Peringatan Keras IMF: Dunia Makin Gila, Utang Bengkak Demi Perang
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik global yang makin panas kini mulai tercermin jelas pada anggaran negara-negara di dunia. Di tengah perang yang masih berkobar di sejumlah kawasan, termasuk konflik terbaru di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, banyak pemerintah memilih memperbesar belanja militernya.
Laporan International Monetary Fund (IMF) edisi April 2026 menunjukkan tren itu sudah berlangsung luas. Dalam lima tahun terakhir, sekitar setengah negara di dunia menaikkan anggaran pertahanannya. Hingga 2024, hampir 40% negara tercatat mengalokasikan belanja militer lebih dari 2% terhadap PDB, naik dari 27% pada 2018.
Bahkan, penjualan senjata oleh 100 perusahaan senjata terbesar dunia telah melesat dua kali lipat dalam dua dekade terakhir.
Setelah sempat melambat pada awal 2000-an dan pasca-Perang Dingin, tren kenaikan anggaran pertahanan kini kembali menguat, meski dalam periode pasca-Perang Dingin ukurannya cenderung sedikit lebih kecil dan durasinya lebih pendek.
Belanja Militer Naik, Lonjakan Anggaran Pertahanan Makin Sering Terjadi
Kenaikan belanja militer dunia ternyata bukan cuma makin luas, tetapi juga makin besar. Dalam kajiannya atas 164 negara sejak 1946, IMF menemukan ada 215 kali lonjakan besar belanja pertahanan. Rata-rata, lonjakan itu berlangsung lebih dari 2,5 tahun dengan kenaikan sekitar 2,7 poin persentase terhadap PDB.
Artinya, yang terjadi saat ini bukan sekadar kenaikan anggaran biasa. Di banyak negara, belanja pertahanan naik dalam skala besar dan bertahan cukup lama. Tren seperti ini juga tercatat makin sering muncul sejak pertengahan 2010-an.
Mayoritas lonjakan itu terjadi di negara berkembang. Sekitar 88% dari seluruh lonjakan besar belanja pertahanan berasal dari kelompok emerging market and developing economies, terutama di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Sementara itu, di negara maju, kenaikan anggaran pertahanan memang lebih jarang terjadi, tetapi umumnya lebih besar dan berlangsung lebih lama, terutama ketika berkaitan dengan perang.
Lonjakan belanja pertahanan dunia memang bukan fenomena sesaat. Kenaikan besar sempat banyak terjadi pada era Perang Dingin, lalu mereda setelahnya.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pola itu kembali terlihat. Ini menandakan bahwa memanasnya geopolitik global benar-benar mulai mendorong semakin banyak negara untuk memperbesar anggaran militernya.
Bukan Cuma Naik, Dunia Juga Makin Berani Berutang untuk Belanja Militer
Kenaikan belanja militer dunia ternyata juga diikuti perubahan cara membiayainya. Lonjakan anggaran pertahanan di banyak negara umumnya tidak ditopang oleh kenaikan penerimaan negara yang besar. Sebaliknya, sekitar dua pertiga kenaikan belanja pertahanan justru dibiayai lewat defisit anggaran yang lebih lebar.
Pola ini paling terlihat pada awal kenaikan. Sebagian besar tambahan belanja militer biasanya terjadi pada tahun pertama, lalu hampir seluruh kenaikannya rampung dalam tiga tahun.
Pada fase itu, banyak pemerintah memilih jalur tercepat, yakni memperlebar defisit. Tambahan penerimaan negara memang ada, tetapi jauh lebih kecil. Sementara pengalihan anggaran dari pos lain baru terasa belakangan.
Secara rata-rata, defisit primer naik sekitar 1,1 poin persentase PDB pada tahun pertama dan secara kumulatif mendekati 2 poin persentase PDB pada tahun ketiga. Sebaliknya, tambahan penerimaan negara hanya sekitar 0,2 poin persentase PDB pada tahun pertama dan sekitar 1,2 poin persentase PDB secara keseluruhan.
Sekitar 39% lonjakan belanja pertahanan terutama dibiayai lewat defisit, 35% melalui kenaikan penerimaan, dan 26% lewat pengalihan belanja dari pos lain. Meski begitu, secara keseluruhan defisit tetap menjadi sumber pembiayaan utama.
Konsekuensinya pun cepat terasa pada keuangan negara. Dalam tiga tahun, lonjakan belanja pertahanan rata-rata diikuti kenaikan defisit fiskal sekitar 2,6 poin persentase PDB dan kenaikan utang pemerintah sekitar 6,6 poin persentase PDB.
Ini menunjukkan bahwa belanja militer yang besar bisa cepat mempersempit ruang fiskal, terutama bila pembiayaannya banyak bertumpu pada utang dan pelebaran defisit.
Belanja Pertahanan Bisa Angkat Ekonomi Jangka Pendek, Tapi Tetap Ada Konsekuensi
Kenaikan belanja pertahanan memang bisa memberi dorongan ke ekonomi dalam jangka pendek.
Pada kondisi non-perang atau tidak terjadi perang, saat anggaran militer naik, output riil suatu negara bisa meningkat lebih dari 3% dibanding saat tidak ada lonjakan belanja pertahanan. Dorongan ini muncul karena belanja militer yang lebih besar ikut menggerakkan permintaan di dalam negeri, baik lewat konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga, maupun investasi.
Namun, dorongan itu tidak datang tanpa biaya. Di balik pertumbuhan jangka pendek, ada sejumlah konsekuensi yang perlu diperhatikan. Mulai dari inflasi yang naik, beban fiskal yang membesar, neraca eksternal yang memburuk, hingga risiko menyempitnya ruang untuk belanja sosial.
1. Inflasi Naik
Belanja pertahanan yang melonjak bisa membuat ekonomi memanas dan mendorong harga-harga naik.
Pada masa kondisi non-perang, kenaikan anggaran pertahanan diikuti oleh kenaikan indeks harga konsumen hampir 3,6% dibanding kondisi normal. Meski tekanan ini dinilai cenderung sementara, inflasi tetap menjadi salah satu efek samping yang paling nyata dari meningkatnya belanja militer.
3. Neraca Eksternal Memburuk
Tekanan juga muncul dari sektor eksternal. Saat belanja pertahanan naik, impor biasanya ikut meningkat. Penyebabnya bukan hanya karena permintaan domestik menguat, tetapi juga karena banyak negara membeli peralatan militer dari luar negeri. Akibatnya, current account atau neraca transaksi berjalan cenderung memburuk. Risiko ini lebih besar di negara yang industri pertahanannya belum kuat dan masih bergantung pada impor alutsista.
4. Risiko Guns vs Butter
Ada pula risiko guns versus butter, yakni ketika anggaran negara makin banyak diarahkan ke pertahanan, sementara ruang untuk belanja sosial menyempit.
Secara rata-rata, kenaikan belanja pertahanan memang tidak selalu langsung memangkas belanja sosial. Namun bila pembiayaannya banyak berasal dari pengalihan anggaran, maka belanja untuk perlindungan sosial, kesehatan, dan pendidikan bisa ikut tertekan. Dalam kondisi perang, risikonya bahkan lebih berat karena belanja sosial turun secara riil sementara utang publik melonjak tajam.
Kesimpulannya cukup jelas. Belanja pertahanan memang bisa membantu mendorong ekonomi dalam jangka pendek. Namun manfaat itu datang bersama konsekuensi yang tidak kecil. Ekonomi bisa tumbuh, tetapi inflasi naik, beban fiskal membesar, neraca eksternal melemah, dan dalam kondisi tertentu belanja sosial ikut tertekan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google