MARKET DATA
Newsletter

Pasar Dibayangi Perang & Data China, RI Dapat Kabar Baik dari S&P

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
17 April 2026 06:25
New York Stock Exchange NYSE bursa amerika serikat
Foto: Infografis/ Raja Bursa! Ini 10 Saham Paling Moncer 2025, Ada yang Terbang 8.000%/Aristya Rahadian

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street menguat pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite kembali mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa pada Kamis, melanjutkan kenaikan kuat pekan ini di tengah optimisme atas kemungkinan penyelesaian perang Iran.

Indeks S&P 500 naik 0,26% dan ditutup di 7.041,28, sementara Nasdaq menguat 0,36% ke 24.102,70. Indeks yang didominasi saham teknologi itu mencatat 12 sesi kenaikan beruntun, rekor reli terpanjang sejak 2009. Kedua indeks juga mencetak rekor intraday dan penutupan.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menanjak115 poin atau 0,24% ke 48.578,72.

Sepanjang pekan ini, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sudah melonjak 3,3% dan 5,2%, sedangkan Dow naik lebih dari 1%.

 

Saham mendapat dorongan tambahan pada Kamis setelah Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa dirinya berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menambahkan bahwa Israel dan Lebanon telah sepakat melakukan gencatan senjata selama 10 hari, yang dimulai pukul 17.00 waktu AS Timur.

Penghentian serangan Israel ke Lebanon disebut sebagai syarat penting agar negosiasi antara AS dan Iran dapat dimulai.

Untuk AS dan Iran, putaran berikutnya dari pembicaraan tatap muka kemungkinan akan berlangsung mungkin akhir pekan depan.

Sebelumnya pekan ini, Trump mengatakan perang Iran hampir berakhir dan mengklaim bahwa Teheran sangat ingin mencapai kesepakatan.

 

Pasar saham dalam beberapa hari terakhir naik karena harapan akan tercapainya perjanjian damai antara kedua negara. Bahkan, S&P 500 memulai pekan ini dengan menghapus seluruh kerugian sejak awal perang Iran.

Pada Rabu, S&P 500 dan Nasdaq juga mencetak tonggak penting, dengan S&P menutup di atas 7.000 untuk pertama kalinya, sementara Nasdaq menutup di atas 24.000 untuk pertama kalinya.

Namun, meskipun kesepakatan damai AS-Iran benar-benar terwujud dalam waktu dekat seperti yang diantisipasi investor, volatilitas pasar masih bisa muncul akibat dampak perang terhadap ekonomi AS.

"Kita harus menghadapi beberapa kuartal pertumbuhan GDP yang di bawah standar," kata Rob Williams, Chief Investment Strategist di Sage Advisory.

"Semua orang seperti menunggu masalah Iran selesai dengan sendirinya, dan itu akan menjadi sentimen positif besar. Tetapi ekonomi AS masih tumbuh sekitar 2%. Kita mungkin akan melihat beberapa kuartal pertumbuhan di bawah 2%," ujarnya.

"Saya tidak yakin pasar sudah siap menghadapi itu," tambahnya.

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features