IHSG & Rupiah Lagi Mabuk Kenaikan, Dua Badai dari AS Bisa Bikin Buyar
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street kompak melemah pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia setelah pasukan Amerika Serikat mulai melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah target di Iran.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 953,33 poin atau 1,87% ke level 49.918,78. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,62% menjadi 7.266,99 dan Nasdaq Composite anjlok 1,98% ke posisi 25.169,50.
Ketiga indeks utama Wall Street jatuh setelah Trump berjanji akan melancarkan serangan tambahan terhadap Iran. Ia mengatakan bahwa kami akan menyerang mereka dengan sangat keras.
Dalam unggahannya pada Rabu pagi, Trump menulis bahwa Iran telah terlalu lama menunda negosiasi untuk mencapai kesepakatan yang sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka, dan sekarang mereka harus membayar harganya!!!".
Amerika Serikat mulai melancarkan serangan ke Iran pada Rabu, menurut pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM).
Dalam unggahan di platform X, CENTCOM menyatakan militer AS mulai "melancarkan serangan tambahan untuk pertahanan diri pada pukul 17.15 waktu ET terhadap sejumlah target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi." Unggahan tersebut menegaskan bahwa serangan dilakukan "sebagai respons atas agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut."
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran telah menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz dengan serangan rudal dan drone.
Harga minyak melonjak setelah ancaman tersebut. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,07% dan ditutup di US$90,03 per barel, sedangkan minyak Brent menguat 1,8% ke US$93,10 per barel.
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat pada Selasa malam setelah pasukan AS melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS pada Senin, menurut Komando Pusat AS. Sebelumnya, Trump menuduh Iran menembak jatuh helikopter tersebut yang sedang berpatroli di Selat Hormuz.
"Perkembangan perang Iran ini sangat berdampak besar," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, dikutip dari CNBC International.
"Investor mungkin akan terbukti benar bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Trump akan mengatasinya, akan ada kesepakatan dengan Iran dan Selat Hormuz kembali terbuka. Namun jika tidak, rasanya harga minyak harus naik jauh lebih tinggi lagi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi investasi saat ini, sangat sulit bagi investor untuk merasa nyaman.
Saham-saham sektor chip kembali berada di bawah tekanan pada Rabu. Saham Micron Technology, Advanced Micro Devices, dan Broadcom turun untuk hari keempat dalam lima sesi perdagangan terakhir.
ETF semikonduktor iShares Semiconductor ETF (SOXX) merosot lebih dari 3% setelah kembali melemah sejak Selasa.
Pekan lalu, saham-saham chip sempat terpukul hebat hingga membuat SOXX anjlok 10% hanya dalam sehari pada Jumat. Setelah sempat rebound tipis pada Senin, aksi jual kembali berlanjut pada Selasa.
Tekanan pada saham chip terjadi menjelang penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX pada Jumat.
Sejumlah pelaku pasar menilai investor, terutama investor ritel, menjual sebagian saham chip yang telah mencatat kenaikan besar untuk menyediakan dana guna membeli saham pada IPO terbesar sepanjang sejarah tersebut.
Namun, sebagian analis menilai pelemahan ini hanyalah aksi ambil untung setelah reli yang sangat cepat.
Meski demikian, ETF SOXX masih mencatat kenaikan sekitar 80% sepanjang tahun ini.
Dari sisi ekonomi, data inflasi inti AS (core CPI), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, menunjukkan kenaikan yang lebih rendah dari perkiraan pada Mei. Core CPI naik 0,2% secara bulanan, lebih rendah dibanding ekspektasi pasar sebesar 0,3%.
Secara tahunan, inflasi inti berada di level 2,9%, sesuai perkiraan analis, tetapi masih di atas target inflasi 2% yang ditetapkan Federal Reserve.
Sementara itu, inflasi umum (headline inflation) yang mencakup seluruh komponen harga naik menembus 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.
Pasukan Amerika Serikat mulai melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah target di Iran pada pukul 17.15 waktu EDT (21.15 GMT), menurut pernyataan United States Central Command yang diunggah di platform X pada Rabu.
"Serangan ini merupakan respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut," kata pihak militer AS.
Menurut sejumlah laporan media AS, serangan tersebut menargetkan fasilitas-fasilitas penting Iran, termasuk gudang amunisi, pusat komando dan kendali, serta fasilitas logistik militer. Langkah ini menjadi eskalasi terbaru dalam ketegangan antara Washington dan Teheran setelah insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz.
(gls/gls) Addsource on Google