Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Mayoritas sektor perdagangan berada di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh sektor energi dan barang baku. Sedangkan koreksi paling dalam kemarinkemarin dicatatkan oleh sektor properti.
Saham-saham yang menjadi penggerak utama IHSG termasuk BYAN (PT Bayan Resources Tbk), BRMS (PT Bumi Resources Minerals Tbk), BUMI (PT Bumi Resources Tbk),  TLKM (PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk), dan AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk).  Sedangkan pemberat utama kinerja indeks hari ini termasuk DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk), CUAN (PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk), BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk), GOTO (PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk), dan BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk).
Beralih ke pasar valas, mata uang garuda berbalik melemah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan pertama pekan ini, Senin (5/1/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat serangan militer AS ke Venezuela pada akhir pekan lalu.
Penguatan dolar AS di pasar global terjadi seiring meningkatnya selera investor terhadap aset safe haven, setelah eskalasi geopolitik memanas akibat serangan militer AS ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2025) yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Ketidakpastian geopolitik ini mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah. Namun di saat yang sama, pelaku pasar global juga mulai mengalihkan fokus ke rangkaian data ekonomi penting AS yang akan dirilis sepanjang pekan ini.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor stagnan di 6,12%.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street berakhir d zona hijau pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Saham-saham menguat pada Senin meskipun terjadi serangan AS ke Venezuela dan penangkapan pemimpinnya, Nicolas Maduro. Kenaikan harga minyak mentah serta keyakinan investor bahwa aksi tersebut tidak akan memicu konflik geopolitik yang lebih besar dan mengguncang pasar menjadi pendorong utama.
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 594,79 poin atau 1,23% dan ditutup di 48.977,18. Indeks berisi 30 saham ini juga sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa dalam sesi perdagangan. S&P 500 naik 0,64% dan berakhir di 6.902,05. Nasdaq Composite menanjak 0,69% dan ditutup di 23.395,82.
Saham sektor energi memimpin penguatan dengan asumsi bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan diuntungkan dari pembangunan kembali infrastruktur minyak Venezuela.
Chevron melesat 5,1% dan dipandang sebagai penerima manfaat terbesar karena kehadirannya saat ini di Venezuela, yang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Exxon Mobil naik 2,2%. Saham perusahaan jasa ladang minyak yang berpotensi membantu pemulihan energi Venezuela seperti Halliburton dan SLB masing-masing naik 7,8% dan hampir 9%. State Street Energy Select Sector ETF (XLE) menguat hampir 3%.
"Mungkin dalam jangka pendek, ini akan mendorong harga minyak karena muncul pertanyaan seputar pasokan dan pengiriman minyak," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research, kepada CNBC.
Dia menambahkan dalam jangka lebih panjang, hal ini justru bisa menjadi perbaikan karena Venezuela hanya menyumbang sekitar 1% dari pasokan minyak dunia.
Kondisinya terus memburuk selama bertahun-tahun. Infrastruktur mereka perlu ditingkatkan, dan mungkin itulah sesuatu yang bisa dibantu oleh AS.
Meski reaksi pasar saham cenderung bullish, para trader juga menambah eksposur ke emas. Kontrak berjangka yang terkait dengan logam mulia tersebut naik 2,8%, menjadi kenaikan harian terbaik sejak 20 Oktober. Bitcoin diperdagangkan di atas US$94.000. Saham sektor keuangan juga menguat, seiring pelaku Wall Street bertaruh pada ekonomi AS yang kuat tahun ini. Saham bank besar Goldman Sachs dan bank regional U.S. Bancorp masing-masing melonjak 3,7% dan 2,9%.
"Pasar pada dasarnya mengatakan kami akan kembali mengalokasikan dana setelah melakukan tax-loss harvesting, penyesuaian portofolio di akhir 2025, lalu membeli kembali saham pada awal 2026,'" lanjut Stovall.
Dia menjelaskan investor masih berfokus pada apa yang kemungkinan akan dilakukan The Fed dan bagaimana kinerja laba perusahaan. Sejauh ini, lingkungan pasar tetap risk-on.
Menyusul serangan dan penangkapan oleh militer AS, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diterbangkan ke New York dan didakwa atas konspirasi narkoterorisme serta kejahatan lainnya.
Menurut dakwaan, perdagangan narkoba telah memperkaya dan mengokohkan elite politik dan militer Venezuela.
Presiden Donald Trump mengatakan pada Sabtu dalam konferensi pers bahwa AS akan "mengelola" Venezuela hingga tiba saatnya kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana.
"Ini merupakan peristiwa geopolitik yang signifikan, meski kecil kemungkinan menjadi penggerak pasar utama dalam jangka pendek," tulis Matthew Aks, analis kebijakan di Evercore ISI, dalam sebuah catatan kepada CNBC.
Dia menambahkan untuk saat ini, investor harus menavigasi lanskap yang kini sudah familier berupa ambiguitas terarah dari Trump terkait langkah selanjutnya.
"Insting kami menyebut Trump umumnya tidak tertarik pada perubahan rezim skala penuh dengan pengerahan pasukan darat seperti perang Irak dan Afghanistan yang sejak lama ia kritik. Namun, pernyataan Trump hari ini membuka kemungkinan bahwa ini tidak akan sekadar 'sekali dan selesai' seperti serangan nuklir Iran tahun lalu," tambah Aks.
Saham raksasa pertahanan General Dynamics dan Lockheed Martin turut mendapat dorongan, masing-masing naik 3,5% dan 2,9%, seiring aksi terbaru Trump menunjukkan bahwa serangan militer cepat akan menjadi bagian kunci kebijakannya dalam menghadapi isu geopolitik yang muncul.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile di tengah kisruh di Venezuela. Investor juga masih mencerna data ekonomi terbaru serta arah ekonomi ke depan.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
Gebrakan Trump di Awal Tahun
Pekan pertama 2026 dibuka dengan guncangan geopolitik dari Amerika Latin. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer besar-besaran yang langsung menyasar jantung kekuasaan di Caracas. Peristiwa ini berpotensi memicu turbulensi di pasar global, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik sejak awal tahun.
Trump menyatakan bahwa Maduro dan istrinya ditangkap dalam sebuah operasi gabungan yang melibatkan militer dan penegak hukum Amerika Serikat. Keduanya disebut telah diterbangkan keluar dari Venezuela setelah serangan udara dilancarkan. "Dia, bersama istrinya, telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS," ujar Trump, dikutip dari AP News, Minggu (4/1/2026).
Serangan tersebut menghantam sejumlah titik di Caracas dan wilayah sekitarnya. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan ledakan beruntun, langit malam yang menyala oranye, serta asap hitam yang membubung tinggi di atas kota. Suasana panik melanda warga ketika dentuman terdengar berulang kali dalam waktu yang relatif singkat.
 Foto: CNBC Indonesia TV Maduro Ditahan, Trump Klaim AS Akan Ambil Alih Venezuela |
Sejumlah saksi mata melaporkan ledakan, lalu lintas pesawat tempur, dan asap tebal mulai terlihat sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat dan berlangsung hingga lebih dari satu jam. Beberapa kawasan di bagian selatan kota, yang berdekatan dengan instalasi militer, dilaporkan mengalami pemadaman listrik setelah serangan terjadi.
Meski operasi itu berlangsung singkat, kurang dari 30 menit dengan sedikitnya tujuh ledakan, skala dan lokasinya menunjukkan target yang sangat spesifik. Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai korban jiwa atau luka-luka. Namun Trump menegaskan bahwa operasi tersebut berjalan sesuai rencana dan dinyatakan "sukses."
Cabai dan Beras Biang Kerok Inflasi 2,92% Sepanjang 2025
Beralih ke dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Desember 2025 mencapai 0,64% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,92% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dengan posisi tersebut, laju inflasi yoy sekaligus menjadi inflasi sepanjang tahun (year-to-date/ytd), karena perbandingan dilakukan antara Indeks Harga Konsumen (IHK) Desember 2025 dan IHK Desember 2024.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kesamaan angka yoy dan ytd di akhir tahun bersifat teknis. "Inflasi ytd 2,92% pada akhir tahun, inflasi yoy dan ytd akan sama karena membandingkan dua titik yang sama, yakni IHK Desember 2025 dan IHK Desember 2024," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026).
Kelompok makanan menjadi pendorong utama tekanan harga sepanjang 2025, dengan inflasi 1,66% dan memberikan andil 0,48% terhadap inflasi nasional.
Secara historis, tingkat inflasi 2,92% ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 yang hanya 1,57%, yang juga tercatat sebagai inflasi tahunan terendah dalam sejarah Indonesia. Inlasli 2025 adalah yang tertinggi sejak 2023.
Dari sisi ekspektasi pasar, hasil konsensus CNBC Indonesia terhadap 12 institusi menunjukkan inflasi Desember 2025 diperkirakan berada di 0,62% secara bulanan dan 2,94% secara tahunan. Inflasi inti juga diproyeksikan di level 2,44% (yoy).
Sebagai perbandingan, pada November 2025 inflasi tercatat 0,17% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,72% (yoy), sementara inflasi inti berada di 2,36% (yoy). Dengan demikian, data Desember menjadi penentu akhir laju inflasi Indonesia sepanjang 2025.
Berdasarkan komponennya, Pudji mengatakan, seluruhnya mengalai inflasi pada Desember 2025. Tertinggi ialah untuk inflasi bahan pangan bergejolak sebesar 6,21%, inflasi inti 2,38%, dan untuk barang yang harganya diatur pemerintah mengalami inflasi 1,93% pada Desember 2025 secara tahunan.
Â
Indeks Layanan Jasa AS Melandai
 Indeks ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat turun untuk bulan ketiga berturut-turut menjadi 47,9 pada Desember 2025, level terendah sejak Oktober 2024. Angka ini lebih rendah dibandingkan 48,2 pada November dan juga di bawah perkiraan 48,3.
Capaian tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur AS mengalami kontraksi dengan laju yang lebih cepat. Pelemahan terutama dipicu oleh penurunan produksi (51 dari 51,4) dan persediaan (45,2 dari 48,9), setelah keduanya sempat meningkat pada November. Hal ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dalam sektor manufaktur. Sementara itu, tekanan harga tetap tinggi (58,5, tidak berubah dari bulan sebelumnya).
Di sisi lain, terdapat sejumlah sinyal positif pada Desember, seperti perbaikan pada pesanan baru (47,7 dari 47,4), tunggakan pesanan (45,8 dari 44), serta pesanan ekspor baru (46,8 dari 46,2). Selain itu, indeks persediaan pelanggan tetap berada di wilayah "terlalu rendah" (43,3 dari 44,7). Namun demikian, dibutuhkan beberapa bulan berturut-turut dengan peningkatan pada indikator-indikator ini untuk menopang pemulihan jangka menengah hingga panjang.
Retreat Kabinet
Kabinet Merah Putih dijadwalkan menggelar retreat di Padepokan Garuda Yaksa, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. retreat diharapkan bisa menghasilkan kebijakan yang mendorong ekonomi tahun ini serta mampu mengevaluasi program 2025 yang kuran g efektif.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Penjelasan pemerintah terkait keberlakuan KUHP, KUHAP, UU Penyesuaian Pidana di kantor Kementerian Hukum, Kota Jakarta Selatan.
- Retreat Kabinet Merah Putih di Padepokan Garuda Yaksa, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- RUPS PT Lion Metal Works Tbk (LION)
RUPS PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART)
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Jasa Armada Indonesia Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Baramulti Suksessarana Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Eastparc Hotel Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Soho Global Health Tbk
Tanggal DPS HMETD PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk.
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBCINDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandanganCNBCIndonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.