Ini 5 'Emas Cair' yang Diburu Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia-Â Getah pohon termasuk komoditas hasil hutan yang paling lama diperdagangkan manusia. Getah ini sangat berharga layaknya emas.
Resin dan lateks menjadi bahan baku industri sejak ratusan tahun lalu. Produk ini masuk ke berbagai sektor produksi mulai dari parfum hingga manufaktur. Di banyak negara tropis, penyadapan getah masih menjadi sumber ekonomi masyarakat hutan.
Getah terbentuk saat jaringan pohon mengalami kerusakan atau infeksi. Zat kimia yang keluar dari batang berfungsi melindungi jaringan kayu dari mikroorganisme. Studi dalam jurnal Forest Ecology and Management menjelaskan resin merupakan sistem pertahanan biologis yang terbentuk setelah pohon mengalami luka atau infeksi.
Resin kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku industri karena sifat kimianya stabil dan mudah diproses. Organisasi Pangan Dunia FAO mengelompokkan resin sebagai hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomi penting di negara tropis.
Nilai perdagangan getah dipengaruhi kualitas resin dan umur tanaman. Sebagian jenis getah memerlukan waktu pembentukan bertahun-tahun sebelum bisa dipanen.
1. Gaharu
Getah berasal dari pohon Aquilaria. Resin terbentuk setelah pohon mengalami infeksi mikroorganisme yang memicu produksi senyawa aromatik.
Penelitian Blanchette menceritakan pembentukan resin gaharu merupakan respons biologis terhadap infeksi jamur yang menyerang jaringan kayu.
Foto: Aquilaria malaccensis atau disebut dengan pohon gaharu. (Dok. indiabiodiversity)Aquilaria malaccensis atau disebut dengan pohon gaharu. (Dok. indiabiodiversity) |
Â
Resin yang terbentuk mengandung senyawa aromatik kompleks. Senyawa ini menjadi bahan baku parfum dan dupa. Gaharu telah menjadi komoditas perdagangan internasional selama berabad-abad. Wilayah Asia Tenggara menjadi pusat produksi utama gaharu dunia. Hutan tropis menyediakan habitat alami pohon Aquilaria.
Pembentukan resin berlangsung lama. Sebagian pohon memerlukan waktu puluhan tahun sebelum menghasilkan gaharu berkualitas tinggi. Keterbatasan pasokanlah yang membuat harga gaharu dapat mencapai tingkat tinggi di pasar internasional.
2. Damar
Damar berasal dari pohon keluarga Dipterocarpaceae dan Agathis. Penyadapan dilakukan dengan melukai batang sehingga getah keluar secara perlahan. Resin yang mengeras dikumpulkan dalam bentuk kristal berwarna kekuningan. Damar digunakan sebagai bahan baku vernis dan pelapis kayu karena sifatnya tahan air.
Foto: Pohon Damar. (Dok. Pixabay)Pohon Damar. (Dok. Pixabay) |
Resin damar mengandung senyawa terpenoid yang memberikan sifat perekat alami. Badan Pangan Dunia (FAO) mencatat damar termasuk komoditas hasil hutan bukan kayu yang penting bagi ekonomi daerah tropis.
Industri cat dan pelapis kayu menjadi pengguna utama damar alami. Produksi damar sendiri bergantung pada ketersediaan hutan alam dan teknik penyadapan.
3. Kemenyan
Biasa dikenal dengan hawa mistis dan semerbaknya yang syahdu, getah kemenyan berasal dari pohon Styrax. Resin dikumpulkan melalui penyadapan batang pohon.
Getah yang mengeras menghasilkan bahan aromatik yang dikenal sebagai benzoin.
Jurnal Industrial Crops and Products menjelaskan benzoin digunakan dalam parfum, farmasi dan bahan tambahan makanan. Perdagangan kemenyan tercatat sejak zaman kuno sebagai bahan aromatik bernilai tinggi.
Foto: Kayu Menyan. (Dok. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem)Kayu Menyan. (Dok. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) |
Sebagian produksi berasal dari hutan tropis Sumatera dan kawasan Asia Tenggara. Pendapatan petani kemenyan bergantung pada kualitas resin yang dihasilkan dengan sistem produksi biasanya berlangsung secara tradisional.
4. Pinus
Masih dengan kayu yang erat dengan wewangian, resin pinus menjadi bahan baku penting industri kimia. Getah pinus diolah menjadi terpentin dan rosin yang digunakan dalam berbagai produk industri. Resin pinus menjadi sumber bahan kimia industri yang penting.
Proses produksi dilakukan melalui penyadapan batang pohon. Getah akan mengalir setelah kulit batang dilukai. Produk turunan pinus digunakan dalam perekat industri dan pelapis permukaan. Produksi resin pinus tersebar di berbagai negara termasuk Indonesia. Volume produksi bergantung pada luas hutan tanaman.
5. Karet, Getah Industri Modern
Lateks karet berasal dari pohon Hevea brasiliensis. Cairan putih ini dikumpulkan melalui penyadapan batang pohon. Lateks diolah menjadi karet alam yang digunakan dalam berbagai produk industri. Karet alam sendiri digunakan menjadi bahan utama industri ban kendaraan. Produksi karet dunia terkonsentrasi di wilayah tropis termasuk Indonesia dan negara Asia lainnya.
Foto: Ilustrasi perkebunan karet di Nsuaem, Ghana. REUTERS / Zohra BensemraIlustrasi perkebunan karet di Nsuaem, Ghana. REUTERS / Zohra Bensemra |
Produktivitas tanaman karet dipengaruhi umur tanaman dan kondisi iklim. Permintaan karet sendiri mengikuti perkembangan industri otomotif. Getah pohon tetap menjadi komoditas penting dalam perdagangan bahan baku alami. Industri kimia dan manufaktur masih menggunakan resin dan lateks dalam jumlah besar.
Produk hasil hutan bukan kayu memberikan pendapatan bagi masyarakat di wilayah hutan tropis. Produksi getah diperkirakan tetap berlanjut selama permintaan bahan baku alami masih tinggi.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google
Foto: Aquilaria malaccensis atau disebut dengan pohon gaharu. (Dok. indiabiodiversity)
Foto: Pohon Damar. (Dok. Pixabay)
Foto: Kayu Menyan. (Dok. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem)
Foto: Ilustrasi perkebunan karet di Nsuaem, Ghana. REUTERS / Zohra Bensemra