MARKET DATA
Newsletter

Amukan Trump "Bakar" Minyak, RI Mulai Tertekan Lonjakan Harga Energi

mae,  CNBC Indonesia
21 April 2026 06:25
Ilustrasi jalan wall street sebagai pusat keuangan Amerika dan dunia
Foto: REUTERS/Brendan McDermid

Dari pasar saham AS, bursa Wal Street ambruk pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.

Saham-saham AS melemah setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat sepanjang akhir pekan.

Indeks S&P 500 turun 0,24% dan ditutup di 7.109,14, sementara Nasdaq Composite melemah 0,26% ke 24.404,39. Penurunan ini memutus rekor kenaikan 13 hari beruntun Nasdaq, yang merupakan reli terpanjang sejak 1992.

Dow Jones Industrial Average melandai 4,87 poin atau 0,01% ke 49.442,56. Sebaliknya, indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 naik 0,58% ke 2.792,96 dan mencetak rekor penutupan baru. Indeks ini juga sempat menyentuh rekor tertinggi intraday baru selama perdagangan.

Pelaku pasar masih kesulitan memperhitungkan skenario terburuk dari perang tersebut, mengingat saham AS berhasil pulih dari area hampir koreksi ke rekor tertinggi sepanjang masa.

"Perang dengan Iran kini sudah menjadi cerita masa lalu bagi pasar," kata David Wagner, kepala divisi ekuitas dan manajer portofolio di Aptus Capital Advisors kepada CNBC.

 

Saham-saham perangkat lunak menguat, dengan ETF iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) naik lebih dari 1%.

Presiden Donald Trump pada Minggu mengatakan AS telah menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman. Peristiwa ini terjadi setelah Iran menolak ikut putaran baru pembicaraan damai di Pakistan yang direncanakan AS.

Trump menyebut kapal Iran tersebut berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya. "Kami kini menguasai penuh kapal itu dan sedang memeriksa isinya," tulis Trump di Truth Social.

Trump juga mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negara itu tidak menyepakati kesepakatan dengan AS. Gencatan senjata antara kedua negara akan berakhir pekan ini.

Harga minyak mentah melonjak tajam menyusul perkembangan tersebut. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 6,87% ke US$89,61 per barel.

Sementara Brent Crude naik 5,64% ke US$95,48 per barel.

Wall Street datang dari pekan positif, dengan S&P 500 dan Nasdaq sebelumnya mencetak rekor tertinggi setelah gencatan senjata antara Iran dan Lebanon. Saat itu Iran menyatakan Selat Hormuz telah dibuka kembali, namun pada Sabtu lalu lalu lintas kapal di jalur penting tersebut kembali dibatasi. Media pemerintah Iran menyebut AS "tidak memenuhi kewajibannya."

Trump kembali menegaskan blokade AS atas selat tersebut akan tetap berlaku sampai Iran menyetujui tuntutan Washington, meski Iran sebelumnya menyatakan jalur itu telah dibuka.

Wagner menilai reli pasar saham AS masih berpotensi berlanjut.

"Banyak orang memperkirakan akan ada reset valuasi karena mereka menilai pasar terlalu mahal dalam beberapa tahun terakhir. Saya tidak setuju sama sekali," ujarnya.

Menurutnya, kisah pertumbuhan laba perusahaan dalam S&P 500 memberi perlindungan sekaligus tenaga baru bagi pasar untuk terus naik.

"Saya melihat prospek imbal hasil pasar saham dalam waktu dekat masih cukup baik, didukung ekspansi valuasi dan pertumbuhan laba."

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google


Most Popular
Features