3 Alarm RI Menyala: IHSG Ambruk, Rupiah Jatuh, Yield Utang Melonjak
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street mayoritas menguat pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Bursamenguat setelah saham-saham chip bangkit dari aksi jual besar pada Jumat lalu. Sentimen pasar juga terbantu oleh upaya Presiden AS Donald Trump mempertahankan gencatan senjata yang rapuh di tengah saling serang antara Iran dan Israel.
Indeks pasar luas S&P 500 naik 0,30% dan ditutup di level 7.405,73. Nasdaq yang didominasi saham teknologi menguat 0,86% ke posisi 25.929,66. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 80,77 poin atau 0,16% ke level 50.786,01.
Saham Micron Technology, produsen chip memori yang menjadi motor reli pasar bullish terbaru, melonjak hampir 10% setelah anjlok 13% pada Jumat lalu. Saham Nvidia dan Broadcom juga ditutup di zona hijau.
Nasdaq Composite sempat jatuh 4,2% pada Jumat, penurunan harian terburuk sejak April 2025.
Investor mengambil keuntungan dari saham-saham chip karena khawatir valuasinya sudah terlalu tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi.
ETF semikonduktor iShares Semiconductor ETF naik hampir 6% pada Senin setelah merosot 10% pada Jumat, yang merupakan penurunan harian terburuknya dalam lebih dari enam tahun.
Pasar Asia-Pasifik ikut terpukul pada Senin akibat kejatuhan Nasdaq sebelumnya. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan dengan anjlok lebih dari 8% ke level 7.484,41. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 3,85% menjadi 64.024,6. Sementara itu, indeks Stoxx 600 Eropa ditutup sedikit lebih rendah.
Serangan Iran pada Minggu kembali memunculkan kekhawatiran mengenai stabilitas gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Serangan rudal tersebut terjadi setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menulis di platform X bahwa blokade laut AS dan dugaan pelanggaran kesepakatan terkait Lebanon merupakan bentuk pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Harga minyak sempat menguat setelah Israel melakukan serangan besar-besaran terhadap sistem pertahanan strategis pada Senin, menurut akun X Pasukan Pertahanan Israel (IDF), sebagai respons atas serangan Iran.
Namun Trump mengatakan bahwa Israel dan Iran sedang mengupayakan gencatan senjata segera dan negosiasi tetap berjalan meski serangan masih terjadi. Sebelumnya, Trump juga menyerukan agar kedua negara segera menghentikan serangan.
Kementerian Luar Negeri Iran kemudian mengatakan operasi militer Iran terhadap Israel telah berakhir. Namun Teheran memperingatkan bahwa permusuhan dapat kembali dimulai jika Israel terus menyerang Lebanon.
Seiring perkembangan tersebut, harga minyak menjauh dari level tertinggi hariannya. Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 0,84% dan ditutup di US$91,30 per barel. Sementara Brent menguat 1,25% ke US$94,25 per barel.
"Pasar saat ini terus menimbang berbagai katalis dan potensi risiko dalam satu neraca," kata William Northey, Direktur Investasi di U.S. Bank Asset Management, kepada CNBC Inetrnational.
Menurutnya, fundamental ekonomi AS yang masih kuat ditopang oleh konsumsi masyarakat, belanja modal perusahaan, dan siklus laba korporasi sejauh ini lebih dominan dibandingkan risiko yang berasal dari konflik Timur Tengah.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin besar potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi karena dapat memicu tekanan inflasi yang tidak lagi bersifat sementara.
Pada pekan ini, investor akan mencermati data inflasi AS serta debut publik perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, pada Jumat mendatang.
Penawaran saham tersebut diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Wall Street dan berpotensi menjadi ujian terbesar sejauh ini terhadap narasi valuasi saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
"Penawaran saham raksasa sering kali menandai puncak euforia dalam siklus pasar sebelumnya, sehingga ada semacam keheningan yang canggung mengenai apa arti IPO ini bagi sentimen pasar," ujar Callie Cox, Kepala Strategi Pasar di Ritholtz Wealth Management.
"Banyak investor tampak tetap berhati-hati dan skeptis. Namun, apakah sikap seperti itu bisa bertahan ketika IPO terbesar sepanjang masa sudah di depan mata?" tambahnya.
(gls/gls) Addsource on Google