MARKET DATA

Tak Cuma Rudal, Amerika Habis-Habisan Pakai Barang Langka Demi Perang

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 April 2026 19:20
logam tanah jarang
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia -Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran bukan hanya memunculkan ketegangan geopolitik dan kekhawatiran pasar global, tetapi juga mulai membuka sisi lain yang tak kalah penting, yakni beban logistik dan industri pertahanan.

Serangan militer AS ke Iran ini dijalankan dalam operasi bernama Operation Epic Fury yang dipimpin oleh Komando Pusat AS di Timur Tengah, U.S. Central Command (CENTCOM). Operasi tersebut dimulai pada 28 Februari 2026 atas arahan Presiden AS.

Setelah konflik memanas, perhatian mulai bergeser pada seberapa besar sumber daya militer yang telah dikeluarkan Washington dalam waktu singkat.

Di balik serangan intensif yang terjadi pada awal perang, AS ternyata harus menguras amunisi dalam jumlah besar hanya dalam hitungan hari.

Kondisi ini tidak hanya menekan stok persenjataan, tetapi juga memunculkan konsekuensi lanjutan berupa kebutuhan penggantian bahan baku strategis, termasuk mineral kritis yang selama ini masih sangat bergantung pada rantai pasok global.

Amunisi Militer AS Terkuras

Besarnya penggunaan amunisi AS selama perang menjadi salah satu gambaran mahalnya konflik modern.

Melansir dari data J.P Morgan, dalam enam hari saja AS diperkirakan telah menghabiskan 319 rudal Tomahawk, 83 Standard Missile 3, 115 Standard Missile 6, hingga 786 Joint Air-to-Surface Standoff Missile.

Angka ini menjadi penting karena untuk beberapa jenis amunisi, jumlah yang digunakan dalam hitungan hari bahkan melampaui perkiraan pengiriman sepanjang tahun fiskal 2026.

Misalnya, Tomahawk yang dipakai 319 unit, sementara pengiriman setahun penuh (FY) 2026 diperkirakan hanya 190 unit. Standard Missile 3 yang digunakan 83 unit juga lebih tinggi dari estimasi pengiriman 76 unit.

Bahkan untuk Joint Air-to-Surface Standoff Missile dan Terminal High Altitude Area Defense interceptor, tabel menunjukkan penggunaan dalam perang, tetapi tidak ada antisipasi pengiriman pada FY 2026.

Tekanan juga terlihat dari estimasi sisa hari amunisi jika laju penggunaannya disamakan dengan 96 jam pertama serangan AS ke Iran.

Mengutip dari laporan J.P Morgan, Army Tactical atau Precision Strike Missile diperkirakan hanya cukup untuk 12 hari, GBU-57 Massive Ordnance Penetrator 13 hari, THAAD interceptor 25 hari, Patriot PAC-2/PAC-3 interceptor 31 hari, Navy Aegis Standard Missile 32 hari, dan Tomahawk Block IV/V 34 hari.

Buntutnya Menjalar ke Mineral Kritis

Bagi Negeri Paman Sam, dampak perang tidak berhenti di penggunaan rudal dan sistem pertahanan. Di balik setiap amunisi, ada kebutuhan bahan baku industri yang tidak sedikit, terutama mineral kritis.

Dalam estimasi konsumsi selama 96 jam pertama perang, AS disebut menghabiskan sangat banyak mineral kritis. Mulai dari 2.197 kilogram (kg) cobalt, 11.444 kg tungsten, hingga 124.040 kg ammonium perchlorate.

Secara porsi, jumlah tersebut memang masih relatif kecil dibanding konsumsi tahunan AS.

Namun masalah utamanya bukan semata pada besar-kecil volumenya, melainkan pada ketergantungan rantai pasok. Untuk sejumlah mineral, China masih menjadi pemasok terbesar atau salah satu pemasok terbesar bagi kebutuhan AS.

Tungsten misalnya, dalam tabel menunjukkan China menyumbang 13% dari konsumsi tahunan AS. Untuk neodymium, samarium, dan dysprosium, pangsa China masing-masing mencapai 48%.

Pada tantalum, pangsanya 22%, sementara untuk gallium dan germanium, China juga masih muncul sebagai salah satu pemasok penting.

Artinya, semakin lama perang berlangsung dan semakin besar kebutuhan penggantian amunisi, maka tekanan tidak hanya muncul pada kapasitas produksi senjata, tetapi juga pada akses terhadap bahan baku strategis. Di titik inilah konflik militer berubah menjadi persoalan industri dan rantai pasok global.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular