MARKET DATA
Newsletter

IHSG-Rupiah Mau Bangkit? Jangan Senang Dulu, 8 Badai Besar Mengadang!

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
18 May 2026 06:18
Ilustrasi Wall Street. (AP/Richard Drew)
Foto: Pixabay/gerd Altmann

Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026).

Wall Street tertekan oleh aksi jual di saham teknologi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta kekecewaan investor setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping belum menghasilkan terobosan besar.

Indeks S&P 500 turun 1,24% ke level 7.408,50. Nasdaq Composite yang banyak dihuni saham teknologi melemah lebih dalam, yakni 1,54% ke 26.225,14.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 537,29 poin atau 1,07% dan ditutup di level 49.526,17.

Tekanan terbesar datang dari saham teknologi. Investor terlihat melakukan taking profit setelah sektor tersebut menguat tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Saham Intel turun lebih dari 6%. Advanced Micro Devices (AMD) melemah 5,7%, Micron Technology (MU) turun 6,6%, dan Nvidia terkoreksi 4,4%. Saham Cerebras Systems, yang sempat melonjak 68% pada Kamis setelah mulai diperdagangkan di Nasdaq, ikut jatuh 10%.


Adam Crisafulli dari Vital Knowledge menilai pergerakan saham teknologi dalam beberapa pekan terakhir sudah terlalu tinggi.

"Sektor ini telah mengalami pergerakan yang tidak berkelanjutan dalam beberapa pekan terakhir dan tetap rentan terhadap aksi ambil untung, apa pun berita utamanya," tulis Crisafulli, dikutip dari CNBC International.

Namun, tidak semua saham teknologi melemah. Microsoft menjadi pengecualian setelah sahamnya naik 3%. Penguatan terjadi setelah Bill Ackman mengatakan Pershing Square telah membangun posisi di saham tersebut.

Tekanan terhadap Wall Street juga datang dari pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS melonjak, dengan yield tenor 30 tahun menembus 5,1%. Kenaikan yield ini menekan saham, terutama saham pertumbuhan yang sensitif terhadap suku bunga tinggi.

Kenaikan imbal hasil terjadi setelah sejumlah data ekonomi pekan lalu menunjukkan inflasi AS kembali memanas. Tekanan inflasi terutama datang dari harga minyak yang masih tinggi akibat konflik Timur Tengah.

Harga minyak kembali naik pada Jumat. Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 4,2% dan ditutup di US$105,42 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global menguat 3,35% ke US$109,26 per barel.

Kenaikan minyak terjadi setelah Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dia "tidak akan jauh lebih sabar" terhadap Iran. Trump juga menyebut Iran seharusnya segera membuat kesepakatan.

Dari sisi geopolitik, investor juga kecewa setelah pertemuan Trump dan Xi Jinping berakhir tanpa kesepakatan besar. Keduanya memang sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka, menurut pernyataan resmi AS yang dibagikan pejabat Gedung Putih. Namun, pasar menilai hasil pertemuan tersebut belum cukup kuat untuk meredakan kekhawatiran.

Crisafulli menilai kabar yang keluar dari pertemuan tersebut masih kurang menggembirakan.

"Sedikit berita utama yang muncul dari pertemuan itu, seperti pesanan Boeing, terasa kurang menggugah," tulis Crisafulli.

Saham Boeing ikut melanjutkan pelemahan. Saham produsen pesawat tersebut turun 3,8% pada Jumat, setelah sehari sebelumnya anjlok hampir 5%. Investor kecewa karena Trump hanya menyebut China sepakat membeli 200 jet Boeing, atau hanya 50 unit lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.

Padahal, sehari sebelumnya Wall Street sempat mencetak kinerja positif. Dow Jones kembali menembus level 50.000, sementara S&P 500 untuk pertama kalinya ditutup di atas 7.500.

Dalam beberapa waktu terakhir, bursa saham AS memang banyak ditopang oleh euforia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Namun, reli yang terlalu bertumpu pada saham teknologi besar mulai memunculkan kekhawatiran.

Jed Ellerbroek dari Argent Capital Management menilai sentimen investor secara umum masih sangat optimistis. Namun, ia melihat pasar yang lebih luas sebenarnya tertinggal dari saham-saham teknologi besar. Kondisi ini membuat reli terlihat lebih rapuh.

"Rasanya tidak tepat untuk mengatakan bahwa teknologi akan terus memimpin selamanya," kata Ellerbroek.

Ia menambahkan bahwa reli yang hanya digerakkan oleh satu tema besar memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan jika kenaikan pasar ditopang oleh banyak sektor.

"Satu hal yang muncul dan mendorong pasar pada dasarnya lebih berisiko dibandingkan jika ada beberapa hal yang ikut mendorong," ujarnya.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features