harga minyak harus naik jauh lebih tinggi lagi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi investasi saat ini, sangat sulit bagi investor untuk merasa nyaman.
Saham-saham sektor chip kembali berada di bawah tekanan pada Rabu. Saham Micron Technology, Advanced Micro Devices, dan Broadcom turun untuk hari keempat dalam lima sesi perdagangan terakhir.
ETF semikonduktor iShares Semiconductor ETF (SOXX) merosot lebih dari 3% setelah kembali melemah sejak Selasa.
Pekan lalu, saham-saham chip sempat terpukul hebat hingga membuat SOXX anjlok 10% hanya dalam sehari pada Jumat. Setelah sempat rebound tipis pada Senin, aksi jual kembali berlanjut pada Selasa.
Tekanan pada saham chip terjadi menjelang penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX pada Jumat.
Sejumlah pelaku pasar menilai investor, terutama investor ritel, menjual sebagian saham chip yang telah mencatat kenaikan besar untuk menyediakan dana guna membeli saham pada IPO terbesar sepanjang sejarah tersebut.
Namun, sebagian analis menilai pelemahan ini hanyalah aksi ambil untung setelah reli yang sangat cepat.
Meski demikian, ETF SOXX masih mencatat kenaikan sekitar 80% sepanjang tahun ini.
Dari sisi ekonomi, data inflasi inti AS (core CPI), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, menunjukkan kenaikan yang lebih rendah dari perkiraan pada Mei. Core CPI naik 0,2% secara bulanan, lebih rendah dibanding ekspektasi pasar sebesar 0,3%.
Secara tahunan, inflasi inti berada di level 2,9%, sesuai perkiraan analis, tetapi masih di atas target inflasi 2% yang ditetapkan Federal Reserve.
Sementara itu, inflasi umum (headline inflation) yang mencakup seluruh komponen harga naik menembus 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.
Pasukan Amerika Serikat mulai melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah target di Iran pada pukul 17.15 waktu EDT (21.15 GMT), menurut pernyataan United States Central Command yang diunggah di platform X pada Rabu.
"Serangan ini merupakan respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut," kata pihak militer AS.
Menurut sejumlah laporan media AS, serangan tersebut menargetkan fasilitas-fasilitas penting Iran, termasuk gudang amunisi, pusat komando dan kendali, serta fasilitas logistik militer. Langkah ini menjadi eskalasi terbaru dalam ketegangan antara Washington dan Teheran setelah insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz.
Pasar keuangan Indonesia pada hari ini masih akan dihadapkan dengan dinamika mulai dari perang hingga investor yang terus mencermati ketahanan fiskal dalam negeri maupun kelanjutan makroekonomi global.
IHSG dan rupiah sedang dalam tahap penguatan. Namun, pesta IHSG dan rupiah bisa dirusak oleh duua kabar buruk dari Amerika Serikat yakni serangan baru dari tentara AS serta inflasi AS yang melonjak.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. Perang Memanas
Perang Iran vs AS memanas lagi setelah Amerika Serikat mulai melancarkan serangan ke Iran pada Rabu, menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM).
Dalam unggahan di platform X, CENTCOM menyatakan militer AS mulai "melancarkan serangan tambahan untuk pertahanan diri pada pukul 17.15 waktu ET terhadap sejumlah target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi." Unggahan tersebut menegaskan bahwa serangan dilakukan "sebagai respons atas agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut."
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran telah menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz dengan serangan rudal dan drone.
Serangan terbaru ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan sebelumnya pada Rabu bahwa AS akan kembali menghantam Iran "dengan sangat keras", meningkatkan ancaman publiknya sambil terus menekan Teheran agar menandatangani sebuah kesepakatan.
"Kami menghantam mereka dengan keras kemarin, dan kami akan menghantam mereka dengan keras lagi hari ini," kata Trump dalam acara penandatanganan Secure America Act di Gedung Putih.
"Kami akan menyerang mereka dan menyerang mereka dengan sangat keras," tambahnya.
Trump mengatakan Iran "seharusnya menandatangani kesepakatan" dan menegaskan bahwa AS menginginkan sebuah perjanjian yang "bermakna dan efektif."
"Kita lihat saja nanti apa yang terjadi dengan kesepakatan itu," ujar Trump.
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menulis di platform X bahwa "kali ini, perang tidak akan terbatas pada kawasan ini."
Komentar itu muncul setelah Trump memperingatkan melalui Truth Social bahwa Iran terlalu lama bernegosiasi dan akan "membayar harganya" di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Washington dan Teheran.
"Militer Iran benar-benar berantakan," tulis Trump pada Rabu pagi.
"Sebagian besar kekuatannya, seperti angkatan laut dan angkatan udara, bahkan praktis sudah tidak ada lagi. Mereka telah dikalahkan sepenuhnya. Iran hanya banyak bicara tanpa tindakan," lanjutnya.
Harga minyak melonjak dan kontrak berjangka saham AS melemah setelah komentar Trump. Minyak mentah AS naik hampir 2% menjadi US$89,72 per barel, sementara Brent menguat 1,3% menjadi US$92,74 per barel. Indeks Dow Jones bahkan sempat turun lebih dari 600 poin setelah pernyataan tersebut.
Trump menyebut operasi tersebut sebagai operasi militer dan kembali menegaskan keyakinannya bahwa harga minyak akan kembali ke level sebelum perang pecah pada Februari lalu.
"Ketika semua ini berakhir, Anda akan melihat harga minyak kembali turun ke level sebelum perang," kata Trump.
Sebelumnya pekan ini, Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, mengatakan kepada CNBC bahwa harga minyak berpotensi melonjak hingga US$150 per barel dalam beberapa bulan ke depan apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut, mengingat persediaan minyak global saat ini berada pada level yang sangat rendah.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat pada Selasa setelah pasukan AS melancarkan serangan terhadap Iran. CENTCOM menyebut serangan itu dilakukan sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS sehari sebelumnya.
Iran hingga kini belum secara langsung mengklaim bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter tersebut. Sementara itu, media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa tidak ada operasi militer ofensif yang dilakukan di Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir.
Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait perkembangan tersebut.
2. Inflasi Amerika
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat Rabu malam merilis data inflasi periode Mei 2026 yang menunjukkan akselerasi inflasi tahunan ke level 4,2%. Angka ini naik dari posisi 3,8% pada bulan April dan mencetak rekor tertinggi sejak April 2023.
Secara bulanan, inflasi umum mencatatkan kenaikan 0,5%. Lonjakan inflasi utama ini secara spesifik didominasi oleh melesatnya indeks harga energi hingga 3,9% secara bulanan atau 23,5% secara tahunan akibat tekanan pasar komoditas.
Sebaliknya, inflasi inti yang mengecualikan sektor energi dan pangan tampil lebih moderat dengan kenaikan 0,2% secara bulanan dan 2,9% secara tahunan.
Merespons data inflasi kemarin, pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan 17 Juni mendatang, dengan potensi kenaikan baru diprediksi mundur hingga bulan Desember.
Di tengah dinamika pengetatan tersebut, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, justru mengindikasikan bahwa suku bunga memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah di masa depan.
Warsh meyakini bahwa lonjakan produktivitas dari pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan akan memberikan dampak disinflasi yang signifikan bagi perekonomian secara keseluruhan.
3. Inflasi IHK dan PPI China Mei 2026
Menyambung rilis inflasi Amerika Serikat, kedua negara terdampak dari kenaikan inflasi secara signifikan akibat masih belanjutnya perang di kawan Timur Tengah hingga meningkatkan harga minyak beserta berbagai komoditas lainnya.
Data inflasi konsumen tercatat di level 1,2% dan inflasi produsen di angka 2,8%, berikut adalah data terbaru yang keluar kemarin Rabu (10/6/2026) untuk periode Mei 2026.
Biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan tingkat inflasi konsumen tahunan bertahan stabil di posisi 1,2%, sedikit di bawah ekspektasi pasar yang mematok 1,3%.
Pergerakan ini ditopang oleh inflasi non-pangan sebesar 1,9%, di mana biaya transportasi memimpin lonjakan sebesar 5,4% imbas naiknya harga energi dan gangguan rantai pasok dari konflik Timur Tengah.
Sebaliknya, harga pangan mengalami kontraksi tajam sebesar -1,7%. Di saat yang bersamaan, Indeks Harga Produsen Tiongkok dilaporkan melonjak 3,9% secara tahunan pada bulan Mei, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Laju ini merupakan yang tercepat sejak Juli 2022, didorong oleh melesatnya harga komoditas dan energi global. Biaya material produksi naik 5,2%, dengan sektor pertambangan memimpin lonjakan hingga 15,8%.
4. Laporan Survei Konsumen Mei 2026
Rilis data laporan survei konsumen pada Mei 2026 kemarin Rabu (10/6/2026) terpantau mengalami perubahan yang beragam.
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Mei 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 120,9.
Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 turun menjadi 120,9 dari 123,0 pada April. Meski masih berada di zona optimistis (di atas 100), level ini menjadi yang terendah sejak September 2025.
Saat itu, keyakinan konsumen tertekan akibat gelombang demonstrasi besar yang memicu ketidakpastian. Kini, penurunan IKK kembali menjadi sinyal bahwa optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi mulai terkikis di tengah berbagai tantangan ekonomi dan global.
Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) ada di 112,2 lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 116,5.
Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan diprakirakan sedikit meningkat. Hal ini tecermin dari indeks di Mei 2026 sebesar 129,7, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan indeks pada
bulan sebelumnya sebesar 129,6.
5. Penjualan Eceran Indonesia April 2026
Menjelang rilis data penjualan eceran yang dijadwalkan keluar hari ini Kamis (11/6/2026), Bank Indonesia sebelumnya mencatat bahwa penjualan eceran domestik tumbuh 3,4% secara tahunan pada bulan Maret 2026.
Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 6,5%, sekaligus menandai laju terlemah sejak Juni 2025. Perlambatan ini dipicu oleh normalisasi konsumsi pasca-perayaan serta tekanan biaya hidup.
Sektor makanan, minuman, dan tembakau melandai ke level 4,7%, sementara sektor pakaian terkontraksi -2,4%. Meski secara tahunan melambat, penjualan eceran secara bulanan justru mencatatkan lonjakan tajam 10,3%.
Untuk rilis data periode April 2026 esok hari, aktivitas ritel diproyeksikan akan tumbuh moderat di kisaran 3,4% hingga 3,6%, dengan bayang-bayang pelemahan daya beli masyarakat akibat penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi.
6. Rapat Bank Sentral Eropa
Pada hari ini akan dilaksanakan Rapat Bank Sentral Eropa
Berdasarkan risalah rapat terbaru, sejumlah anggota Bank Sentral Eropa memandang keputusan penahanan suku bunga pada bulan April lalu sebagai sebuah pilihan yang sangat ketat, di mana beberapa pihak mengindikasikan kesiapannya untuk mendukung kenaikan.
Para pembuat kebijakan memberikan peringatan bahwa kejutan pasokan akibat krisis energi dan konflik di Timur Tengah terbukti lebih persisten dari estimasi awal, yang pada akhirnya meningkatkan risiko rambatan tekanan inflasi secara luas.
Institusi ini menghadapi dilema yang semakin menantang akibat melambatnya aktivitas ekonomi yang terjadi bersamaan dengan menguatnya risiko inflasi.
Mengantisipasi dinamika tersebut, pelaku pasar dan investor memproyeksikan Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan tanggal 11 Juni 2026 mengingat data CPI AS kembali melonjak.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Penjualan Eceran Indonesia April 2026
- Pertemuan Sentral Bank Uni Eropa
- PPI Amerika Serikat Mei 2026
- Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Koperasi di ruang rapat Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta Pusat
- Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dengan Kepala BP Sabang dan Ketua KPPU di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Jakarta Pusat
- Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Jakarta Pusat
- Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Pekerjaan Umum di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Jakarta Pusat
- Pemaparan Program BSPS 2026: Kebijakan, Target dan Capaian Program di Gedung Sinergi 8, Jakarta Pusat. Narasumber: Direktur Jenderal Kawasan Permukiman
- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menyelenggarakan Public Expose Live (Pubex Live) 2026 via zoom webinar
- Komisi XI DPR menggelar Rapat Kerja dengan Menteri Keuangan, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Gubernur Bank Indonesia dan Ketua DK OJK di ruang rapat Komisi XI DPR, Senayan, Jakarta Pusat
- GARUDA AI Impact Summit 2026 di The Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta Selatan
- XLSMART menggelar BRAVO 500 Summit di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Asuransi Bintang Tbk (ASBI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Himalaya Energi Perkasa Tbk (HADE)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Gozco Plantations Tbk (GZCO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT OBM Drilchem Tbk (OBMD)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Argo Pantes Tbk (ARGO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Kentanix Supra International Tbk (KSIX)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bayan Resources Tbk (BYAN)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Intiland Development Tbk (DILD)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Aneka Tambang Tbk (ANTM)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Satu Visi Putra Tbk (VISI)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Ace Oldfields Tbk (KUAS)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Bayu Buana Tbk (BAYU)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Citra Tubindo Tbk (CTBN)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Tera Data Indonusa Tbk (AXIO)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Metropolitan Land Tbk (MTLA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Nusantara Infrastructure Tbk (META)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Kokoh Exa Nusantara (KOCI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Emdeki Utama Tbk (MDKI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Vale Indonesia Tbk (INCO)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Estee Gold Feet Tbk (EURO)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Temas Tbk (TMAS)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP)
-
Hasil Tahunan Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST)
-
Hasil RUPS Tahunan dan Luar Biasa Sat Nusapersada Tbk (PTSN)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Indo American Seafoods Tbk (ISEA)
-
Hasil RUPS Independen PT Meta Epsi Tbk (MTPS)
-
Hasil RUPS Tahunan Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA)
-
Hasil RUPS Tahunan Betonjaya Manunggal Tbk (BTON)
-
Hasil Tahunan PT Indo American Seafoods Tbk (ISEA)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)
-
Hasil RUPS Tahunan Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]