MARKET DATA

Harga Tembus US$5.100, Ini 10 Penguasa Emas Terbesar Dunia

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 January 2026 17:15
Ilustrasi Harta Karun Emas. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Harta Karun Emas. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas kembali mencetak level tertinggi sepanjang masa sekaligus menembus level psikologis baru US$5.000 per troy ons.

Mengacu data Refinitiv, pada perdagangan hari ini, Senin (26/1/2026) pukul 13.52 WIB, harga emas dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.110,50 per troy ons. Pada Senin pukul 16.55 WIB, harga emas menguat 2,2% di posisi US$ 5.090,76 per troy ons.

Kenaikan ini melanjutkan penguatan pada penutupan Jumat (23/1/2026) yang naik 0,94%, sekaligus menandai reli emas selama lima hari perdagangan beruntun. Secara year-to-date (ytd), emas sudah melesat 17,66% meski 2026 belum genap berjalan sebulan.

Pergerakan secepat ini sekaligus menunjukkan semakin tingginya minta investor terhadap safe haven aset.

Dorongan terbesar datang dari makin banyaknya konflik dan ketegangan di berbagai wilayah di dunia.

Dalam beberapa hari terakhir pasar terus memantau persoalan isu Greenland, Venezuela hingga Timur Tengah yang membuat risiko global semakin meningkat.

Saat kondisi dunia makin tidak pasti investor biasanya lebih memilih emas karena dianggap tempat berlindung yang paling mudah. Emas tidak bergantung pada kinerja perusahaan dan tidak punya risiko gagal bayar sehingga sering dipakai untuk melindungi nilai ketika pasar sulit diprediksi.

Namun, isu Greenland dinilai masih mdenjadi pemicu utama untuk kenaikan harga emas terbaru. HSBC dalam catatan pekan lalu menilai kenaikan emas dan perak belakangan ini dipicu masalah geoekonomi yang terkait dengan Greenland. Artinya bukan sekadar urusan politik antar negara tetapi sudah menyangkut kepentingan ekonomi dan strategi yang bisa memengaruhi arah pasar.

Lonjakan harga ini otomatis membuat negara ataupun lembaga yang menyimpan emas dalam jumlah besar ikut kecipratan manfaat, setidaknya dari sisi kenaikan nilai aset cadangannya.

Berdasarkan data World Gold Council (WGC) yang dirilis pada Desember 2025, daftar 10 besar pemilik cadangan emas terbesar di dunia masih didominasi negara maju dan lembaga keuangan dunia.

Amerika Serikat menempati posisi teratas dengan total cadangn emas sebanyak 8.134 ton, yang disusul Jerman 3.350 ton dan IMF 2.814 ton.

Selain itu, Italia mencatatkan jumlah cadangan emasnya sebesar 2.452 ton, Prancis 2.437 ton, Rusia 2.327 ton, China 2.305 ton, Swiss 1.040 ton, India 880 ton, dan Jepang 846 ton. Periode pencatatan ini berada di Oktober dan November 2025.

Dengan harga emas di kisaran US$5.085 per troy ons, nilai pasar cadangan emas Amerika Serikat saja secara kasar setara lebih dari US$1,3 triliun, sementara Jerman mendekati US$550 miliar dan IMF sekitar US$460 miliar.

Dengan kata lain, reli emas ke atas US$5.000 bukan hanya soal harga komoditas yang naik, tetapi juga soal siapa yang memegang cadangan terbesar. Saat emas naik, nilai cadangan emas negara-negara atau lembaga tersebut ikut terangkat, sehingga posisinya sebagai pelindung di tengah gejolak global semakin terlihat

Sementara itu, Indonesia masih jauh di bawah 10 besar. Dalam data yang sama, Indonesia berada di peringkat 44 dengan cadangan sekitar 85 ton (periode pencatatan November 2025). Artinya, Indonesia tetap mendapatkan dampak positif dari kenaikan harga emas, tetapi skalanya tidak sebesar negara-negara pemilik cadangan raksasa.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular