Adu Hebat Kinerja 5 Bank Himbara: BRI, BNI Hingga Mandiri Siapa Juara?
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja industri perbankan nasional sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan tingkat resiliensi yang memadai di tengah berbagai dinamika makroekonomi.
Lima entitas Bank Himbara di Indonesia yang memiliki peran sistemik dalam menjaga stabilitas keuangan, yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), serta PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), telah mempublikasikan laporan keuangan konsolidasian untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2025.
Secara keseluruhan, kelima bank tersebut mencatatkan kinerja fundamental yang positif, baik dari sisi profitabilitas, ekspansi aset, maupun fungsi intermediasi melalui penyaluran pembiayaan.
Tingkat efisiensi operasional dan pengelolaan margin juga tetap terjaga. Untuk mempermudah analisis, rincian perbandingan kinerja kelima bank tersebut telah dirangkum dalam tabel komprehensif berikut ini:
Dinamika Laba Bersih Perbankan
Dari perspektif profitabilitas, mayoritas entitas dalam kelompok ini berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang stabil secara YoY. Bank BTN mencatatkan persentase pertumbuhan laba tertinggi, yakni sebesar 16,42% YoY, yang membawa perolehan laba bersih konsolidasi perseroan mencapai Rp3,50 triliun pada 2025.
Pertumbuhan yang progresif juga terlihat pada BNI dan BSI yang masing-masing membukukan laba sebesar Rp21,46 triliun naik 7,10% secara YoY dan Rp7,57 triliun naik 8,02% secara YoY.
Sementara itu, Bank Mandiri mencatatkan laba bersih sebesar Rp56,29 triliun, tumbuh tipis namun solid di angka 0,92% YoY. Di sisi lain, Bank BRI masih menempati posisi teratas secara nominal industri dengan perolehan laba Rp57,13 triliun, meskipun secara persentase tahunan mengalami sedikit penyesuaian sebesar 5,26% YoY.
Ekspansi Total Aset yang Terukur
Pada sisi neraca keuangan, kelima entitas konsisten membukukan ekspansi yang terukur. Bank Mandiri memperkokoh posisinya sebagai institusi keuangan dengan aset terbesar di Indonesia, menembus angka Rp2.829,95 triliun setelah mencatatkan pertumbuhan sebesar 16,59% YoY.
Lonjakan aset yang paling tinggi dicatatkan oleh BNI, dengan peningkatan sebesar 20,52% YoY sehingga total aset konsolidasinya mencapai Rp1.362,05 triliun pada penutupan tahun 2025.
BRI, BTN, dan BSI juga melaporkan pertumbuhan total aset yang proporsional. Aset BRI tumbuh 7,10% YoY menjadi Rp2.135,37 triliun. Adapun total aset BTN tercatat tumbuh secara moderat menjadi Rp527,79 triliun naik 12,39% YoYÂ dan aset BSI mencapai Rp456,19 triliun naik 11,64% secara YoY.
Kenaikan ini merefleksikan kemampuan perbankan nasional dalam mengelola likuiditas secara efektif.
Intermediasi Kredit dan Kualitas Marjin (NIM)
Fungsi intermediasi perbankan terlihat berjalan dengan sangat memadai.Hal ini terlihat dari portofolio penyaluran kredit yang mencatatkan pertumbuhan dua digit pada kelima bank tersebut. Bank Mandiri merealisasikan penyaluran pembiayaan terbesar senilai Rp1.849,97 triliun.
BRI menyusul dengan portofolio kredit mencapai Rp1.521,49 triliun. BNI, BTN, dan BSI juga menunjukkan kapasitas ekspansi kredit yang kuat dengan perolehan portofolio masing-masing sebesar Rp899,53 triliun , Rp400,58 triliun, dan Rp319,54 triliun.
Sejalan dengan penyaluran kredit tersebut, rasio Net Interest Margin (NIM) mencerminkan seberapa efisien bank dalam mengoptimalkan selisih dari aset produktif terhadap beban dananya.
BRI mencatatkan rasio NIM tertinggi di kisaran 7,74%, yang secara struktur ditopang oleh penyaluran kredit di segmen mikro yang memiliki imbal hasil lebih tinggi. BSI dan Bank Mandiri menyusul dengan marjin yang kompetitif, masing-masing berada di level ekuivalen 5,30% dan 5,15%.
Di sisi lain, BTN dan BNI mencatatkan rasio NIM masing-masing di level 4,20% dan 3,80%. Angka tersebut merupakan manifestasi logis dari fokus model bisnis mereka pada kredit berisiko rendah seperti segmen korporasi maupun kredit kepemilikan rumah (KPR) yang memiliki tenor jangka panjang.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google