MARKET DATA

Impor Plastik RI Tembus Rp 46,3 Triliun, Siapa Negara Pemasoknya?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
06 April 2026 15:15
Ilustrasi Biji Plastik. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Biji Plastik. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia- Plastik tidak bisa lepas dari keseharian.

Plastik hadir dalam bentuk yang sulit disadari lapisan tipis pada kemasan makanan, serat pakaian, hingga komponen kendaraan. Jejaknya bisa ditelusuri dari satu kode, HS 39. Di dalamnya, seluruh rantai plastik dari bahan mentah hingga barang jadi tercatat.

Melansir satudata Kementerian Perdagangan, impor plastik dan barang daripadanya mencapai US$ 2,72 miliar pada 2025 atau sekitar Rp 46,32 triliun (US$1= Rp 17.030). Angka ini lebih rendah dibanding 2024 yang sebesar US$ 2,79 miliar. Dalam lima tahun terakhir, trennya turun 1,62%, dengan kontraksi tahunan 2,36% pada 2025.

Pangsanya terhadap total impor nasional berada di kisaran 1%, angka kecil di atas kertas, namun menopang banyak sektor industri.

Dua bulan pertama 2026 nilai impor mencapai US$ 444,9 juta, tumbuh 1,22% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Pergerakan mulai berbalik arah, meski skalanya masih terbatas.

Dari Minyak ke Pelet, Bagaimana Plastik Lahir

Semua plastik bermula dari perut bumi. Minyak mentah dan gas alam diangkat ke permukaan, lalu masuk ke tahap pemurnian.

Di kilang, minyak dipanaskan hingga terpisah menjadi fraksi-fraksi ringan. Salah satu fraksi yang krusial adalah naphtha bahan baku utama industri petrokimia.

Naphtha kemudian dipecah menjadi molekul kecil seperti etilena dan propilena. Di sinilah tahap polimerisasi berlangsung.

Molekul-molekul kecil itu dirangkai menjadi rantai panjang polimer melalui dua jalur utama adisi dan kondensasi. Hasilnya resin dalam bentuk butiran kecil.

Butiran ini masuk ke tahap berikutnya, pencampuran dan pencetakan.

Resin dilelehkan, dicampur aditif, lalu dibentuk menjadi produk mulai dari botol, pipa, hingga serat tekstil. Seluruh siklus ini membentuk fondasi industri plastik global.

Polipropilena (PP) - HS 3902
Nilai impor mencapai US$ 913,6 juta pada 2025, turun hampir 20% dibanding tahun sebelumnya. Pasokan utama berasal dari China, Thailand, dan Malaysia. PP banyak digunakan untuk kemasan kaku dan komponen otomotif-dua sektor yang sensitif terhadap siklus konsumsi dan manufaktur.

Polietilena (PE) - HS 3901
Terbagi dalam dua jenis utama:

  • LDPE mencatat impor US$ 433,6 juta, turun 28,27%

  • HDPE sebesar US$ 508,6 juta, turun 16,88%

Keduanya menjadi bahan dasar kantong plastik, botol, hingga wadah makanan. Penurunan tajam memberi indikasi perlambatan permintaan domestik, terutama dari sektor konsumsi massal.

Polistirena (PS) - HS 3903
Impor US$ 31,51 juta, terkontraksi 30,82%. PS banyak dipakai untuk kemasan busa (EPS). Angka ini biasanya bergerak seiring aktivitas logistik dan e-commerce.

Berbeda dari polimer komoditas, kelompok plastik teknik memiliki peran spesifik di industri manufaktur.

Poliamida (PA / Nylon) - HS 3908
Impor mencapai US$ 162,3 juta, turun 25,68%. Digunakan dalam serat tekstil dan komponen kendaraan. Penurunan mencerminkan tekanan pada industri tekstil dan otomotif.

Poliuretan (PU) - HS 3909.50
Nilai impor US$ 202,7 juta, nyaris stagnan dengan kenaikan tipis 0,29%. PU hadir dalam bentuk busa, pelapis, hingga bahan isolasi. Stabilitas angka ini mengindikasikan permintaan yang relatif bertahan.

Polivinil Klorida (PVC) - HS 3904
Bergerak berlawanan arah. Impor US$ 111,7 juta, melonjak 49,39%. PVC banyak dipakai untuk pipa dan konstruksi. Lonjakan ini sering terkait proyek infrastruktur.

Poliester (PES) - HS 3907
Impor US$ 31,34 juta, turun 8,09%. Digunakan dalam tekstil dan pelapis. Pergerakannya mengikuti industri garmen.

Penurunan pada sebagian besar polimer dasar memberi sinyal pelemahan konsumsi dan produksi barang massal. Sementara itu, kenaikan pada PVC menunjukkan aktivitas konstruksi yang masih berjalan. PU yang stabil menjaga sisi industri bernilai tambah.

Meski tren impor menurun, ketergantungan terhadap bahan baku luar negeri belum berubah. Polimer seperti PP dan PE masih mendominasi, sementara kapasitas domestik belum sepenuhnya menutup kebutuhan.

Di sisi lain, pergeseran kecil di awal 2026 membuka ruang pembacaan baru. Kenaikan tipis memberi petunjuk adanya pemulihan permintaan walau arahnya masih terlalu dini untuk disimpulkan, namun cukup untuk menandai perubahan ritme.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular