MARKET DATA
Newsletter

Setelah Trump Bersabda, Mampukah IHSG & Rupiah Melanjutkan Pesta?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 February 2026 06:15
Ilustrasi Trading (Stok Market)
Foto: Ilustrasi Trading (Stok Market)
  • Pasar keuangan Indonesia kompak menguat pada perdagangan kemarin. IHSG melesat dan rupiah menguat terhadap dolar AS
  • Wall Street  menguat berjamaah
  • Perkembangan tarif dagang AS, isi pidato kenegaraan Trump, serta rilis klaim awal pengangguran AS malam ini berpotensi menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berhasil ditutup menguat pada perdagangan kemarin, Rabu (25/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat, nilai tukar rupiah berhasil terapresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan Surat Berharga Negara (SBN) dibeli investor.

Pasar keuangan Tanah Air diharapkan mampu melanjutkan tren positif pada perdagangan hari ini, Kamis (26/2/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.

IHSG pada perdagangan kemarin Rabu berhasil menguat 0,50% atau naik 41,39 poin ke posisi 8.322,23. Sepanjang sesi, IHSG bergerak di rentang 8.259,75 - 8.373,48 dengan pembukaan di 8.318,15.

Sebanyak 336 saham naik, 335 turun, dan 146 stagnan. Nilai transaksi pun mencapai Rp29,88 triliun yang melibatkan 52,29 miliar saham dalam 2,84 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali naik hingga mencapai Rp14.940 triliun.

Investor asing terpantau melakukan kembali melakukan aksi beli dengan total net buy sebesar Rp2,74 triliun

Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor berada di zona hijau. Penguatan terbesar dipimpin sektor kesehatan yang naik 2,14% dan sektor konsumer siklikal yang menguat 1,73%, disusul sektor industri naik 0,88% serta sektor keuangan naik 0,61%.

Dari sisi emiten, penguatan IHSG banyak ditopang oleh saham perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan kontribusi 15,72 indeks poin. Disusul PT Bank Central Asia (BBCA) yang berkontribusi 9,47 indeks poin. Selain itu, emiten kertas PT Indah Kiat Pulp and Paper (INKP) berhasil menyumbang 8,47 indeks poin.

Namun laju penguatan IHSG tertahan oleh tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Barito Renewables Energy (BREN) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi 6,48 indeks poin.

Diikuti PT Bank Mandiri (BMRI) yang menahan laju dengan kontribusi 5,82 indeks poin, serta PT Chandra Asri Pacific (TPIA) dengan kontribusi 5,70 indeks poin.

Beralih ke pasar mata uang, nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarin Rabu.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.780/US$ atau terapresiasi 0,21%. Penguatan ini menjadi pembalikan arah setelah pada pembukaan perdagangan pagi nya rupiah sempat dibuka melemah tipis 0,03% di posisi Rp16.820/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak volatil dalam rentang Rp16.845-Rp16.780/US$.

Penguatan rupiah kemarin sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global. Dolar terkoreksi setelah Presiden AS Donald Trump tidak memberi sinyal perubahan arah kebijakan tarif dalam pidato kenegaraan atau yang disebut State of the Union.

Di saat yang sama, AS mulai menerapkan tarif global sementara sebesar 10% sejak Selasa kemarin, dan pasar menilai masih terbuka ruang kenaikan menjadi 15% menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif resiprokal Trump sebelumnya.

Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga mencermati komentar sejumlah pejabat bank sentral AS yang menilai suku bunga masih layak dipertahankan di tengah pasar tenaga kerja yang membaik namun risiko inflasi belum sepenuhnya reda.

Meski demikian, pasar tetap memproyeksikan peluang pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, sehingga tekanan terhadap dolar belum sepenuhnya hilang.

Koreksi dolar inilah yang pada akhirnya membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, hingga mampu ditutup di zona hijau pada perdagangan kemarin.

Beralih ke pasar obligasi, SBN yang memiliki tenor 10 tahun tercatat mengalami penurunan 0,43% menjadi 6,410%.

Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield turun berarti harga obligasi naik, hal ini menunjukkan investor cenderung tengah masuk ke pasar SBN.



Dari pasar saham Amerika Serikat, bursa Wall Street menguat pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Kenaikan didukung oleh penguatan Nvidia dan Oracle, seiring pasar melanjutkan penguatan dari sesi perdagangan sebelumnya.

Indeks S&P 500 naik 0,81% dan ditutup di 6.946,13, sementara Nasdaq Composite menguat 1,26% menjadi 23.152,08. Dow Jones Industrial Average menanjak 307,65 poin atau 0,63% dan berakhir di 49.482,15.

Saham Nvidia naik 1,4% menjelang laporan kinerjanya yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan pasar, bersamaan dengan laporan dari raksasa perangkat lunak Salesforce dan Snowflake.

Laporan Nvidia hadir di tengah kondisi investor yang mulai menyesuaikan kembali valuasi tinggi saham teknologi dan semakin skeptis terhadap besarnya belanja modal (capital expenditure/capex) AI oleh perusahaan hyperscaler.

"Apakah kepercayaan pasar seperti ini bisa bertahan dalam beberapa hari ke depan sebagian akan bergantung pada laba NVIDIA," tulis Ulrike Hoffmann-Burchardi, Chief Investment Officer untuk Amerika dan Global Head of Equities di UBS, dalam sebuah catatan, kepada CNBC International.

"Dengan hyperscaler yang dalam beberapa pekan terakhir mengumumkan peningkatan capex lagi, pasar memperkirakan produsen chip tersebut akan memproyeksikan pendapatan di atas estimasi konsensus disertai pertumbuhan penjualan yang kuat." Imbuhnya.

Michael Rosen, Chief Investment Officer di Angeles Investment Advisors, memperingatkan agar investor tidak bertaruh melawan CEO Jensen Huang, dengan mengatakan bahwa ia "memainkan kartunya dengan sangat baik.

Saham perusahaan AI lainnya, Oracle, melonjak 1%, memimpin kelanjutan rebound saham perangkat lunak, setelah saham tersebut dinaikkan peringkatnya oleh Oppenheimer yang menilai profil risiko-imbal hasilnya menarik setelah koreksi baru-baru ini.

Sektor perangkat lunak memperpanjang penguatannya dari sesi sebelumnya, ketika iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) naik hampir 2%. ETF tersebut melonjak 3% pada hari Rabu, dengan saham seperti Palantir Technologies dan Microsoft ikut menguat.

Rosen menilai kekhawatiran investor terhadap sektor perangkat lunak dan AI "agak berlebihan."

"Pasar, menurut saya, sedang bergerak dari pendekatan 'masukkan semuanya ke satu kategori dan dorong naik' menjadi lebih selektif terhadap perusahaan mana yang mungkin memiliki posisi lebih baik dibanding yang lain," ujarnya.

Rosen juga mengatakan bahwa pasar yang sebelumnya jual dulu, tanya belakangan kini memasuki fase tanya belakangan, di mana segala sesuatunya mungkin tidak lagi terasa begitu menakutkan.

Memasuki perdagangan Kamis ini, pasar keuangan Indonesia berpotensi bergerak lebih sensitif karena dibayangi rangkaian sentimen khususnya dari Amerika Serikat.

Pelaku pasar tidak hanya mencerna arah kebijakan ekonomi yang kembali ditegaskan Presiden AS Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, tetapi juga mencermati meningkatnya tensi geopolitik setelah Trump menyinggung kemungkinan langkah terhadap Iran, hingga ketidakpastian akan kebijakan tarif dagang baru. 

Berikut ini adalah beberapa sentimen yang diperkirakan mampu menjadi pemicu gerakan pasar di perdagangan hari ini.

Poin Penting dari Pidato Kenegaraan Trump

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan State of the Union 2026 di hadapan Kongres AS pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu pagi 25 Februari 2026 waktu Indonesia.

Dalam pidato hampir dua jam, Trump memamerkan capaian tahun pertama masa jabatan keduanya, mulai dari klaim perbatasan yang semakin ketat, penurunan inflasi, penguatan pasar saham, dorongan produksi energi, hingga arah kebijakan pajak dan tarif. Di saat yang sama, ia menegaskan narasi bahwa Amerika memasuki era keemasan menjelang peringatan 250 tahun kemerdekaan pada 4 Juli 2026.

Berikut adalah ringkasan 14 poin pidato Trump versi rangkuman CNBC Indonesia.

Pidato Trump Mengenai Iran

Sentimen selanjutnya masih datang dari pidato kenegaraan Trump di hadapan Kongres yang memaparkan alasan yang ia nilai dapat menjadi dasar opsi serangan terhadap Iran. Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, sembari menyebut Teheran sebagai sponsor terbesar terorisme di dunia.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah. Namun, Trump dinilai belum banyak menjelaskan secara rinci kepada publik Amerika mengenai alasan dan batasan langkah yang dapat diambil, meski situasinya berpotensi mengarah pada eskalasi terbesar terhadap Iran sejak Revolusi 1979.

Dalam pidatonya, Trump menyoroti dukungan Iran terhadap kelompok militan, penanganan demonstrasi di dalam negeri, serta program rudal dan nuklir sebagai ancaman bagi stabilitas kawasan dan kepentingan AS.

Ia juga menuding Iran kembali menghidupkan program nuklirnya dan mengembangkan rudal yang suatu saat mampu menjangkau wilayah Amerika, sejalan dengan klaim media pemerintah Iran terkait pengembangan rudal berjangkauan hingga Amerika Utara.

Di sisi lain, ketegangan ini terjadi ketika upaya perundingan nuklir belum menghasilkan komitmen yang dianggap tegas oleh Trump. Trump menyatakan frustrasi karena belum mendengar pernyataan Iran yang benar benar memastikan tidak akan memiliki senjata nuklir, sementara Iran menegaskan riset nuklirnya ditujukan untuk kebutuhan energi sipil.

Trump juga menyinggung isu korban dalam demonstrasi anti pemerintah di Iran, tetapi angka yang ia sebutkan jauh lebih tinggi dibanding perkiraan yang umum beredar. Menanggapi hal tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membantah klaim terkait program nuklir, rudal, serta jumlah korban, dan menyebutnya sebagai pengulangan kebohongan besar.

Sinyal Tarif AS Naik 15% dan Pengecekan Ulang Tarif ke Indonesia

Sentimen berikutnya datang dari kebijakan dagang Amerika Serikat yang memberi sinyal tarif ekspor ke AS baru yang saat ini dipatok 10% tidak akan berhenti di angka itu. Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau USTR, Jamieson Greer, mengatakan tarif untuk sejumlah negara akan naik menjadi 15% atau lebih tinggi, meski ia belum menyebutkan negara mana saja yang akan terdampak.

Greer menyampaikan pernyataan itu saat wawancara dengan media AS pada Rabu kemarin. 

Greer juga menegaskan pemerintah AS tidak berniat menaikkan tarif terhadap barang China di atas level saat ini, seiring rencana Presiden Donald Trump berkunjung ke China dalam beberapa pekan ke depan.

Yang perlu dicermati bagi Indonesia, Greer menyebut kebijakan tarif baru akan ditopang oleh penyelidikan praktik dagang tidak adil melalui Section 301. Ia mengatakan mekanisme ini juga dapat dipakai sebagai alat penegakan kesepakatan dagang yang sudah diteken, termasuk kesepakatan AS dengan Indonesia.

Perjanjian tersebut sudah lebih dulu diteken pada Kamis (19/2/2026) di Washington DC, dan ditandatangani langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto serta Presiden AS Donald Trump.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani tarif perdagangan resiprokal kedua negara. Salah satu isinya ialah mengenakan tarif dagang 0% untuk sejumlah produk, Kamis (19/2/2026). (Dok. Media Sosial Sekretariat Kabinet)Foto: Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani tarif perdagangan resiprokal kedua negara. Salah satu isinya ialah mengenakan tarif dagang 0% untuk sejumlah produk, Kamis (19/2/2026). (Dok. Media Sosial Sekretariat Kabinet)
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani tarif perdagangan resiprokal kedua negara. Salah satu isinya ialah mengenakan tarif dagang 0% untuk sejumlah produk, Kamis (19/2/2026). (Dok. Media Sosial Sekretariat Kabinet)

USTR disebut akan membuka penyelidikan terkait praktik dagang Indonesia, khususnya mengenai isu kapasitas industri dan subsidi sektor perikanan, sebelum menentukan tarif yang akan diterapkan ke depan.

Bagi pasar keuangan Tanah Air, arah lanjutan kebijakan tarif ini berpotensi mempengaruhi sentimen pasar di hari ini. Jika ketidakpastian akan tarif makin besar maka volatilitas dapat meningkat dan menekan aset berisiko.

Jelang Rilis Klaim Awal Pengangguran AS

Pelaku pasar pada perdagangan Kamis ini juga menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, yakni klaim awal pengangguran atau initial jobless claims.

Data mingguan ini dijadwalkan keluar pada Kamis ini pukul 08.30 waktu setempat atau sekitar 20.30 WIB, dan kerap menjadi petunjuk cepat untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja AS.

Sebagai catatan, pada rilis sebelumnya klaim awal pengangguran AS turun 23.000 dibanding pekan sebelumnya menjadi 206.000 pada pekan kedua Februari, jauh di bawah perkiraan pasar 225.000. Angka tersebut menandakan pasar tenaga kerja masih relatif stabil, meski laju perekrutan dinilai belum terlalu kuat.

Sementara itu, klaim berlanjut atau continuing claims yang kerap dibaca sebagai proksi jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan, naik tipis 17.000 menjadi 1.869.000 pada pekan pertama Februari. Artinya, sebagian pekerja yang terkena PHK masih membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali mendapat pekerjaan.

Bagi pasar keuangan, rilis ini bisa mempengaruhi arah dolar AS, imbal hasil obligasi AS, serta selera risiko global.

Jika klaim kembali turun dan pasar tenaga kerja dinilai tetap kuat, ekspektasi suku bunga cenderung bertahan lebih tinggi lebih lama. Sebaliknya, bila klaim melonjak, pasar bisa membaca adanya pelemahan ekonomi yang mendorong mode lebih hati hati.

Kinerja Keuangan BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengumumkan kinerja tahun penuh 2025 pada hari ini. Laporan ini sangat ditunggu karena bank plat merah ini biasanya menjadi bank dengan pengumpulan laba terbesar di Indonesia.

Kinerja BRI juga akan mencerminkan seberapa kencang laju UMKM Indonesia karena sebagian besar kredit ditopang sektor tersebut.

BRI mencetak laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian senilai Rp57,13 triliun sepanjang 2025. Angka ini turun dibandingkan pada 2024 yang tercatat Rp60,15 triliun.

Bank raksasa lain juga sudah melaporkan kinerja keuangannya.

Bank Mandiri mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp56,3 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh sekitar 0,93%-1% secara tahunan (yoy). Bank Negara Indonesia laporkan laba bersih Rp 20,04 triliun di 2025, turun 6,63% dari tahun sebelumnya.

BTN melaporkan pembukuan pertumbuhan laba bersih konsolidasian sepanjang 2025 sebesar dua digit, yakni 16,4 (YoY) mencapaiRp3,5 triliunpada tahun 2025. Laba bersih BTN dipicu oleh pendapatan bunga yang naik 23,0% yoy menjadi Rp36,3 triliun hingga akhir 2025.

Sementara itu, Bank Central Asia mencetak laba Rp57,5 triliun sepanjang 2025, tumbuh 4,9% secara tahunan.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini: 

  • Menteri Perdagangan bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian akan meluncurkan Trade Expo Indonesia ke-41 tahun 2026 di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat

  • Jumpa pers Jakarta Property Highlights Retail and Industry Sectors

  • PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menyelenggarakan Edukasi Wartawan dengan tema Pasar Modal Syariah: "Menuju 15 Tahun Kebangkitan Pasar Modal Syariah Indonesia" via Ms Teams

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menyelenggarakan The 2nd Indonesia Climate Banking Forum di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat

  • Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Indonesia mengundang rekan-rekan media untuk menghadiri Exclusive Group Interview terkait perkembangan kinerja Garuda Indonesia yang turut didampingi oleh Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan

  • Press Conference Virtual Pemaparan Kinerja BRI TW IV Tahun 2025\

  • Doorstop Sosialisasi Penyesuaian PP 28 Tahun 2025 pada Sistem OSS yang akan dihadiri oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM yang dilaksanakan di depan Auditorium Nusantara, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta Selatan.

  • Sidang dengan agenda vonis terdakwa kasus dugaan tindak pidana korupsi impor minyak mentah dan bahan bakar minyak di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat.

  • Silaturahmi Ramadan bersama Grab Indonesia dengan tema: "Memahami Dinamika Sektor Platform Digital Melalui Ekosistem Grab" di Roemah Kuliner, Menteng, Jakarta Pusat. Narasumber: Chief Executive Officer Grab Indonesia

  • Rilis klaim pengangguran awal AS
  • Pidato Pejabat The Fed Bowman
  • Suku Bunga Bank Sentral Korea Selatan

 

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

-          Pemberitahuan Rencana RUPS : BUVA, GTSI, & BRAU

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Next Article Sentimen Campur Aduk Hantui RI: Was-Was Daya Beli-Alarm Bahaya Jepang


Most Popular
Features