MARKET DATA
NEWSLETTER

Jelang Libur Panjang: Prabowo Buka Suara Soal Moody's, Pasar Siaga?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
13 February 2026 06:24
Presiden Prabowo dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi shio. (Dok. Freepik)
  • Pasar keuangan ditutup beragam IHSG dan rupiah melemah sementara yield SBN melandai.
  • Wall Street lagi-lagi ambruk berjamaah
  • Rilis data inflasi AS dan perubahan rencana produksi batubara menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah, baik rupiah ataupun pasar saham melemah sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) cukup melandai.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa melanjutkan tren penguatan yang sudah terbangun beberapa waktu terakhir. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan kemarin bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan kemarin, Kamis (12/2/2026). IHSG terkoreksi 25,61 poin atau 0,31% ke level 8.265,35.

Sebanyak 294 saham naik, 384 turun, dan 144 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 23,83 triliun, melibatkan 43,26 miliar saham dalam 3,02 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turun menjadi Rp 15.003 triliun.


Berdasarkan data pasar, Bumi Resources (BUMI) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, yakni Rp 4,06 triliun. Saham-saham lain yang juga ramai ditransaksikan kemarin termasuk Petrosea (PTRO), Bank Central Asia (BBCA), Aneka Tambang (ANTM) dan Timah (TINS).

Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona merah. Infrastruktur memimpin dengan pelemahan 1,32%. Lalu diikuti energi 1,10% dan kesehatan 1,02%.

Sementara itu saham konglomerat yang beberapa hari kebelakang menjadi penggerak IHSG, kemarin menjadi beban utama kinerja indeks acuan saham domestik.

Empat emiten pemberat utama kinerja IHSG kemarin masing-masing adalah Bank Central Asia (BBCA), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Barito Pacific (BRPT), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) dan Barito Renewables Energi (BREN).

Lanjut ke nilai tukar rupiah, Rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (12/2/2026), seiring menguatnya dolar di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di zona merah dengan depresiasi 0,21% ke posisi Rp16.810/US$. Pergerakan ini sekaligus mematahkan tren penguatan rupiah yang terjadi dalam tiga hari perdagangan beruntun sebelumnya.

Sejak pembukaan perdagangan, rupiah sudah tertekan. Rupiah dibuka melemah 0,06% di level Rp16.785/US$ dan tekanan berlanjut hingga penutupan. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.785-Rp16.830/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke level 96,876.

Pelemahan rupiah kemarin terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global. Penguatan DXY mengindikasikan meningkatnya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar, yang pada gilirannya menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dolar AS menguat setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam menambah 130.000 pekerjaan baru atau non-farm payrolls (NFP) pada Januari 2026.

Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan 70.000 pekerjaan, sekaligus lebih tinggi dibanding revisi data Desember yang sebesar 48.000 pekerjaan.

Penambahan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor perawatan kesehatan, bantuan sosial, dan konstruksi, sementara sektor keuangan serta pemerintahan justru mencatat pengurangan tenaga kerja.

Sejalan dengan itu, tingkat pengangguran AS juga membaik. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,3% pada Januari 2026, lebih rendah dibandingkan Desember yang sebesar 4,4% serta berada di bawah ekspektasi pasar.

Sementara dari sisi obligasi, imbal hasil SBN 10 tahun Indonesia mengalami penurunan 6,408 melandai 0,43% dari hari sebelumnya di level 6,436%. Pergerakan pada hari Kamis (12/2/2026) berada pada level 6.409 - 6.480. 
Imbal hasil yang melandai menandai harga SBN yang tengah menguat karena diburu investor.

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street lagi-lagi ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Saham-saham turun pada Kamis seiring investor mulai mengkhawatirkan sisi negatif dari pembangunan (buildout) kecerdasan buatan (AI), yang berpotensi mengganggu model bisnis berbagai industri dan meningkatkan pengangguran.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 669,42 poin atau 1,34% dan ditutup di 49.451,98. Penurunan indeks dipimpin oleh Cisco Systems, yang anjlok 12% setelah produsen perangkat jaringan seperti switch dan router itu mengeluarkan panduan (guidance) yang mengecewakan untuk kuartal berjalan.

S&P 500 anjlok 1,57% dan ditutup di 6.832,76, sementara Nasdaq Composite melemah 2,03% ke 22.597,15.

Beberapa sektor pasar saham terpukul tahun ini setelah peluncuran berbagai alat AI yang berpotensi meniru bisnis mereka atau setidaknya menggerus margin keuntungan.

Saham-saham keuangan seperti Morgan Stanley tertekan akibat kekhawatiran AI akan mengganggu bisnis pengelolaan kekayaan (wealth management).

Sementara itu, saham perusahaan truk dan logistik seperti C.H. Robinson merosot 14% karena kekhawatiran AI akan menyederhanakan operasi pengiriman barang, sehingga menekan lini pendapatan tertentu.

Ketakutan terhadap disrupsi AI bahkan menyebar ke sektor properti, menekan saham seperti CBRE dan SL Green Realty, dengan asumsi bahwa kenaikan pengangguran akan mengurangi permintaan ruang kantor.

Saham-saham perangkat lunak memperpanjang penurunan sejak awal tahun selama sesi perdagangan.

Saham Palantir Technologies terkoreksi hampir 5%, sehingga penurunannya tahun ini mencapai lebih dari 27%. Saham Autodesk turun hampir 4%, dan kini telah melemah sekitar 24% sepanjang tahun. ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) turun hampir 3%. Dana tersebut kini berada sekitar 31% di bawah puncak terbarunya setelah bulan lalu pertama kali masuk ke wilayah pasar bearish.

"AI, yang sebelumnya menjadi faktor utama yang mendorong saham-saham ini melonjak secara parabolik dan ke valuasi yang sangat tinggi meski belum terlalu ekstrem kini justru menjadi faktor yang menahan mereka," kata Jay Woods, kepala strategi pasar di Freedom Capital Markets.

Aksi jual di pasar perak, yang tahun ini menjadi instrumen favorit investor ritel, turut memperkuat sentimen risk-off pada Kamis. Kontrak berjangka perak anjlok 10%.

Investor mencari perlindungan di sektor-sektor defensif. Saham Walmart dan Coca-Cola masing-masing naik 3,8% dan 0,5%. Sektor barang konsumsi pokok dan utilitas memimpin penguatan di antara sektor S&P 500, masing-masing naik lebih dari 1%. Kenaikan ini membawa sektor barang konsumsi pokok mencatatkan rekor penutupan baru.

Saham sebelumnya ditutup lebih rendah pada sesi sebelumnya setelah sempat reli berkat laporan ketenagakerjaan yang kuat.

Namun, antusiasme terhadap data tersebut mereda karena para ekonom meragukan apakah itu menandai awal tren kenaikan lapangan kerja, terutama setelah revisi dalam laporan menunjukkan tidak ada pertumbuhan lapangan kerja pada paruh kedua 2025.

Pelaku pasar kini bersiap menghadapi laporan inflasi penting pada Jumat. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan CPI Januari akan menunjukkan kenaikan 0,3% baik untuk inflasi utama (headline) maupun inti (core), yang tidak memasukkan harga makanan dan energi.

"CPI kini sedikit kurang penting setelah kita mendapatkan angka ketenagakerjaan yang bagus, karena itu sudah memberi ruang bagi The Fed untuk menahan suku bunga dalam waktu yang cukup lama," kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird.

"Jika CPI keluar lebih tinggi dari perkiraan, kita masih punya beberapa bulan data untuk melihat trennya sebelum The Fed benar-benar harus mengambil keputusan besar." Imbuhnya.

Sebaliknya, jika data inflasi lebih rendah dari perkiraan, sang ahli strategi memperkirakan Jumat bisa menjadi hari dengan sentimen risk-on.

Namun angka yang benar-benar sangat tinggi barulah yang bisa berdampak signifikan pada pasar saham dan kontrak berjangka fed funds.

Para pelaku pasar patut mencermati dinamika terkini yang mewarnai iklim investasi domestik maupun global hari ini. Mulai dari langkah strategis otoritas bursa dalam meningkatkan transparansi, penegakan hukum di sektor riil dan pasar modal, hingga perkembangan geopolitik serta kebijakan energi yang mempengaruhi komoditas unggulan.

Pemahaman mendalam atas sentimen ini krusial dalam menentukan arah keputusan investasi yang pruden di tengah fluktuasi pasar. Libur panjang Tahun Baru Imlek juga perlu menjadi perhatian mengingat pasar baru akan dibuka kembali pada Rabu pekan depan.

Berikut adalah rangkuman mendalam mengenai peristiwa-peristiwa yang membentuk sentimen pasar hari ini:

Indonesia Economic Outlook

Danantara akan menggelar Indonesia Economic Outlook. Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Doni Oskaria, mengungkapkan, Presiden RI Prabowo Subianto akan hadir dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026.

Menarik ditunggu apa saja yang akan disampaikan presiden mengenai perkembangan terbaru dari ekonomi Indonesia serta downgrade outlook rating Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Presiden Prabowo telah memerintahkan jajarannya untuk menjawab penilaian Moody's itu dengan menggelar acara Indonesia Economic Outlook pada Jumat (13/1/2026).

Hal itu diungkapkan seusai rapat terbatas dengan Kepala Negara di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/2/2026).


"Bapak Presiden tadi meminta agar kita membuat penjelasan yang lebih lengkap dalam bentuk serasehan ekonomi, yaitu 'Indonesia Economic Outlook' yang akan diselenggarakan pada hari Jumat nanti," kata Airlangga.

Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan. Turut hadir Presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, CEO Danantara Indonesia, dan pimpinan K/L terkait.

Pengecualian Kebijakan PKP2B Generasi Pertama dan BUMN

Kementerian ESDM menegaskan bahwa kebijakan pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 tidak akan diberlakukan secara merata kepada seluruh pelaku usaha pertambangan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno, menjelaskan bahwa terdapat pengecualian khusus bagi perusahaan pemegang PKP2B Generasi Pertama serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dengan demikian, emiten besar seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dipastikan tidak terdampak oleh restriksi produksi ini.

Kebijakan afirmatif ini didasari oleh pertimbangan besarnya kontribusi penerimaan negara dari kelompok tersebut, yang meliputi kewajiban royalti sebesar 19% serta setoran bagi hasil keuntungan bersih sebesar 10% kepada pemerintah pusat dan daerah.

Selain pertimbangan fiskal, pengecualian ini juga didorong oleh urgensi ketahanan energi nasional. Pemerintah telah menginstruksikan pemegang PKP2B Generasi Pertama untuk mempercepat pemenuhan kewajiban pasok dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) sebesar 30% guna mengamankan pasokan listrik negara.

Meskipun strategi makro pemerintah saat ini berfokus pada pengendalian suplai untuk meredam oversupply global dan menjaga stabilitas harga, entitas strategis seperti PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Kideco Jaya Agung (Indika Energy), dan PT Berau Coal tetap diberikan fleksibilitas produksi mengingat peran vital mereka dalam struktur penerimaan negara dan energi domestik.

Bea Cukai Terhadap Gerai Tiffany & Co

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kanwil Jakarta telah melakukan langkah tegas dengan menyegel tiga gerai perhiasan mewah Tiffany & Co yang berlokasi di pusat perbelanjaan Plaza Senayan, Plaza Indonesia, dan Pacific Place.

Kepala Seksi Penindakan DJBC Kanwil Jakarta, Siswo Kristyanto, menyatakan bahwa tindakan ini didasarkan pada dugaan pelanggaran administrasi impor. Barang-barang bernilai tinggi (high value goods) yang diperdagangkan di gerai tersebut diduga tidak tercantum dalam dokumen pemberitahuan impor barang yang resmi.

Saat ini, pihak Bea Cukai tengah melakukan kompilasi dan pencocokan data antara dokumen deklarasi perusahaan dengan data internal kepabeanan untuk memverifikasi status legalitas barang-barang tersebut.

Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa penyegelan tersebut merupakan prosedur standar dalam pengawasan kepabeanan untuk mengamankan penerimaan negara dan menciptakan iklim usaha yang adil (fair) di dalam negeri.

Pemerintah memprioritaskan penyelesaian kasus melalui mekanisme sanksi administrasi berupa denda hingga 1.000 persen dari nilai bea masuk, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan.

Pendekatan ini dipilih untuk mengoptimalkan pemasukan negara dibandingkan menempuh jalur pidana kurungan, sekaligus memberikan efek jera agar pelaku usaha mematuhi ketentuan impor yang berlaku.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah (Kanwil) Jakarta menyegel tiga toko toko perhiasan mewah Tiffany & Co di tiga pusat perbelanjaan  ibu kota, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, dan Pacific Place. (CNBC Indonesia/Halimatus Sa’diyah)Foto: Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah (Kanwil) Jakarta menyegel tiga toko toko perhiasan mewah Tiffany & Co di tiga pusat perbelanjaan ibu kota, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, dan Pacific Place. (CNBC Indonesia/Halimatus Sa’diyah)

Kesiapan Militer AS di Kawasan Timur Tengah

Eskalasi ketegangan di Timur Tengah terus meningkat seiring dengan langkah Amerika Serikat memperkuat posisi militernya di kawasan tersebut. Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, militer AS telah menempatkan sistem pertahanan rudal Patriot pada peluncur bergerak di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar.

Penggunaan Truk Taktis Mobilitas Berat (HEMTT) untuk sistem Patriot ini memberikan keunggulan mobilitas yang signifikan dibandingkan peluncur statis, memungkinkan relokasi aset pertahanan secara cepat dalam situasi darurat.

Selain itu, peningkatan jumlah pesawat tempur dan peralatan militer juga terpantau di pangkalan udara Muwaffaq di Yordania dan Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi.

Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap ancaman yang muncul dari Iran terkait program nuklir dan rudal balistiknya, serta dukungan Teheran terhadap kelompok sekutu di kawasan.

Presiden AS Donald Trump, meskipun tetap membuka opsi diplomasi, telah menegaskan kesiapan militernya jika negosiasi menemui jalan buntu. Di sisi lain, Iran telah memperingatkan akan membalas setiap serangan ke wilayahnya dengan menargetkan pangkalan AS.

Teheran dikabarkan memiliki kompleks rudal bawah tanah dan telah menyiagakan kapal induk drone di sekitar Bandar Abbas, menambah kompleksitas situasi keamanan di Teluk Persia.

Evaluasi Pemerintah Terhadap Pencabutan Izin Tambang Emas Martabe

Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan khusus terkait polemik pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP) emas Martabe yang dikelola oleh PT Agincourt Resource di Sumatra Utara milik United Tractors (UNTR).

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup mencabut izin tersebut bersama puluhan izin usaha lainnya karena indikasi pelanggaran pemanfaatan kawasan hutan. Namun, dalam rapat terbatas terbaru, Presiden menginstruksikan agar dilakukan pengecekan ulang secara menyeluruh.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen untuk bersikap adil dan memulihkan hak-hak investor apabila tidak ditemukan bukti pelanggaran yang substansial.

Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan menjaga iklim investasi di sektor pertambangan nasional. Bahlil menegaskan bahwa jika perusahaan terbukti mematuhi aturan, maka izin usahanya akan dikembalikan sepenuhnya.

Sebaliknya, sanksi akan tetap diberikan secara proporsional jika pelanggaran terbukti ada, namun pemerintah berupaya menghindari keputusan yang sewenang-wenang. Pendekatan ini mencerminkan upaya pemerintah dalam menyeimbangkan penegakan regulasi lingkungan dengan kepentingan stabilitas investasi jangka panjang.

Kesepakatan Perdagangan Energi Indonesia-Amerika Serikat Senilai Rp250 Triliun

Pemerintah Indonesia tengah memfinalisasi rencana penandatanganan perjanjian perdagangan timbal balik (Agreement on Reciprocal Trade atau ART) dengan Amerika Serikat, yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Februari 2026.

Dalam kerangka kerja sama ini, Indonesia berkomitmen untuk mengimpor produk energi dari AS dengan nilai mencapai US$ 15 miliar atau setara Rp250 triliun. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia merinci bahwa komoditas yang akan diimpor mencakup Liquefied Petroleum Gas (LPG), minyak mentah (crude oil), dan bahan bakar minyak (BBM). Kesepakatan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempererat hubungan bilateral kedua negara.

Selain aspek perdagangan energi, perjanjian ini juga membawa semangat perlakuan setara (equal treatment) dalam diplomasi ekonomi. Indonesia membuka peluang bagi investor Amerika Serikat untuk menanamkan modal di sektor hilirisasi mineral kritis, termasuk nikel, dengan syarat yang sama seperti mitra dagang lainnya.

Langkah ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, di mana Indonesia berupaya mendiversifikasi mitra strategis ekonominya tanpa memihak blok tertentu. Presiden Prabowo juga dijadwalkan menghadiri pertemuan Board of Peace di sela-sela kunjungan kerjanya ke AS.

Data Inflasi AS Januari 2025

Hari ini akan dilaporkan terkait data inflasi AS untuk bulan Januari 2026. Laporan terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa tingkat inflasi tahunan Amerika Serikat pada Desember 2025 bertahan stabil di angka 2,7%, sejalan dengan konsensus pasar.

Stabilitas ini didorong oleh penurunan signifikan pada harga energi, khususnya bensin, yang mampu mengimbangi kenaikan harga di sektor lain. Namun, tekanan inflasi masih terasa pada komponen biaya tempat tinggal yang naik 3,2% secara YoY, serta harga pangan yang juga mencatat peningkatan.

Sementara itu, inflasi inti (core inflation) yang mengecualikan komponen harga pangan dan energi yang fluktuatif-tercatat sebesar 2,6%. Angka ini merupakan level terendah sejak Maret 2021 dan sedikit di bawah ekspektasi analis.

Secara bulanan, indeks harga konsumen mengalami kenaikan tipis sebesar 0,3%. Data ini memberikan sinyal bahwa meskipun tekanan harga belum sepenuhnya hilang, tren inflasi di ekonomi terbesar dunia tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi yang lebih persisten, yang tentunya akan menjadi pertimbangan utama bagi kebijakan moneter global ke depan.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Pertumbuhan PDB Eropa - Q4 2025
  • Data Tenaga Kerja Eropa - Q4 2025
  • Inflasi Amerika Serikat - Januari 2026
  • Presiden menghadiri peresmian dan groundbreaking SPPG Polri serta peresmian Gudang Ketahanan Polri di Polres Metro Jakarta Barat.
  • Peluncuran Website Dewan Ekonomi Nasional dan Diskusi Publik "Dinamika Ekonomi Global dan Nasional" di kantor Dewan Ekonomi Nasional, Jakarta Pusat. Turut hadir Ketua DEN.
  • Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta Selatan. Turut hadir Presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, CEO Danantara Indonesia, dan pimpinan K/L terkait.
  • Menteri Perdagangan bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi akan melakukan peninjauan produk UMKM pangan lokal yang dijual di jaringan bisnis KAI Services di Pintu Timur VIP Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.
  • Kick-off Ceremony Friday Mubarak 2026 yang akan dilaksanakan di Lotte Mart Kuningan City Mall, Jakarta.
  • Sidang tuntutan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina (Persero) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Batulicin Nusantara Maritim Tbk.
  • Pemberitahuan RUPS Rencana Unilever Indonesia Tbk

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features