Wall Street Cetak Rekor, Perang Mendingin: Saatnya IHSG-Rupiah Bangkit
Mengawali kuartal perdagangan hari ini, dinamika ekonomi global dan domestik diwarnai oleh berbagai pembaruan data makroekonomi, arah kebijakan moneter, hingga perkembangan geopolitik.
Laporan terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan kerangka mengenai potensi perlambatan ekonomi global, sementara indikator domestik seperti posisi utang luar negeri menunjukkan stabilitas.
Berikut adalah pemaparan mendalam dari sejumlah perkembangan utama yang memengaruhi pasar saat ini.
Perkembangan Perang
Pemerintahan Trump menyampaikan optimisme pada Rabu mengenai peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran, sembari memperingatkan tekanan ekonomi yang semakin besar terhadap Teheran jika tetap bersikap keras kepala.
Presiden Donald Trump mengatakan ia meyakini perang yang dilancarkannya bersama Israel sejak akhir Februari hampir berakhir, meskipun blokade pelayaran yang diumumkannya mulai berlaku dan lalu lintas melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat normal.
Amerika Serikat memperingatkan bahwa mereka dapat menambah sanksi sekunder terhadap pembeli minyak Iran sebagai upaya meningkatkan posisi tawar menjelang negosiasi lanjutan, hanya beberapa pekan setelah Washington melonggarkan penegakan sebagian sanksi energi terhadap Iran.
Pejabat AS dan Iran sedang mempertimbangkan kembali ke Pakistan untuk pembicaraan lanjutan secepat akhir pekan ini, setelah negosiasi pada Minggu berakhir tanpa terobosan. Panglima militer Pakistan tiba di Teheran pada Rabu untuk mencoba mencegah pecahnya kembali konflik.
"Kami merasa optimistis mengenai prospek kesepakatan," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam konferensi pers, menyebut pembicaraan yang dimediasi Pakistan sebagai "produktif dan terus berlangsung."
Ia membantah laporan bahwa AS secara resmi meminta perpanjangan gencatan senjata dua pekan yang disepakati kedua pihak pada 8 April.
Leavitt mengatakan pembicaraan tatap muka lanjutan belum dikonfirmasi, tetapi kemungkinan besar kembali digelar di Pakistan.
Militer Pakistan mengonfirmasi bahwa Field Marshal Asim Munir telah tiba di Teheran. Sumber senior Iran kepada Reuters mengatakan Munir, yang memediasi putaran pembicaraan terakhir, akan berupaya "memperkecil perbedaan" antara kedua pihak. Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menulis di X menyambut Munir dan mengatakan Iran berkomitmen "mendorong perdamaian dan stabilitas di kawasan."
Pembicaraan akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan untuk mengakhiri perang, yang dimulai Trump bersama Israel pada 28 Februari, memicu serangan Iran ke negara-negara Teluk dan kembali memanaskan konflik antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Struktur Utang Luar Negeri Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Kreditor
Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 437,9 miliar, mengalami peningkatan dari posisi bulan sebelumnya yang berada pada angka US$ 434,9 miliar.
Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh sebesar 2,5%. Peningkatan ini utamanya didorong oleh sektor publik, di mana aliran masuk modal asing terkonsentrasi pada instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dari sisi pemerintah, posisi ULN tercatat sebesar US$ 215,9 miliar yang dialokasikan untuk sektor produktif, termasuk jasa kesehatan, administrasi pertahanan, dan pendidikan.
Berbanding terbalik dengan sektor publik, posisi ULN swasta justru mengalami penurunan sebesar 0,7% secara tahunan menjadi US$ 193,7 miliar. Penurunan ini didorong oleh pelunasan kewajiban dari lembaga keuangan maupun perusahaan non-lembaga keuangan.
Bank Indonesia menegaskan bahwa struktur ULN tetap sehat dan terkendali, tecermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di level 29,8%, di mana lebih dari 84% merupakan utang jangka panjang.
Dari sisi negara pemberi pinjaman, Singapura, Amerika Serikat, dan China masih mendominasi. Utang dari Singapura berada di posisi teratas meski mencatatkan penurunan menjadi US$ 53,95 miliar.
Sementara itu, pinjaman dari AS naik menjadi US$ 27,80 miliar, dan dari China meningkat ke US$ 25,57 miliar. Jepang juga masuk dalam daftar empat besar kreditor utama dengan nilai pinjaman sebesar US$ 20,58 miliar.
Skenario Perlambatan Global dan Resiliensi Ekonomi Indonesia IMF
Dalam World Economic Outlook edisi April 2026, IMF merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026 dan 3,2% pada 2027. Angka ini merupakan laju pertumbuhan terlemah dalam dua dekade terakhir. IMF turut memaparkan skenario terburuk jika konflik di Timur Tengah meluas dan merusak infrastruktur energi.
Dalam skenario berat tersebut, pertumbuhan global diproyeksikan anjlok hingga ke level 2%, dengan tingkat inflasi global melonjak melebihi 6% pada tahun 2027.
Di tengah bayang-bayang pesimisme global, perekonomian Indonesia dinilai memiliki daya tahan yang solid. IMF memproyeksikan Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5% pada tahun 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi China di level 4,4% dan Filipina di 4,1%, meski masih di bawah India yang diproyeksikan tumbuh 6,5%. Inflasi domestik juga diperkirakan terkendali di kisaran 3% untuk tahun ini.
IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0% pada 2026, dari 5,1% pada proyeksi sebelumnya.
Kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia semakin kuat. Dalam pertemuan di sela-sela IMF Spring Meetings, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut Indonesia sebagai "titik terang" di tengah perekonomian dunia.
Predikat ini didasarkan pada konsistensi pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3% dari PDB, serta bauran kebijakan Bank Indonesia yang adaptif dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas makroekonomi.
Pemulihan Konsumsi Domestik Mengimbangi Perlambatan Pertumbuhan China
Dari kawasan Asia Timur, indikator makroekonomi China menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Pada kuartal keempat tahun 2025, pertumbuhan ekonomi China melambat ke level 4,5% secara tahunan, dipengaruhi oleh tekanan deflasi dan pelemahan sektor properti yang berkepanjangan.
Tingkat pengangguran juga tercatat tertahan di angka 5,1%. Namun, kinerja ekspor ke pasar non-AS yang kuat berhasil menopang pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun tetap berada di target 5%.
Memasuki tahun 2026, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat dari sisi konsumsi domestik. Penjualan ritel China pada periode gabungan Januari-Februari 2026 berakselerasi sebesar 2,8% secara tahunan.
Peningkatan ini didorong oleh momentum libur Tahun Baru Imlek yang memicu lonjakan belanja masyarakat, terutama pada kategori makanan, pakaian, hingga peralatan rumah tangga.
Pemulihan pada sektor ritel ini memberikan bantalan bagi aktivitas ekonomi China di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan global.
Arahan Kebijakan Moneter Menghadapi Volatilitas Harga Energi
Menyikapi ketidakpastian global dan potensi inflasi yang didorong oleh gangguan rantai pasok di Selat Hormuz, IMF mengimbau otoritas moneter global agar tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuan.
Penasihat Ekonomi dan Direktur Riset IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyatakan bahwa bank sentral tidak memiliki kendali langsung atas harga minyak dunia. Oleh karena itu, pengetatan moneter yang agresif belum tentu menjadi solusi yang tepat.
Gourinchas mengingatkan para pembuat kebijakan mengenai pelajaran dari era stagflasi dekade 1970-an. Bank sentral disarankan untuk fokus mencegah terjadinya spiral kenaikan upah-harga dan menjaga jangkar ekspektasi inflasi masyarakat.
Sebagai alternatif dari kebijakan moneter ketat, pemerintah didorong untuk mendiversifikasi sumber energi dan memperkuat kapasitas produksi energi terbarukan di dalam negeri.
Kenaikan suku bunga baru direkomendasikan jika terdapat bukti kuat bahwa inflasi mulai bersifat permanen.
Transisi Kepemimpinan The Fed di Tengah Tekanan Politik Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, dinamika kebijakan moneter tengah diwarnai oleh tekanan administratif dari Gedung Putih. Pemerintahan Presiden Donald Trump mendesak percepatan pergantian pucuk pimpinan Federal Reserve.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, secara terbuka menyatakan keinginan pemerintah agar Kevin Warsh segera menjabat sebagai Ketua The Fed, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya baru akan berakhir pada Mei mendatang.
Proses transisi ini menghadapi sejumlah hambatan politik di tingkat Senat. Meskipun sidang konfirmasi untuk Warsh dijadwalkan dalam waktu dekat, beberapa anggota parlemen mengancam akan memblokir pengesahan tersebut hingga penyelidikan Departemen Kehakiman terkait biaya renovasi kantor pusat The Fed diselesaikan.
Di sisi lain, pemerintahan Trump secara konsisten terus memberikan tekanan kepada The Fed untuk segera memangkas suku bunga acuan guna melonggarkan likuiditas di pasar.
Foto: Presiden AS Donald Trump berbincang dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell. (REUTERS/Carlos Barria) |
Ketentuan Bursa Efek Indonesia Terkait Perlindungan Investor Pasca Delisting
Di sektor pasar modal domestik, Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan penegasan mengenai pelindungan bagi investor ritel yang memegang saham pada emiten bermasalah. Terdapat 18 emiten yang saat ini bersiap untuk dikeluarkan dari pencatatan bursa (delisting), dengan jadwal efektif pada 10 November 2026.
Keputusan ini diambil lantaran emiten terkait mengalami masalah kelangsungan usaha (going concern) yang parah, baik secara finansial maupun hukum, serta telah mengalami suspensi perdagangan lebih dari 24 bulan.
Dalam rangka memitigasi kerugian investor, BEI mewajibkan perusahaan terbuka atau pemegang saham pengendali untuk melakukan buyback saham publik. Ketentuan ini sejalan dengan POJK Nomor 45 Tahun 2024.
BEI juga menyatakan bahwa sebelum sanksi delisting dijatuhkan, otoritas bursa telah memberikan ruang pembinaan serta peringatan berkala setiap enam bulan agar manajemen emiten memiliki kesempatan untuk memperbaiki kinerja perusahaan.
Penguatan Kemitraan Strategis Indonesia dan Kekuatan Veto Eropa
Pada aspek diplomasi internasional, agenda kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Eropa ditutup dengan pertemuan bilateral bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Istana Elysee, Paris.
Pertemuan empat mata yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut berfokus pada upaya pendalaman kerja sama strategis di berbagai sektor krusial, mulai dari ketahanan energi, pengembangan pendidikan, infrastruktur komunikasi digital, hingga komitmen investasi jangka panjang.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa kelancaran diskusi ini tidak lepas dari hubungan personal yang telah terjalin lama antara kedua pemimpin sejak Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Kemitraan dengan Prancis memiliki nilai strategis yang tinggi, mengingat posisi Prancis sebagai salah satu pemegang hak veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa serta kekuatan utama ekonomi Eropa.
Rangkaian kunjungan ini resmi berakhir seiring dengan ketibaan Presiden Prabowo di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, yang disambut langsung oleh jajaran pejabat tinggi negara.
Foto: Usai merampungkan kunjungan kenegaraannya ke Rusia, Presiden melanjutkan agenda lawatan ke Prancis dan bertemu dengan Presiden Republik Prancis, Yang Mulia Emmanuel Macron. (Instagram/Presiden RepublikIndonesia) |
Purbaya Bertemu 18 Investor
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menggelar pertemuan dengan sejumlah investor di sela-sela pertemuan International Monetary Fund (IMF) Spring Meetings di Washington DC Amerika Serikat. Diantaranya, dengan Fidelity, GSAM (Goldman Sachs Asset Management), Eaton Vance dan MFS8.
Purbaya mengungkapkan, para investor tersebut ingin mengetahui lebih jauh mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia serta strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
"Tadi pagi kita ketemu 18 investor besar di antara yang besar adalah Goldman Sachs sama Fidelity. Mereka sebetulnya ingin menanyakan, ingin tahu kelebihan kita terhadap pertumbuhan, seperti apa dan masuk akal enggak," ujar Purbaya dalam keterangan resmi dikutip Rabu (15/4/2026).
Merespons berbagai pertanyaan investor, Purbaya menjelaskan sejumlah kebijakan yang sedang ditempuh oleh pemerintah. Termasuk langkah percepatan pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal.
Dirinya menilai, penjelasan tersebut mendapat respon positif dari investor. Menurut Purbaya, para pelaku pasar menyukai strategi Indonesia yang ingin mendorong pertumbuhan lebih tinggi namun tetap menjaga disiplin fiskal.
"Jadi mereka suka sekali dengan penjelasan kita bahwa kita akan menciptakan pertemuan ekonomi lebih cepat tanpa mengorbankan kehatian-kehatian kebijakan fiskal. Itu yang mereka pegang," ujarnya.
Peringatan Bank Dunia
Presiden World Bank Ajay Banga mengatakan negara-negara yang terdampak perang Iran harus siap menghadapi gangguan ekonomi selama beberapa bulan, meski gencatan senjata bertahan dan Strait of Hormuz kembali dibuka.
Menurutnya, jalur pengiriman minyak dunia itu butuh waktu untuk kembali normal setelah terganggu akibat ancaman Iran dan blokade AS.
Banga menilai negara-negara terkait harus bersiap menghadapi ketidakstabilan dalam beberapa bulan ke depan.
Ia mengatakan World Bank sudah menyiapkan dana darurat untuk membantu negara-negara anggota sesuai lamanya konflik berlangsung.
Negara anggota bisa langsung mengakses dana sekitar US$20 miliar hingga US$25 miliar tanpa persetujuan baru. Jika perang berlanjut 5-6 bulan, nilainya bisa naik menjadi US$60 miliar.
Dalam 15 bulan ke depan, World Bank juga bisa menyiapkan US$80 miliar hingga US$100 miliar bila dibutuhkan.
Banga menambahkan, prioritas utama negara-negara terdampak saat ini adalah mengendalikan inflasi terlebih dahulu sebelum fokus mendorong pertumbuhan ekonomi.
(gls/gls) Addsource on Google
Foto: Presiden AS Donald Trump berbincang dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell. (REUTERS/Carlos Barria)
Foto: Usai merampungkan kunjungan kenegaraannya ke Rusia, Presiden melanjutkan agenda lawatan ke Prancis dan bertemu dengan Presiden Republik Prancis, Yang Mulia Emmanuel Macron. (Instagram/Presiden RepublikIndonesia)