IHSG-Rupiah Mau Bangkit? Jangan Senang Dulu, 8 Badai Besar Mengadang!
Memasuki perdagangan pertama pekan ini, pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah agenda penting dari dalam dan luar negeri hingga sepekan ke depan.
Setelah babak belur pada pekan kemarin, rupiah dan IHSG juga menghadapi tantangan yang sangat berat pekan ini karena banyaknya sentimen yang akan membayangi.
Sebagai catatan, pada pekan lalu, bursa saham ambruk 3,5% sementara rupiah jatuh 0,58% dalam sepekan.
Dari dalam negeri, perhatian pasar masih tertuju pada dampak lanjutan hasil review Morgan Stanley Capital International (MSCI), Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, hingga sejumlah rilis data BI pada akhir pekan.
Dari luar negeri, pasar akan menanti data ekonomi China yang dirilis pada hari ini serta risalah rapat The Federal Reserve atau FOMC Minutes yang dijadwalkan keluar pada Rabu (21/5/2026).
Berikut sejumlah sentimen satu pekan ke depan:
1. Rapat Gubernur BI dengan Komisi XI
Hari ini, Senin (18/5/2026), Komisi XI diagendakan akan menggelar rapat dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan jajarannya.
Rapat ini sangat penting di tengah terus ambruknya mata uang rupiah. Menarik ditunggu apa saja statement Perry yang diperkirakan akan berdampak ke mata uang Garuda.
Menarik ditunggu pula apa ada kebijakan baru mengenai stabilisasi nilai tukar.
2. Efek MSCI Masih Akan Terasa
Sentimen pertama yang akan dicermati pasar pada awal pekan ini adalah dampak lanjutan dari hasil review indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
Efek pengumuman MSCI ke pasar saham Indonesia pada pekan lalu terpotong libur panjang selama dua hari, sehingga pergerakan saham-saham terkait masih akan menjadi perhatian pada perdagangan awal pekan ini.
MSCI resmi mengumumkan hasil review indeks global periode Mei 2026. Hasilnya, Indonesia mendapat tekanan cukup besar setelah enam saham domestik dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index, sementara tidak ada saham baru Indonesia yang masuk ke indeks tersebut.
Berdasarkan dokumen resmi MSCI Global Standard Indexes May 2026 Review, enam saham Indonesia yang dikeluarkan dari indeks standar global MSCI adalah:
|
No |
Saham yang Keluar dari MSCI Global Standard Index |
|
1 |
PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) |
|
2 |
PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) |
|
3 |
PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) |
|
4 |
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) |
|
5 |
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) |
|
6 |
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) |
Di sisi lain, pada MSCI Global Small Cap Indexes, terdapat satu saham Indonesia yang masuk, yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT). Namun, terdapat 13 saham Indonesia yang dikeluarkan dari indeks small cap MSCI.
Adapun saham yang keluar dari MSCI Global Small Cap Index meliputi:
|
No |
Saham yang Keluar dari MSCI Global Small Cap Index |
|
1 |
PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) |
|
2 |
PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) |
|
3 |
PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK) |
|
4 |
PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) |
|
5 |
PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) |
|
6 |
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) |
|
7 |
PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) |
|
8 |
PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) |
|
9 |
PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN) |
|
10 |
PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) |
|
11 |
PT Pacific Strategic Financial Tbk. (APIC) |
|
12 |
PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) |
|
13 |
PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) |
Perubahan komposisi MSCI ini akan efektif berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Artinya, pasar masih memiliki waktu untuk menyesuaikan posisi sebelum tanggal efektif tersebut.
Tekanan dari sentimen MSCI sudah terlihat pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Saat itu, sejumlah saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI menjadi pemberat utama IHSG, seperti TPIA, BREN, DSSA, AMMN, dan CUAN.
3. Penjualan Ritel China
Sentimen berikutnya datang dari China. Pada Senin (18/5/2026), pasar akan mencermati rilis data penjualan ritel China untuk periode April 2026.
Sebagai gambaran, pada Maret 2026 penjualan ritel China tumbuh 1,7% secara tahunan, melambat dari pertumbuhan periode Januari-Februari 2026 yang sebesar 2,8%. Realisasi tersebut juga lebih rendah dari perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan 2,3%.
Perlambatan ini mencerminkan konsumsi masyarakat China yang belum merata. Beberapa kategori masih mencatat pertumbuhan kuat, seperti peralatan komunikasi yang melonjak 27,3%, perlengkapan budaya dan kantor naik 15%, perhiasan emas dan perak tumbuh 11,7%, serta barang-barang terkait makanan.
Namun, tekanan terlihat pada barang bernilai besar. Penjualan mobil turun 11,8%, peralatan rumah tangga melemah 5%, dan furnitur turun 8,7%.
Dari sisi segmen, konsumsi jasa masih lebih kuat dibandingkan barang. Pendapatan katering naik 2,9%, lebih tinggi dibandingkan penjualan barang ritel yang tumbuh 1,5%.
Sementara itu, penjualan ritel di luar otomotif tumbuh 3,2%, menunjukkan konsumsi non-mobil masih lebih kuat dibandingkan penjualan ritel secara keseluruhan.
Secara bulanan, penjualan ritel China naik 0,2% pada Maret, melambat dari kenaikan 0,5% pada Februari.
4. Tingkat Pengangguran China
Masih dari Negeri Tirai Bambu, pasar juga akan menantikan rilis data tingkat pengangguran perkotaan untuk periode April 2026 pada Senin ini.
Pada Maret 2026, tingkat pengangguran perkotaan China naik menjadi 5,4%, dari 5,3% pada Februari. Angka ini juga lebih tinggi dari perkiraan pasar yang sebesar 5,2% dan menjadi level tertinggi dalam 13 bulan.
Untuk tenaga kerja yang terdaftar secara lokal, tingkat pengangguran tercatat 5,4%, tidak berubah dari Februari.
Sementara itu, tingkat pengangguran tenaga kerja migran naik menjadi 5,3%, dari sebelumnya 5%. Di antara pekerja migran dengan status rumah tangga pertanian, tingkat pengangguran mencapai 5,7%.
Di 31 kota besar China, tingkat pengangguran perkotaan naik menjadi 5,3%, dari 5,1% pada dua bulan sebelumnya.
Rata-rata jam kerja karyawan perusahaan di China tercatat 48,1 jam per pekan.
5. Suku Bunga Bank Indonesia
Dari dalam negeri, Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026. Dalam agenda tersebut, BI akan mengumumkan keputusan terbaru mengenai arah suku bunga acuan.
Pada RDG sebelumnya, yakni 21-22 April 2026, Bank Indonesia kembali memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap di 3,75%, sementara suku bunga Lending Facility dipertahankan di 5,50%.
Keputusan April tersebut sekaligus menjadi keputusan ketujuh secara beruntun bagi BI untuk menahan suku bunga acuan.
Kondisi saat ini membuat ruang pemangkasan suku bunga semakin sempit. Rupiah masih berada di level yang sangat lemah terhadap dolar AS.
Tekanan eksternal juga belum mereda karena dolar AS masih kuat, inflasi AS kembali memanas, dan harga minyak masih tinggi akibat perang AS-Iran.
Dengan kondisi tersebut, keputusan BI pekan ini akan menjadi perhatian besar. Pasar akan mencermati apakah BI kembali mempertahankan suku bunga di level 4,75%, sekaligus melihat sinyal kebijakan bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih berat.
6. Risalah The Fed
Pasar juga akan mencermati risalah rapat The Federal Reserve (FOMC Minutes) yang dijadwalkan keluar pada Rabu (21/5/2026). Risalah ini akan memberi gambaran lebih lengkap mengenai pertimbangan The Fed dalam rapat April lalu.
Pada pertemuan April 2026, The Fed mempertahankan suku bunga dana federal di kisaran 3,50%-3,75%. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.
Namun, keputusan tersebut tidak sepenuhnya mulus. Gubernur Miran memberikan suara untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sementara tiga anggota lainnya keberatan dengan bahasa dalam pernyataan The Fed yang menunjukkan bahwa bank sentral pada akhirnya akan melanjutkan pemangkasan suku bunga.
Pemungutan suara 8-4 tersebut menjadi perhatian karena menjadi pertama kalinya sejak Oktober 1992 terdapat empat pejabat yang menentang keputusan FOMC.
The Fed menegaskan kembali bahwa bank sentral akan mencermati data ekonomi yang masuk, perkembangan prospek ekonomi, serta keseimbangan risiko dalam menentukan arah kebijakan moneter. The Fed juga menyatakan siap menyesuaikan kebijakan jika muncul risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuannya.
Selain itu, The Fed mencatat bahwa perkembangan di Timur Tengah turut meningkatkan ketidakpastian terhadap prospek ekonomi. Perang AS-Iran telah mendorong harga minyak lebih tinggi dan kembali memunculkan kekhawatiran inflasi.
Powell juga mengatakan dia akan tetap menjadi gubernur The Fed setelah masa jabatannya sebagai Ketua berakhir.
7. BI Umumkan NPI Kuartal I-2026
Pada Jumat (22/5/2026), Bank Indonesia dijadwalkan merilis Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026.
Data ini menjadi pembaruan terbaru setelah pada kuartal IV-2025 NPI mencatat surplus US$6,1 miliar, membaik dari kuartal III-2025 yang mencatat defisit US$4,0 miliar.
Pada kuartal IV-2025, transaksi berjalan mencatat defisit US$2,5 miliar atau 0,7% dari PDB. Posisi ini berbalik dari kuartal sebelumnya yang mencatat surplus US$4,0 miliar atau 1,1% dari PDB.
Sementara itu, transaksi modal dan finansial pada kuartal IV-2025 mencatat surplus US$8,3 miliar, berbalik dari defisit US$8,0 miliar pada kuartal III-2025. Surplus tersebut terutama ditopang aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio.
Secara keseluruhan tahun 2025, transaksi berjalan mencatat defisit US$1,5 miliar atau 0,1% dari PDB, lebih rendah dibandingkan defisit tahun 2024 sebesar US$8,6 miliar atau 0,6% dari PDB.
Pasar akan mencermati apakah NPI kuartal I-2026 masih mampu mencatat surplus, terutama di tengah tekanan eksternal akibat perang di Timur Tengah, harga minyak tinggi, dan dolar AS yang masih kuat. Bank Indonesia memprakirakan defisit transaksi berjalan 2026 berada di kisaran 0,5% hingga 1,3% dari PDB.
8. BI Umumkan Posisi ULN Maret 2026
Bank Indonesia dijadwalkan merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Maret 2026 pada Jumat. Setelah pada Februari 2026 ULN Indonesia tercatat US$437,9 miliar, meningkat dibandingkan posisi Januari 2026 sebesar US$434,9 miliar.
Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh 2,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Januari yang sebesar 1,7% (yoy).
Peningkatan posisi ULN Februari terutama didorong oleh ULN sektor publik, khususnya bank sentral, seiring aliran masuk modal asing ke instrumen moneter yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan.
Dari sisi pemerintah, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat US$215,9 miliar, atau tumbuh 5,5% (yoy). Pertumbuhan tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 5,6% (yoy). Penurunan posisi ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya posisi surat utang.
Sementara itu, posisi ULN swasta pada Februari 2026 tercatat US$193,7 miliar, atau turun 0,7% (yoy). Penurunan tersebut dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan dan perusahaan bukan lembaga keuangan yang masing-masing turun 2,8% (yoy) dan 0,2% (yoy).
Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Februari 2026 tercatat 29,8%, dengan dominasi utang jangka panjang sebesar 84,9% dari total ULN.
Pasar akan mencermati apakah posisi ULN Maret kembali meningkat atau mulai melandai, terutama di tengah tekanan rupiah, pergerakan SRBI, dan arus modal asing yang masih sensitif terhadap kondisi global.
(evw/evw) Addsource on Google