IHSG & Rupiah Lagi Mabuk Kenaikan, Dua Badai dari AS Bisa Bikin Buyar
Pasar keuangan Indonesia pada hari ini masih akan dihadapkan dengan dinamika mulai dari perang hingga investor yang terus mencermati ketahanan fiskal dalam negeri maupun kelanjutan makroekonomi global.
IHSG dan rupiah sedang dalam tahap penguatan. Namun, pesta IHSG dan rupiah bisa dirusak oleh duua kabar buruk dari Amerika Serikat yakni serangan baru dari tentara AS serta inflasi AS yang melonjak.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. Perang Memanas
Perang Iran vs AS memanas lagi setelah Amerika Serikat mulai melancarkan serangan ke Iran pada Rabu, menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM).
Dalam unggahan di platform X, CENTCOM menyatakan militer AS mulai "melancarkan serangan tambahan untuk pertahanan diri pada pukul 17.15 waktu ET terhadap sejumlah target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi." Unggahan tersebut menegaskan bahwa serangan dilakukan "sebagai respons atas agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut."
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran telah menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz dengan serangan rudal dan drone.
Serangan terbaru ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan sebelumnya pada Rabu bahwa AS akan kembali menghantam Iran "dengan sangat keras", meningkatkan ancaman publiknya sambil terus menekan Teheran agar menandatangani sebuah kesepakatan.
"Kami menghantam mereka dengan keras kemarin, dan kami akan menghantam mereka dengan keras lagi hari ini," kata Trump dalam acara penandatanganan Secure America Act di Gedung Putih.
"Kami akan menyerang mereka dan menyerang mereka dengan sangat keras," tambahnya.
Trump mengatakan Iran "seharusnya menandatangani kesepakatan" dan menegaskan bahwa AS menginginkan sebuah perjanjian yang "bermakna dan efektif."
"Kita lihat saja nanti apa yang terjadi dengan kesepakatan itu," ujar Trump.
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menulis di platform X bahwa "kali ini, perang tidak akan terbatas pada kawasan ini."
Komentar itu muncul setelah Trump memperingatkan melalui Truth Social bahwa Iran terlalu lama bernegosiasi dan akan "membayar harganya" di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Washington dan Teheran.
"Militer Iran benar-benar berantakan," tulis Trump pada Rabu pagi.
"Sebagian besar kekuatannya, seperti angkatan laut dan angkatan udara, bahkan praktis sudah tidak ada lagi. Mereka telah dikalahkan sepenuhnya. Iran hanya banyak bicara tanpa tindakan," lanjutnya.
Harga minyak melonjak dan kontrak berjangka saham AS melemah setelah komentar Trump. Minyak mentah AS naik hampir 2% menjadi US$89,72 per barel, sementara Brent menguat 1,3% menjadi US$92,74 per barel. Indeks Dow Jones bahkan sempat turun lebih dari 600 poin setelah pernyataan tersebut.
Trump menyebut operasi tersebut sebagai operasi militer dan kembali menegaskan keyakinannya bahwa harga minyak akan kembali ke level sebelum perang pecah pada Februari lalu.
"Ketika semua ini berakhir, Anda akan melihat harga minyak kembali turun ke level sebelum perang," kata Trump.
Sebelumnya pekan ini, Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, mengatakan kepada CNBC bahwa harga minyak berpotensi melonjak hingga US$150 per barel dalam beberapa bulan ke depan apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut, mengingat persediaan minyak global saat ini berada pada level yang sangat rendah.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat pada Selasa setelah pasukan AS melancarkan serangan terhadap Iran. CENTCOM menyebut serangan itu dilakukan sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS sehari sebelumnya.
Iran hingga kini belum secara langsung mengklaim bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter tersebut. Sementara itu, media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa tidak ada operasi militer ofensif yang dilakukan di Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir.
Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait perkembangan tersebut.
2. Inflasi Amerika
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat Rabu malam merilis data inflasi periode Mei 2026 yang menunjukkan akselerasi inflasi tahunan ke level 4,2%. Angka ini naik dari posisi 3,8% pada bulan April dan mencetak rekor tertinggi sejak April 2023.
Secara bulanan, inflasi umum mencatatkan kenaikan 0,5%. Lonjakan inflasi utama ini secara spesifik didominasi oleh melesatnya indeks harga energi hingga 3,9% secara bulanan atau 23,5% secara tahunan akibat tekanan pasar komoditas.
Sebaliknya, inflasi inti yang mengecualikan sektor energi dan pangan tampil lebih moderat dengan kenaikan 0,2% secara bulanan dan 2,9% secara tahunan.
Merespons data inflasi kemarin, pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan 17 Juni mendatang, dengan potensi kenaikan baru diprediksi mundur hingga bulan Desember.
Di tengah dinamika pengetatan tersebut, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, justru mengindikasikan bahwa suku bunga memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah di masa depan.
Warsh meyakini bahwa lonjakan produktivitas dari pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan akan memberikan dampak disinflasi yang signifikan bagi perekonomian secara keseluruhan.
3. Inflasi IHK dan PPI China Mei 2026
Menyambung rilis inflasi Amerika Serikat, kedua negara terdampak dari kenaikan inflasi secara signifikan akibat masih belanjutnya perang di kawan Timur Tengah hingga meningkatkan harga minyak beserta berbagai komoditas lainnya.
Data inflasi konsumen tercatat di level 1,2% dan inflasi produsen di angka 2,8%, berikut adalah data terbaru yang keluar kemarin Rabu (10/6/2026) untuk periode Mei 2026.
Biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan tingkat inflasi konsumen tahunan bertahan stabil di posisi 1,2%, sedikit di bawah ekspektasi pasar yang mematok 1,3%.
Pergerakan ini ditopang oleh inflasi non-pangan sebesar 1,9%, di mana biaya transportasi memimpin lonjakan sebesar 5,4% imbas naiknya harga energi dan gangguan rantai pasok dari konflik Timur Tengah.
Sebaliknya, harga pangan mengalami kontraksi tajam sebesar -1,7%. Di saat yang bersamaan, Indeks Harga Produsen Tiongkok dilaporkan melonjak 3,9% secara tahunan pada bulan Mei, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Laju ini merupakan yang tercepat sejak Juli 2022, didorong oleh melesatnya harga komoditas dan energi global. Biaya material produksi naik 5,2%, dengan sektor pertambangan memimpin lonjakan hingga 15,8%.
4. Laporan Survei Konsumen Mei 2026
Rilis data laporan survei konsumen pada Mei 2026 kemarin Rabu (10/6/2026) terpantau mengalami perubahan yang beragam.
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Mei 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 120,9.
Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 turun menjadi 120,9 dari 123,0 pada April. Meski masih berada di zona optimistis (di atas 100), level ini menjadi yang terendah sejak September 2025.
Saat itu, keyakinan konsumen tertekan akibat gelombang demonstrasi besar yang memicu ketidakpastian. Kini, penurunan IKK kembali menjadi sinyal bahwa optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi mulai terkikis di tengah berbagai tantangan ekonomi dan global.
Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) ada di 112,2 lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 116,5.
Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan diprakirakan sedikit meningkat. Hal ini tecermin dari indeks di Mei 2026 sebesar 129,7, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan indeks pada
bulan sebelumnya sebesar 129,6.
5. Penjualan Eceran Indonesia April 2026
Menjelang rilis data penjualan eceran yang dijadwalkan keluar hari ini Kamis (11/6/2026), Bank Indonesia sebelumnya mencatat bahwa penjualan eceran domestik tumbuh 3,4% secara tahunan pada bulan Maret 2026.
Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 6,5%, sekaligus menandai laju terlemah sejak Juni 2025. Perlambatan ini dipicu oleh normalisasi konsumsi pasca-perayaan serta tekanan biaya hidup.
Sektor makanan, minuman, dan tembakau melandai ke level 4,7%, sementara sektor pakaian terkontraksi -2,4%. Meski secara tahunan melambat, penjualan eceran secara bulanan justru mencatatkan lonjakan tajam 10,3%.
Untuk rilis data periode April 2026 esok hari, aktivitas ritel diproyeksikan akan tumbuh moderat di kisaran 3,4% hingga 3,6%, dengan bayang-bayang pelemahan daya beli masyarakat akibat penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi.
6. Rapat Bank Sentral Eropa
Pada hari ini akan dilaksanakan Rapat Bank Sentral Eropa
Berdasarkan risalah rapat terbaru, sejumlah anggota Bank Sentral Eropa memandang keputusan penahanan suku bunga pada bulan April lalu sebagai sebuah pilihan yang sangat ketat, di mana beberapa pihak mengindikasikan kesiapannya untuk mendukung kenaikan.
Para pembuat kebijakan memberikan peringatan bahwa kejutan pasokan akibat krisis energi dan konflik di Timur Tengah terbukti lebih persisten dari estimasi awal, yang pada akhirnya meningkatkan risiko rambatan tekanan inflasi secara luas.
Institusi ini menghadapi dilema yang semakin menantang akibat melambatnya aktivitas ekonomi yang terjadi bersamaan dengan menguatnya risiko inflasi.
Mengantisipasi dinamika tersebut, pelaku pasar dan investor memproyeksikan Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan tanggal 11 Juni 2026 mengingat data CPI AS kembali melonjak.
(gls/gls) Addsource on Google