MARKET DATA

Awas Krisis! Negara Ramai-Ramai Batasi Ekspor & Sunat Produksi Minyak

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 March 2026 18:40
A gas flare on an oil production platform in the Soroush oil fields is seen alongside an Iranian flag in the Persian Gulf, Iran, July 25, 2005. REUTERS/Raheb Homavandi
Foto: Iran (REUTERS/Raheb Homavandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak negara mulai mempertimbangkan untuk membatasi ekspor minyak hingga gas, seiring dengan ketegangan di Timur Tengah yang tak kunjung mereda.

Di tengah konflik yang terus memanas, harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi karena pelaku pasar semakin khawatir terhadap gangguan pasokan dari kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.

Gangguan di jalur pelayaran utama, serangan terhadap kapal, hingga hambatan distribusi membuat pasar minyak bergerak sangat sensitif terhadap setiap perkembangan baru.

Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak dunia masih bergerak tinggi di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Hingga Jumat (6/3/2026) per pukul 16.49 WIB, harga minyak Brent tercatat berada di US$86,6 per barel atau menguat 1,4% sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$83,36 per barel atau menguat 2,9%

Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak sempat melonjak tajam. Pada Kamis (5/3/2026) misalnya, Brent ditutup di US$85,41 per barel dan WTI di US$81,01 per barel, menjadi salah satu level tertinggi sejak pertengahan 2024.

Kenaikan ini muncul setelah pasar energi merespon gangguan pasokan global yang dipicu konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Situasi inilah yang kemudian mendorong sejumlah negara mengambil langkah antisipatif untuk mengamankan cadangan minyak sampai gas mereka. Ada yang sudah memangkas produksi karena ekspor terganggu, ada pula yang mulai menahan pengiriman energi ke luar negeri agar kebutuhan domestik tetap aman.

Irak Pangkas Produksi

Irak menjadi salah satu negara yang sudah mengambil langkah paling nyata. Dua pejabat minyak Irak mengatakan negara itu telah memangkas produksi minyak hampir 1,5 juta barel per hari karena ekspor terganggu dan kapasitas penyimpanan mulai menipis.

Pemangkasan itu berasal dari ladang Rumaila, West Qurna 2, dan Maysan. Bahkan, pengurangan produksi disebut bisa melebar menjadi lebih dari 3 juta barel per hari apabila kapal tanker minyak masih belum bisa bergerak bebas melalui Selat Hormuz dan mencapai pelabuhan muat.

Kementerian Perminyakan Irak juga menyatakan penurunan produksi itu terjadi akibat terhentinya ekspor setelah penutupan Selat Hormuz.

China Mulai Tahan Ekspor BBM

China juga mulai mengambil langkah berjaga-jaga, meski bukan pada ekspor minyak mentah. Pemerintah China dilaporkan telah meminta kilang-kilang minyak terbesar di negaranya untuk menghentikan ekspor diesel dan bensin.

Sejumlah pejabat dari National Development and Reform Commission (NDRC) disebut telah bertemu dengan para eksekutif perusahaan kilang minyak disana dan meminta penghentian sementara pengiriman produk BBM olahan yang berlaku segera.

Para kilang juga diminta berhenti menandatangani kontrak baru serta merundingkan pembatalan pengiriman yang sebelumnya sudah disepakati.

Namun, pengecualian diberikan untuk bahan bakar jet dan bunker fuel yang disimpan di bonded storage, serta pasokan ke Hong Kong dan Makau. Langkah ini mencerminkan upaya Beijing untuk lebih memprioritaskan kebutuhan dalam negeri di tengah krisis Timur Tengah yang semakin dalam.

China memiliki sektor pengilangan yang sangat besar. Namun, sebagian besar produksinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga negara itu bukan pemasok yang sangat krusial.

China berada di posisi ketiga untuk ekspor melalui jalur laut, setelah Korea Selatan dan Singapura.

Meski begitu, pembatasan yang dilakukan Beijing sebagai langkah antisipasi ini mencerminkan upaya negara-negara di kawasan yang bergantung pada impor untuk lebih memprioritaskan kebutuhan domestik, seiring krisis di Timur Tengah yang semakin dalam.

Wacana Penghentian Ekspor Gas Rusia

Sementara itu, Rusia belum mengumumkan penghentian ekspor secara resmi, tetapi pemerintahnya sudah membuka peluang ke arah sana. Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengatakan pemerintah Rusia akan segera menggelar pertemuan untuk membahas kemungkinan penghentian ekspor gas ke Eropa.

Sebelumnya, Presiden Vladimir Putin mengatakan Rusia bisa menghentikan pasokan saat ini juga di tengah lonjakan harga energi yang dipicu krisis Iran.

Meski keputusan itu disebut belum diambil, pernyataan tersebut menandakan bahwa Rusia sedang mempertimbangkan opsi menahan pasokan energi ke pasar Eropa. Novak juga menyebut gas Rusia masih menyumbang lebih dari 12% pasokan Eropa.

Perkembangan dari Irak, China, dan Rusia memperlihatkan satu benang merah yang sama. Ketika konflik Timur Tengah memicu gangguan pasokan dan distribusi, negara produsen maupun konsumen besar mulai mengutamakan kepentingan energi domestik masing-masing.

Selama gangguan di jalur pelayaran utama belum pulih dan ketegangan kawasan masih tinggi, pasar energi global berisiko tetap berada dalam tekanan, dengan harga minyak yang cenderung volatil dan pasokan yang masih dibayangi ketidakpastian.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular