Tanda Tanya Pasar Modal RI: Belum Ada Satu Pun Saham IPO di 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Tinggal menghitung hari Februari 2026 selesai, tetapi sama sekali belum ada saham baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak awal tahun.
Kami mencatat bahwa pada setiap bulan Januari dan Februari, aktivitas IPO di Bursa memang cenderung ramai. Jika ditotal sejak 2021 hingga 2025, terdapat 79 saham yang melantai di bursa hanya dalam dua bulan pertama setiap tahunnya.
Rinciannya sebagai berikut:
-
2021: Januari 2 saham (FAPA, DGNS) dan Februari 7 saham (BANK, UFOE, WMUU, EDGE, UNIQ, BEBS) → total 9 saham.
-
2022: Januari 4 saham (ADMR, ASLC, NETV, BAUT) dan Februari 3 saham (ENRG, NTBK, IBOS) → total 7 saham.
-
2023: Januari 10 saham (CBRE, SOUL, ELIT, BEER, CBPE, BMBL, SUNI, WINE, PEVE, LAJU) dan Februari 10 saham (FWCT, NAYZ, IRSX, CHIP, PACK, HALO, VAST, KING, PGEO, FUTR) → total 20 saham.
-
2024: Januari 9 saham (ASLI, CGAS, NICE, MSJA, SMLE, ACRO, MANG, GRPH, SMGA) dan Februari 10 saham (UNTD, TOSK, MPIX, ALII, MKAP, MEJA, LIVE, HYGN, BAIK, VISI) → total 19 saham.
-
2025: Januari 8 saham (KSIX, RATU, YOII, HGII, BRRC, DGWG, CBDK, OBAT) dan Februari belum ada IPO (N/A) → total 8 saham.
Terlihat bahwa puncak euforia terjadi pada 2023 dan 2024, di mana masing-masing mencatatkan hampir 20 IPO hanya dalam dua bulan pertama tahun berjalan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa awal tahun kerap menjadi momentum favorit bagi perusahaan untuk melantai di bursa, baik karena faktor optimisme pasar, window dressing, maupun strategi penggalangan dana saat sentimen masih relatif segar.
Namun, tahun ini beda cerita, sejak MSCI Crash langkah perusahaan yang baru mau melantai di Bursa malah meredup.
Sejumlah calon emiten yang sudah masuk pipeline tampaknya memilih untuk berbenah lebih dulu, terutama dalam memastikan struktur free float yang lebih jelas dan proporsi kepemilikan publik yang lebih solid.
Langkah ini penting agar saat resmi melantai nanti, saham yang ditawarkan tidak hanya memenuhi ketentuan indeks, tetapi juga benar-benar mencerminkan likuiditas dan tata kelola yang lebih sehat di mata investor.
Di sisi lain, target BEI masih cukup optimis, jumlah saham IPO tahun ini bisa mencapai 50 emiten. Jumlahnya hampir dua kali lipat dari realisasi tahun lalu yang hanya sebanyak 26 emiten.
Meski demikian, pipeline IPO tetap terisi. Terbaru, kami mencatat terdapat delapan calon emiten yang sedang dalam antrean pencatatan.
Jika dirinci berdasarkan skala aset:
-
Lima perusahaan tergolong beraset besar (di atas Rp 250 miliar).
-
Tiga perusahaan berada pada kategori aset menengah (Rp 50 miliar-Rp 250 miliar)
Sementara dari sisi sektoral, komposisinya cukup beragam:
-
2 perusahaan berasal dari sektor basic materials.
-
2 perusahaan dari sektor financials.
-
Masing-masing 1 perusahaan dari sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, energy, industrials, serta transportation & logistics.
Komposisi ini menunjukkan bahwa meskipun laju IPO di awal tahun lebih selektif, minat lintas sektor masih terjaga dan tidak terkonsentrasi pada satu industri tertentu saja.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw) Addsource on Google