Sejarah Baru! Permintaan Emas Fisik Kalahkan Perhiasan
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga emas dunia diperkirakan masih akan mencetak rekor baru pada tahun ini. Konsultan logam mulia Metals Focus memperkirakan rata-rata harga emas sepanjang 2026 mencapai US$ 4.920 per troy ons, melonjak 43% dibandingkan rata-rata tahun lalu yang berada di level US$ 3.432 per ons.
Proyeksi tersebut muncul setelah emas membukukan kenaikan tahunan 44% pada 2025, performa terbaik sejak 1980.
Melansir dari laporan Gold Focus 2026, Metals Focus menilai faktor-faktor yang mendorong reli emas sepanjang tahun lalu masih bertahan.
Ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat, kekhawatiran terhadap prospek jangka panjang dolar AS, tingginya risiko geopolitik, serta valuasi pasar saham yang sudah mahal membuat emas tetap dipandang sebagai aset pelindung nilai oleh investor global.
Â
Di tengah proyeksi kenaikan harga tersebut, pasar emas global sedang mengalami perubahan yang cukup besar. Selama bertahun-tahun, permintaan emas banyak ditopang oleh sektor perhiasan dan pembelian bank sentral.
Tahun ini, peta tersebut mulai bergeser. Metals Focus memperkirakan investasi fisik berupa emas batangan dan koin mencapai 1.615 ton pada 2026, melampaui permintaan perhiasan yang diproyeksikan sebesar 1.459 ton. Untuk pertama kalinya dalam data yang dihimpun lembaga tersebut, investasi fisik menjadi kategori permintaan terbesar di pasar emas.
Perubahan tersebut terlihat jelas dari perkembangan dua tahun terakhir. Permintaan perhiasan global turun dari 2.025 ton pada 2024 menjadi 1.646 ton pada 2025 dan diperkirakan kembali turun menjadi 1.459 ton pada 2026.
Harga emas yang terus mencetak rekor membuat konsumen mengurangi pembelian, memilih produk dengan berat lebih ringan, atau beralih ke alternatif lain yang lebih murah. Pada periode yang sama, investasi fisik meningkat dari 1.211 ton menjadi 1.404 ton dan diperkirakan bertambah menjadi 1.615 ton tahun ini.
Laporan Reuters mengutip Metals Focus menyebut China akan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan permintaan investasi emas fisik.
Kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian membuat minat masyarakat dan investor terhadap aset aman tetap tinggi. Arus dana juga masih mengalir ke instrumen berbasis emas meskipun harga telah bergerak jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu.
Perubahan lain muncul dari kelompok pembeli yang selama ini menjadi penopang utama pasar emas, yakni bank sentral.
Diperkirakan pembelian bersih bank sentral turun dari 848 ton pada 2025 menjadi sekitar 720 ton pada 2026. Kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik membuat sejumlah negara harus lebih aktif menjaga stabilitas nilai tukar. Dalam kondisi tersebut, cadangan devisa yang likuid menjadi semakin penting sehingga sebagian bank sentral mengurangi akumulasi emas atau menggunakan cadangan yang telah dimiliki.
Pada April 2026, Polandia menambah 14 ton emas ke dalam cadangannya. China membeli 8,1 ton, sementara Republik Ceko menambah 2,5 ton. Kazakhstan dan Bolivia juga tercatat melakukan pembelian. Di sisi lain, Rusia mengurangi cadangan emas sebesar 6,2 ton dan Uzbekistan melepas sekitar 1,2 ton.
Turki menjadi kasus yang menarik kenaikan cadangan emas mencapai 38,6 ton pada April. Sebagian besar perubahan tersebut berkaitan dengan penyesuaian cadangan emas bruto yang digunakan untuk mendukung likuiditas sistem perbankan. Setelah disesuaikan dengan metodologi cadangan sektor resmi, kenaikannya tercatat sekitar 0,5 ton.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa gelombang pembelian emas oleh bank sentral yang mendominasi pasar sejak 2022 mulai memasuki fase baru.
Aktivitas pembelian masih berlangsung, tetapi lebih terkonsentrasi pada negara-negara tertentu. Beberapa negara memilih memperkuat cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi devisa. Sebagian lainnya memanfaatkan cadangan yang ada untuk kebutuhan pengelolaan mata uang dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Â
Amerika Serikat sebagai pemegang cadangan emas terbesar dunia dengan 8.133,5 ton hingga Maret 2026. Jerman berada di posisi kedua dengan 3.350,3 ton, disusul IMF, Italia, dan Prancis. China kini menempati posisi keenam dunia dengan cadangan mencapai 2.321,5 ton, sedikit di atas Rusia yang memiliki 2.298,5 ton. Di kawasan Asia, India berada di posisi kesembilan dengan 880,5 ton, sedangkan Jepang memiliki 846 ton.
Secara global, total cadangan emas resmi dunia mencapai 36.558,5 ton pada Maret 2026. Nilai tersebut setara dengan 27,7% total cadangan devisa dunia. Di kawasan euro, kepemilikan emas bahkan mencapai 72,9% dari total cadangan devisa.
Angka tersebut menggambarkan bahwa emas masih memegang peran penting dalam sistem moneter internasional meskipun berbagai instrumen keuangan modern terus berkembang.
Pasokan emas juga terus meningkat. Produksi tambang diperkirakan mencapai 3.907 ton pada 2026, naik dari 3.817 ton pada tahun sebelumnya. Daur ulang emas diperkirakan bertambah menjadi 1.476 ton. Secara keseluruhan, total pasokan emas global diproyeksikan mencapai 5.383 ton tahun ini. Sementara itu, total permintaan diperkirakan turun menjadi 4.177 ton dari 4.275 ton pada 2025.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google