MARKET DATA
Newsletter

Dunia Dibuat Cemas Hari Ini, Pemerintah Akan Beri Pengumuman Penting?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
08 April 2026 06:20
wall street
Foto: Reuters

Dari bursa saham AS, Wall Street mayoritas menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari wkatu Indonesia.

Indeks menguat di tengah pelemahan dolar dan obligasi pemerintah AS serta bersiapnya investor menghadapi hasil kebuntuan antara AS dan Iran.

Indeks S&P naik 0,08% dan ditutup di level 6.616,85, sementara Nasdaq Composite menguat 0,10% ke 22.017,85. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average turun 85,42 poin atau 0,18% ke 46.584,46.

Indeks-indeks utama bangkit dari posisi terendah sesi pada satu jam terakhir perdagangan setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, meminta Donald Trump untuk menunda selama dua minggu batas waktu serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran.

Pakistan juga meminta Iran untuk membuka Selat Hormuz selama dua minggu sebagai "tanda itikad baik."|

 

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa Trump sudah mengetahui proposal tersebut, dan respons akan segera diberikan.

Para trader sebelumnya mencermati tenggat waktu pukul 20.00 waktu ET atau 0700 WIB yang ditetapkan Trump bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan membuka kembali jalur laut tersebut, atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur mereka.

Pada Selasa pagi, Trump bahkan menulis di Truth Social: "Satu peradaban utuh akan mati malam ini, dan tidak akan pernah kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi kemungkinan besar akan terjadi."

Meski demikian, presiden masih membuka kemungkinan bahwa AS tidak akan menyerang negara Timur Tengah tersebut setelah tenggat waktu.

Dia menambahkan bahwa sekarang setelah kita memiliki perubahan rezim yang total dan menyeluruh, di mana pemikiran yang lebih cerdas dan tidak terlalu radikal mendominasi, mungkin sesuatu yang luar biasa bisa terjadi secara revolusioner, SIAPA YANG TAHU?"

Pernyataan Trump tersebut membuat investor tetap waspada sepanjang sesi perdagangan, yang awalnya menekan saham dan mendorong harga minyak naik. Namun pada akhirnya, harga minyak ditutup relatif stabil. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate naik 54 sen menjadi US$112,95 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah Brent internasional turun 15 sen menjadi US$109,62 per barel.

Sementara itu, Tom Graff dari Facet menilai investor harus mengasumsikan bahwa harga minyak akan tetap secara signifikan lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

Namun, ia melihat langkah Iran menutup Selat Hormuz sebagai taktik negosiasi.

Meskipun Iran mungkin ingin membukanya kembali dengan syaratnya sendiri, tidak ada pihak termasuk Iran yang diuntungkan dari penutupan permanen jalur tersebut.

"Saya tidak melihat kondisi di mana Selat itu tetap tertutup selama berbulan-bulan," ujar chief investment officer tersebut kepada CNBC.

(emb/emb)


Most Popular
Features