Tak Cuma Rusia-China, Diam-Diam Negara Kecil Ini Untung dari Perang
Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga minyak akibat perang Iran mulai membuka ruang bagi rival-rival Amerika Serikat (AS) untuk memperluas pengaruh di Asia. Di tengah krisis energi yang membuat banyak negara Asia kesulitan mencari pasokan bahan bakar dan pupuk, Rusia dan China bergerak memanfaatkan situasi.
Yang paling dikhawatirkan bukan hanya kenaikan harga, tetapi juga ketidakpastian pasokan. Asia sangat bergantung pada impor energi dan pupuk dari kawasan Teluk, sementara ancaman Iran terhadap Selat Hormuz membuat banyak kapal tertahan.
Melansir The Economist, hampir belasan negara Asia, termasuk Indonesia, Thailand, dan Vietnam, tengah mengantre membeli minyak mentah Rusia. Bahkan sekutu dekat AS seperti Jepang dan Korea Selatan mulai mempertimbangkan langkah serupa, sementara China juga berupaya mencari kesepakatannya sendiri.
Gelombang diplomasi energi baru ini memunculkan kemungkinan bahwa keputusan Presiden Donald Trump untuk berperang dengan Iran justru tanpa sengaja mengubah peta politik Asia. Filipina, misalnya, pada 27 Maret lalu mengumumkan pembelian 2,48 juta barel minyak mentah Rusia, yang menjadi pembelian pertamanya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Kirill Dmitriev, bos dana investasi negara Rusia, mengatakan posisi Rusia dalam ekonomi global dan geopolitik akan terdengar jauh lebih kuat saat harga minyak berada di atas US$100 per barel. Menurutnya, dalam kondisi seperti itu Rusia menjadi pihak yang tak mungkin diabaikan.
Rusia dan China Masuk Saat Asia Krisis Pasokan Minyak
Para diplomat Rusia di berbagai negara Asia, mulai dari Pakistan hingga Sri Lanka, disebut menawarkan bantuan untuk memediasi penjualan bahan bakar guna mengurangi tekanan pasokan.
Wakil Perdana Menteri Rusia juga mengatakan pada Maret bahwa negaranya sedang mengalihkan ekspor gas alam dari Eropa ke negara-negara yang ingin membangun hubungan jangka panjang dan konstruktif dengan Moskow.
Upaya Rusia ini juga terbantu oleh kebijakan Departemen Keuangan AS yang menunda sanksi terhadap minyak mentah Rusia yang sudah berada di laut. Langkah itu diambil untuk menambah pasokan minyak dan menahan kenaikan harga. Para pembeli di Asia kini memburu kesepakatan sebelum kelonggaran tersebut berakhir pada 11 April.
AS memang mengalihkan lebih banyak minyak mentah dan gas alam cair (LNG) ke Asia untuk membantu mengurangi kekurangan pasokan. Namun jumlahnya dinilai tidak akan cukup untuk menutup seluruh kekurangan yang ada.
Aleksei Zakharov dari Observer Research Foundation, lembaga yang berbasis di Delhi, mengatakan perang Iran telah membuka peluang baru bagi Moskow. Peluang itu bukan hanya di sektor minyak, tetapi juga di sektor energi lain.
Guncangan energi saat ini mendorong banyak negara Asia meninjau ulang kebijakan tenaga nuklir mereka. Misalnya, perusahaan energi milik negara Taiwan pada 27 Maret mengumumkan rencana untuk menghidupkan kembali sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir. Negara lain kemungkinan akan mengambil langkah serupa.
Selama bertahun-tahun, Rusia memang agresif menjual keahlian teknologinya di sektor nuklir ke Asia, meski hasilnya masih terbatas.
Tahun lalu, Rusia sepakat membantu junta militer Myanmar membangun reaktor modular kecil di dekat Naypyidaw. Yang lebih besar dampaknya, Vietnam dan Rusia pekan lalu meneken kesepakatan nuklir yang memang sudah lama diperkirakan, saat Perdana Menteri Vietnam berkunjung ke Moskow.
China juga mulai bergerak untuk mengurangi tekanan pasokan energi di kawasan. Pada awal Maret, Beijing sempat menghentikan ekspor produk minyak olahan demi memperkuat cadangannya yang memang sudah besar. Kebijakan itu justru memperdalam kecemasan di kawasan.
Namun kini China tampaknya mulai mengubah arah. Pada 30 Maret, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan negaranya siap membantu menjaga keamanan energi global.
China dilaporkan telah melepas sekitar 360.000 barel bahan bakar ke Vietnam dan Filipina.
Memang, jumlah itu sendiri belum cukup memberi perubahan besar. Namun langkah tersebut bisa menjadi sinyal bahwa China siap membuka cadangannya lebih luas bila krisis semakin memburuk.
Melihat peluang, China bahkan sempat menawarkan pasokan energi kepada Taiwan jika pulau itu mau bersatu di bawah pemerintahan Partai Komunis. Taiwan langsung menolak tawaran tersebut.
Meski begitu, banyak negara kemungkinan akan menyambut bantuan semacam itu. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., yang selama ini dikenal sebagai pendukung kuat AS dan kerap berseteru dengan China terkait sengketa di Laut China Selatan, kini mulai merayu kerja sama dengan Beijing.
Bukan Cuma Rivalnya, Guyana Juga Panen Durian Runtuh
Di belahan lain dunia, Guyana, negara kecil di Amerika Selatan, juga ikut menikmati durian runtuh dari lonjakan harga energi akibat konflik tersebut.
Guyana memang sangat jauh dari medan perang. Negara tropis dengan penduduk kurang dari 1 juta jiwa itu berada di pesisir timur laut Amerika Selatan. Namun, karena ekspor minyaknya tumbuh paling cepat di dunia, Guyana kini ikut kecipratan manfaat dari kekacauan di Selat Hormuz.
Sejak mulai memproduksi minyak dari ladang lepas pantai yang baru ditemukan pada 2019, ekonomi Guyana sudah tumbuh lima kali lipat. Laju ini menjadi salah satu yang tercepat di dunia.
Pertumbuhan itu bahkan terjadi ketika harga minyak relatif tenang, dengan rata-rata US$69 per barel pada 2025. Kini, harga minyak bergerak di sekitar US$100 per barel.
Harga minyak yang tinggi hanya menjadi satu dari serangkaian kabar baik bagi Guyana.
Pada September lalu, Presiden Irfaan Ali yang berhaluan sentris kembali terpilih, sehingga menenangkan investor yang sebelumnya khawatir terhadap lonjakan kelompok sayap kanan.
Dua bulan kemudian, dalam konferensi COP30 di Belém, Brasil, Ali juga mempromosikan Guyana sebagai pemimpin dalam bidang iklim, dengan janji yang samar untuk menggunakan limpahan uang minyak untuk adaptasi terahadap perubahan iklim.
Lalu pada Januari, tentara Amerika Serikat menangkap Nicolás Maduro, diktator Venezuela. Maduro sebelumnya secara agresif mengklaim sebagian wilayah Guyana. Setelah dia lengser, eksplorasi kembali dimulai di beberapa area yang sebelumnya dibatasi di Blok Stabroek, ladang raksasa sekitar 200 kilometer ke arah Atlantik yang menjadi sumber utama minyak dan gas Guyana.
Mantan Menteri Sumber Daya Alam Guyana, Raphael Trotman, mengatakan limpahan uang itu kini benar-benar mulai terasa. Berdasarkan estimasi, pendapatan dari minyak Guyana sudah naik menjadi US$623 juta per pekan, dari sekitar US$370 juta per pekan sebelum perang.
Melihat peluang besar itu, operator Blok Stabroek yang merupakan konsorsium yang dipimpin ExxonMobil, ingin menaikkan produksi 2,5% menjadi 940.000 barel per hari. Jika target itu tercapai dan harga minyak tetap di atas US$100 per barel sepanjang 2026, maka ladang minyak Guyana diperkirakan bisa menghasilkan pendapatan US$33 miliar tahun ini. Angka itu sekitar tiga perempat lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelum perang.
Keuntungan Guyana juga ditopang oleh pasar ekspornya. Sekitar dua pertiga minyak negara itu dikirim ke Eropa, yang kini rela membayar premi mahal demi mengamankan pasokan energi. Jika ditambah premi sekitar US$10 per barel di atas harga pasar, bonus perang yang dinikmati Guyana bisa melampaui 90%.
Foto: The EconomistGuyana |
Porsi keuntungan Guyana dari minyak sebenarnya masih relatif kecil. Saat ini pemerintah baru menerima 14,5% dari nilai setiap barel, sementara sisanya menjadi bagian konsorsium.
Namun lonjakan harga akibat perang membuat biaya historis perusahaan diperkirakan lunas pada akhir 2026, atau setahun lebih cepat dari jadwal. Setelah itu, bagian pendapatan pemerintah bisa naik menjadi 52% jika tidak ada ekspansi tambahan.
Meski begitu, perusahaan-perusahaan minyak besar justru terus mempercepat pengembangan proyek baru. Dalam jangka pendek, langkah ini bisa menahan kenaikan pendapatan pemerintah, tetapi ke depan berpotensi memperbesar pemasukan.
Saat ini empat proyek sudah berjalan dengan dukungan FPSO senilai US$2 miliar per unit. ExxonMobil sedang mempercepat FPSO kelima agar mulai beroperasi dalam beberapa bulan ke depan, setahun lebih cepat dari rencana.
FPSO keenam sedang dibangun, proyek ketujuh dipercepat untuk mulai produksi pada 2028, dan perusahaan juga telah mengajukan proyek kedelapan yang akan menjadi proyek gas alam pertama Guyana. Proyek kesembilan disebut akan diajukan dalam waktu kurang dari setahun.
Di Balik Peluang, Risiko Juga Membesar
Bahkan sebelum perang, pemerintah Guyana sudah memperkirakan pendapatan minyak tahun ini mencetak rekor US$2,8 miliar. Pada 2025, pendapatan dari bahan bakar fosil menyumbang sekitar setengah anggaran negara, sementara produksi minyak setara dengan tiga perempat produk domestik bruto (PDB).
Konsultan energi Rystad Energy, Radhika Bansal, menilai lonjakan harga minyak justru akan memperdalam ketergantungan Guyana pada sektor energi. Saat keuntungan minyak melonjak, biaya energi yang lebih tinggi justru menekan sektor-sektor lain dalam ekonomi.
Pemerintah sudah menurunkan bea bahan bakar menjadi nol dan menekan GuyOil agar membatasi kenaikan harga. Namun operator swasta tetap menaikkan harga, sehingga Presiden Irfaan Ali sampai meminta patriotisme ekonomi.
Situasi ini memunculkan kembali kekhawatiran soal resource curse atau kutukan sumber daya, yakni ketika ledakan ekspor komoditas justru merusak sektor ekonomi lainnya. Meski pemerintah berusaha menahannya lewat pembangunan infrastruktur dan tetap menjaga inflasi inti serta defisit fiskal, masalah mulai terlihat.
Biaya makanan dan perumahan sudah naik 75% sejak 2021. Industri minyak juga menyedot tenaga kerja terbaik dari sektor lain. Banjir uang minyak mendorong pemborosan, bahkan membuka risiko klientelisme. Salah satu contohnya terlihat pada proyek gas ke darat untuk pembangkit listrik yang molor bertahun-tahun dan biayanya membengkak hingga enam kali lipat.
Mantan Menteri Keuangan Guyana, Winston Jordan, menilai limpahan dana minyak saat ini seharusnya lebih banyak disimpan dalam sovereign wealth fund agar belanja pemerintah tidak terlalu agresif. Sebab, ketika harga minyak tinggi terus mengalir ke kas negara, godaan untuk membelanjakannya akan makin besar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Foto: The Economist