Pasar Dibayangi Perang & Data China, RI Dapat Kabar Baik dari S&P
Hari ini akan menjadi perdagangan terakhir pekan ini, para pelaku pasar dihadapkan pada serangkaian sentimen fundamental dan geopolitik yang krusial.
Dinamika eksternal yang diwarnai oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah, anomali di pasar derivatif Amerika Serikat, hingga rilis data makroekonomi Tiongkok, akan menjadi faktor penggerak utama.
Pada saat yang bersamaan, indikator dari dalam negeri menunjukkan sinyal makro yang solid, didukung oleh penilaian positif lembaga pemeringkat internasional mengenai kebijakan fiskal pemerintah dan langkah antisipatif dalam mengamankan pasokan energi nasional.
Berikut adalah penjabaran mengenai berbagai sentimen global dan domestik yang patut dicermati oleh para investor sebagai landasan strategi investasi pada perdagangan esok hari.
Perkembangan Perang
Para pemimpin Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata selama 10 hari setelah pejabat dari kedua negara bertemu di Washington.
Gencatan senjata sementara itu akan dimulai pukul 17.00 waktu AS Timur (ET), ujar Trump dalam unggahan di Truth Social.
Dalam unggahan lanjutan, Trump menambahkan bahwa ia akan mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Gedung Putih untuk "pembicaraan bermakna pertama antara Israel dan Lebanon sejak 1983, waktu yang sangat lama."
"Kedua pihak ingin melihat PERDAMAIAN, dan saya yakin itu akan terjadi, dengan cepat!" tulis Trump, dikutip dari Reuters.
Kementerian Luar Negeri AS dalam pernyataan yang dirilis Kamis malam mengatakan bahwa kedua negara akan bekerja menciptakan kondisi yang mendukung perdamaian jangka panjang antara kedua negara, pengakuan penuh atas kedaulatan serta integritas wilayah masing-masing, dan membangun keamanan nyata di sepanjang perbatasan bersama, sambil tetap menjaga hak inheren Israel untuk membela diri.
"Kedua negara mengakui tantangan besar yang dihadapi negara Lebanon dari kelompok bersenjata non-negara, yang merusak kedaulatan Lebanon dan mengancam stabilitas kawasan," bunyi pernyataan yang telah disepakati pemerintah Israel dan Lebanon tersebut.
Trump mengatakan kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Kamis sore bahwa ia yakin akan tercapai kesepakatan di mana Lebanon akan menangani Hezbollah merujuk pada kelompok milisi Islamis yang didukung Iran dan terbentuk pada awal 1980-an.
Perkembangan ini menambah harapan akan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah, yang dimulai AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Serangan militer besar-besaran Israel ke Lebanon pekan lalu memicu tuduhan dari Iran bahwa gencatan senjata rapuh selama dua minggu yang dimilikinya sudah dilanggar.
Meski negosiasi damai AS-Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan akhir pekan lalu, Trump mengatakan pekan ini bahwa perang sangat dekat dengan akhir.
Klaim Pembukaan Permanen Selat Hormuz oleh Amerika Serikat
Lalu lintas pelayaran kapal tanker minyak di Selat Hormuz mulai menunjukkan pergerakan meskipun kondisinya masih berada jauh di bawah kapasitas normal di tengah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.
Berdasarkan data pergerakan maritim, sejumlah kapal tanker berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) telah terpantau melintasi kawasan tersebut.
Salah satunya adalah kapal RHN yang memiliki kapasitas angkut sekitar dua juta barel minyak mentah dengan estimasi nilai muatan mencapai US$160 juta, serta kapal Alicia yang melintas menuju Teluk Persia.
Kendati ada aktivitas pergerakan, volume pelayaran secara keseluruhan masih anjlok hingga 90% jika dibandingkan dengan kondisi normal sebelum pecahnya konflik.
Di tengah situasi pembatasan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pihaknya telah membuka Selat Hormuz secara permanen. Kebijakan ini disebut sebagai hasil kesepakatan dengan Tiongkok, di mana Beijing menyetujui untuk tidak lagi mengirimkan pasokan senjata ke Iran.
Foto: Kapal yang melalui Selat Hormuz Sampai Dengan 15 April 2026 (dok. Economist) |
Penyelidikan Transaksi Berjangka Misterius di Bursa AS
Pernyataan dan kebijakan pemerintahan Amerika Serikat terkait Iran belakangan ini memicu reaksi serius dari sisi regulasi pasar modal.
Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) AS saat ini tengah memimpin penyelidikan mendalam terhadap anomali transaksi berjangka minyak yang terjadi secara tidak wajar, tepat sebelum Presiden AS mengumumkan kebijakan terkait Iran.
Penyelidikan difokuskan pada lonjakan volume perdagangan di platform bursa utama dunia, yakni CME Group dan Intercontinental Exchange (ICE). Pihak regulator secara khusus menelusuri data menggunakan sistem pengidentifikasi Tag 50 untuk melacak rekam jejak pelaku transaksi di sistem perdagangan elektronik.
Hal ini mengingatkan pasar pada kejadian akhir Maret lalu, di mana kontrak berjangka S&P 500 e-mini melonjak drastis dan minyak mentah WTI anjlok hampir 6%, hanya sekitar lima belas menit sebelum pengumuman terkait pembatalan serangan ke fasilitas energi Iran.
Lonjakan transaksi tanpa pemicu berita publik ini menarik perhatian para senator AS yang mendesak CFTC menyelidiki potensi penyalahgunaan informasi non-publik.
Foto: Volume transaksi Futures minyak mentah berdasarkan menit (dok. Yahoo Finance) |
Penundaan Perundingan Damai Amerika Serikat dan Iran
Eskalasi geopolitik masih menjadi risiko sistemik yang harus terus dipantau setelah negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran dipastikan batal dilangsungkan pada pekan ini.
Berdasarkan keterangan para pejabat diplomatik terkait, pembicaraan tersebut akan dijadwalkan ulang dan dilanjutkan pada pekan depan di Islamabad, Pakistan, yang sejauh ini bertindak sebagai mediator.
Meskipun perundingan putaran pertama berakhir tanpa kesepakatan final, pihak Gedung Putih tetap menyuarakan optimisme terhadap prospek perdamaian dalam waktu dekat.
Ketidakpastian mengenai kesepakatan ini turut memberikan tekanan pada stabilitas pasar komoditas, mengingat ancaman terhadap keberlangsungan masa gencatan senjata masih cukup tinggi.
Sebagai bentuk respons atas dinamika tersebut, Iran dilaporkan telah mengambil langkah untuk menangguhkan seluruh ekspor produk petrokimia mereka hingga waktu yang belum ditentukan.
Pertumbuhan PDB Tiongkok Melampaui Ekspektasi Pasar
Dari kawasan Asia, rilis data ekonomi Tiongkok memberikan kejutan di tengah tekanan guncangan energi global. Biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan bahwa Produk Domestik Bruto pada kuartal pertama tahun 2026 tumbuh sebesar 5,0% secara tahunan.
Angka ini melampaui proyeksi konsensus analis yang berada di level 4,8%. Akselerasi pertumbuhan ini didorong secara signifikan oleh kinerja ekspor yang melonjak hingga 14,7%. Selain itu, produksi industri pada bulan Maret juga mencatatkan kenaikan impresif sebesar 5,7%, ditopang oleh kinerja sektor manufaktur hingga pengolahan minyak dan gas.
Namun demikian, momentum pertumbuhan dinilai masih tidak merata dan menyimpan kerentanan dari sisi permintaan domestik. Data penjualan ritel pada bulan Maret hanya mampu tumbuh 1,7%, meleset dari ekspektasi pasar akibat pelemahan penjualan otomotif yang terkontraksi 11,8%.
Seiring dengan lesunya konsumsi domestik, tingkat pengangguran perkotaan juga merangkak naik menyentuh level 5,4 persen, tertinggi dalam tiga belas bulan terakhir.
Lembaga S&P Pertahankan Peringkat Kredit dan Prospek Indonesia
Di tengah ketidakpastian global, sentimen positif mengalir bagi perekonomian domestik setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor's memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa S&P mengapresiasi komitmen pemerintah Indonesia dalam menjaga disiplin fiskal, khususnya upaya menahan defisit anggaran di bawah batas 3% terhadap PDB.
Berdasarkan hasil audit terbaru, defisit fiskal berhasil direalisasikan lebih rendah pada level 2,8%. Faktor lain yang menambah keyakinan lembaga pemeringkat adalah perbaikan kinerja pengumpulan pendapatan negara.
Kinerja penerimaan pajak yang tumbuh hingga 30% pada dua bulan pertama tahun ini dipandang sebagai hasil positif dari restrukturisasi organisasi perpajakan dan kepabeanan.
Meski demikian, pihak kementerian menyadari adanya perhatian khusus dari S&P mengenai rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan yang berada di atas 15%, di mana indikator tersebut akan terus dimonitor.
"Mereka (S&P) menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten menjaga di bawah 3 persen dari PDB," jelasnya.
"Saya bilang kita konsisten dengan kebijakan itu, Presiden Prabowo telah memberikan arahan bahwa defisit kita dijaga di bawah 3 persen," terang Purbaya.
Menurut Purbaya ada sedikit kekhawatiran S&P terkait pembayaran utang terhadap pendapatan atau pajak. Purbaya langsung menjelaskan bahwa hal itu bisa dikendalikan ke depan dan belum pada level yang membahayakan sesuai kondisi perbaikan pengumpulan pajak dan cukai.
Langkah restrukturisasi organisasi Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai juga sudah dilakukan agar kinerjanya semakin baik.
"Dan ketika kita beritahu bahwa dua bulan tahun ini pertumbuhan pajak 30 persen dan di bulan Januari-Maret dibanding tahun lalu tumbuh 20 persen mereka sepertinya cukup puas," ucap Purbaya
Penegasan Ketahanan Makroekonomi oleh BI
Sejalan dengan apresiasi dari sisi fiskal, otoritas moneter Indonesia juga memberikan penegasan mengenai resiliensi fundamental ekonomi nasional. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa daya tahan ekonomi Indonesia di tengah krisis global ditopang oleh tiga pilar utama.
Ketiga pilar tersebut mencakup kredibilitas sinergi kebijakan moneter dan fiskal, kemampuan adaptasi kerangka kebijakan terhadap dinamika global, serta penguatan kemitraan internasional.
Dalam diskusinya bersama perwakilan International Monetary Fund, Bank Indonesia juga menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam merespons risiko makro secara menyeluruh.
Otoritas moneter menekankan bahwa kalibrasi kebijakan tidak hanya difokuskan pada fluktuasi harga komoditas energi, melainkan diarahkan untuk mengantisipasi potensi dampak rambatan yang lebih luas akibat disrupsi rantai pasok global.
Foto: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam pertemuan lanjutan dengan investor global, serta pertemuan dengan US-ASEAN Business Council dan International Monetary Fund dalam rangkaian IMF-World Bank Spring Meetings 2026 di Washington, D.C., AS. (15/4/2026). (Dok BI) |
Kesepakatan Impor Minyak Mentah dari Rusia
Dalam upaya menjaga stabilitas pasokan energi dan menahan laju inflasi domestik, pemerintah mengambil langkah strategis dengan merealisasikan impor minyak mentah dari Rusia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia telah melaporkan hasil pertemuannya dengan Menteri Energi Rusia kepada Presiden mengenai komitmen ini.
Langkah tersebut dinilai sangat krusial mengingat konsumsi bahan bakar minyak nasional saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara kapasitas produksi domestik hanya berkisar di level 600.000 barel per hari.
Pengamanan pasokan ini didasarkan pada kebutuhan mendesak untuk menutupi defisit sebesar satu juta barel per hari.
Melalui kesepakatan ini, pemerintah menjamin pasokan minyak mentah nasional berada dalam kondisi aman hingga bulan Desember 2026, sembari terus merintis komunikasi tahap lanjut guna mendiversifikasi impor pasokan LPG yang dibutuhkan di dalam negeri.
Progres Diplomasi Penahanan Kapal Tanker Pertamina
Terkait kelancaran arus logistik perdagangan di jalur rawan konflik, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyampaikan perkembangan terkini mengenai upaya pembebasan dua kapal tanker milik Pertamina yang masih tertahan di perairan Selat Hormuz.
Pihak kementerian mengonfirmasi bahwa kendala pelayaran ini murni disebabkan oleh faktor eskalasi keamanan di kawasan tersebut, dan tidak terkait dengan pelanggaran administratif maupun bendera kapal.
Koordinasi tingkat tinggi terus dijalankan secara intensif oleh perwakilan pemerintah Indonesia dengan otoritas setempat di Iran. Saat ini, pemerintah tengah menindaklanjuti sinyal positif yang telah diberikan dengan berfokus memastikan seluruh kesiapan teknis kapal beserta keamanan keselamatan para kru.
Proses perizinan pelayaran ini dipantau secara ketat agar armada niaga strategis milik negara tersebut dapat segera melanjutkan perjalanan internasionalnya dengan aman tanpa kendala di lapangan.
Klaim Pengangguran AS
Jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran awal turun menjadi 207 ribu pada pekan yang berakhir 11 April 2026, dari angka revisi turun 218 ribu pada pekan sebelumnya, yang merupakan level tertinggi sejak awal Februari.
Angka tersebut juga lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 215 ribu, menandai penurunan mingguan terbesar sejak Februari dan menunjukkan bahwa gelombang PHK masih terbatas, sementara pasar tenaga kerja dan ekonomi secara keseluruhan tetap menunjukkan ketahanan.
Rata-rata pergerakan 4 minggu, yang digunakan untuk mengurangi volatilitas mingguan, berada di 209.750, naik 500 dari rata-rata revisi pekan sebelumnya sebesar 209.250.
Sementara itu, klaim lanjutan (continuing claims) yang dianggap sebagai indikator jumlah orang yang masih menerima tunjangan pengangguran, naik menjadi 1,818 juta pada pekan yang berakhir 4 April, bertambah 31 ribu dibanding level revisi pekan sebelumnya.
(gls/gls) Addsource on Google
Foto: Kapal yang melalui Selat Hormuz Sampai Dengan 15 April 2026 (dok. Economist)
Foto: Volume transaksi Futures minyak mentah berdasarkan menit (dok. Yahoo Finance)
Foto: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam pertemuan lanjutan dengan investor global, serta pertemuan dengan US-ASEAN Business Council dan International Monetary Fund dalam rangkaian IMF-World Bank Spring Meetings 2026 di Washington, D.C., AS. (15/4/2026). (Dok BI)