Waspada! China & Singapura Kembali Borong Emas Berton-ton
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar emas global menjalani semester pertama 2026 dengan gejolak yang tidak biasa. Harga emas sempat menembus US$5.500 per troy ons pada Januari sebelum anjlok ke bawah US$4.000 per troy ons pada akhir Juni.
Meski turun sekitar 7%Â sepanjang tahun ini, harga emas masih menjadi salah satu aset dengan kinerja terbaik dalam setahun terakhir.
Melansir dari World Gold Council (WGC) harga emas saat ini masih sejalan dengan ekspektasi ekonomi global, yakni pertumbuhan moderat, inflasi yang mulai mendingin, dan ruang kenaikan suku bunga bank sentral yang semakin terbatas.
Dalam kondisi tersebut, harga emas diperkirakan bergerak dalam rentang relatif sempit. Namun risiko geopolitik dan perlambatan ekonomi masih dapat memicu lonjakan baru.
Emas juga memiliki penopang lain yakni pembelian bank sentral yang masih tinggi.Â
Data WGCÂ menunjukkan bank-bank sentral kembali memborong emas pada Mei 2026 dengan laju yang semakin kencang. Berdasarkan data terbaru, cadangan emas resmi global naik bersih (neto) 41 ton sepanjang bulan itu.
Pembelian kembali terkonsentrasi pada sejumlah bank sentral yang memang sudah lama menjadi pemain utama di pasar emas.
Sebagian besar pembelian emas pada Mei 2026 didorong oleh Polandia yang menambah 18 ton, serta China yang membeli 10 ton. Sementara itu, Uzbekistan dan Kazakhstan juga melanjutkan tren pembelian emas bersih setiap bulan.
Singapura kembali masuk dalam daftar pembeli dengan mencatat pembelian bersih 4 ton, menjadi pembelian bulanan bersih pertamanya sejak September 2025.
Di sisi lain, negara yang mencatat penjualan emas bersih selama Mei 2026 adalah Turki yang melepas 3 ton dan Rusia sebanyak 6 ton. Secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date), penjualan bersih Turki telah mencapai 81 ton, sedangkan Rusia 34 ton.
Polandia menjadi pembeli paling agresif sepanjang 2026. Hingga Mei 2026, cadangan emas negara tersebut bertambah 63,6 ton sehingga total kepemilikannya mencapai 613,9 ton. Jumlah itu membuat Polandia masuk jajaran 15 besar pemilik emas dunia dan kini hampir menyamai Belanda yang memiliki 612,5 ton.
Kawasan Euro secara agregat menambah cadangan sebesar 43 ton. Kenaikan ini menjadi salah satu yang terbesar pada tahun ini dan mempertegas bahwa diversifikasi aset cadangan masih berlangsung di negara-negara Eropa.
Uzbekistan berada di posisi berikutnya dengan tambahan 32,7 ton. Total kepemilikan emas negara Asia Tengah itu terus meningkat seiringperannya sebagai salah satu produsen emas utama dunia. Kazakhstan juga menambah 20,1 ton, meskipun sebagian perubahannya berkaitan dengan transaksi swap emas.
Â
China kembali menjadi sorotan. Negeri tersebut membeli 25,2 ton emas sepanjang tahun ini dan kini menguasai 2.331,5 ton cadangan, terbesar keenam di dunia. Pembelian China memiliki bobot tersendiri karena dilakukan saat ketegangan geopolitik dan upaya diversifikasi dari aset berbasis dolar AS masih berlangsung.
Per Mei dilaporkan pembelian China bahkan mencapai 10 ton dalam satu bulan. Angka tersebut berada di bawah Polandia yang memborong 18,2 ton, tetapi masih lebih tinggi dibanding Uzbekistan yang membeli 8,7 ton dan Kazakhstan sebesar 6,9 ton.
Di Asia Tenggara, Singapura menambah 3,6 ton dan Malaysia mengoleksi 5 ton sepanjang 2026. Indonesia juga masuk daftar pembeli emas bank sentral dengan tambahan 1,6 ton.
Meski jumlahnya relatif kecil dibanding negara lain, langkah Indonesia menarik perhatian karena dilakukan saat harga emas global masih bertahan di level tinggi. Penambahan cadangan ini mengindikasikan Bank Indonesia tetap melihat emas sebagai instrumen penting dalam komposisi cadangan devisa.
Secara keseluruhan, Amerika Serikat masih menjadi pemilik emas terbesar dunia dengan cadangan mencapai 8.133,5 ton. Posisi berikutnya ditempati Jerman dengan 3.349,5 ton, disusul Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 2.814 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, dan China 2.331,5 ton.
WGC menilai permintaan resmi dari bank sentral, ditambah ketidakpastian geopolitik dan perubahan arah kebijakan moneter, masih menjadi faktor yang dapat menggerakkan harga emas pada paruh kedua 2026.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google