MARKET DATA
NEWSLETTER

Drama AS vs Venezuela di Awal Tahun: Investor Perlu Panik atau Santai?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
06 January 2026 06:22
Aksi rdemonstrasi menentang tindakan AS di Venezuela, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan AS telah menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, di Paris, Prancis, Minggu (4/1/2026).
Foto: Aksi rdemonstrasi menentang tindakan AS di Venezuela, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan AS telah menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, di Paris, Prancis, Minggu (4/1/2026). (REUTERS/Abdul Saboor)

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile di tengah kisruh di Venezuela. Investor juga masih mencerna data ekonomi terbaru serta arah ekonomi ke depan.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

Gebrakan Trump di Awal Tahun

Pekan pertama 2026 dibuka dengan guncangan geopolitik dari Amerika Latin. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer besar-besaran yang langsung menyasar jantung kekuasaan di Caracas. Peristiwa ini berpotensi memicu turbulensi di pasar global, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik sejak awal tahun.

Trump menyatakan bahwa Maduro dan istrinya ditangkap dalam sebuah operasi gabungan yang melibatkan militer dan penegak hukum Amerika Serikat. Keduanya disebut telah diterbangkan keluar dari Venezuela setelah serangan udara dilancarkan. "Dia, bersama istrinya, telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS," ujar Trump, dikutip dari AP News, Minggu (4/1/2026).

Serangan tersebut menghantam sejumlah titik di Caracas dan wilayah sekitarnya. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan ledakan beruntun, langit malam yang menyala oranye, serta asap hitam yang membubung tinggi di atas kota. Suasana panik melanda warga ketika dentuman terdengar berulang kali dalam waktu yang relatif singkat.

Maduro Ditahan, Trump Klaim AS Akan Ambil Alih VenezuelaFoto: CNBC Indonesia TV
Maduro Ditahan, Trump Klaim AS Akan Ambil Alih Venezuela

Sejumlah saksi mata melaporkan ledakan, lalu lintas pesawat tempur, dan asap tebal mulai terlihat sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat dan berlangsung hingga lebih dari satu jam. Beberapa kawasan di bagian selatan kota, yang berdekatan dengan instalasi militer, dilaporkan mengalami pemadaman listrik setelah serangan terjadi.

Meski operasi itu berlangsung singkat, kurang dari 30 menit dengan sedikitnya tujuh ledakan, skala dan lokasinya menunjukkan target yang sangat spesifik. Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai korban jiwa atau luka-luka. Namun Trump menegaskan bahwa operasi tersebut berjalan sesuai rencana dan dinyatakan "sukses."

Cabai dan Beras Biang Kerok Inflasi 2,92% Sepanjang 2025

Beralih ke dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Desember 2025 mencapai 0,64% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,92% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dengan posisi tersebut, laju inflasi yoy sekaligus menjadi inflasi sepanjang tahun (year-to-date/ytd), karena perbandingan dilakukan antara Indeks Harga Konsumen (IHK) Desember 2025 dan IHK Desember 2024.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kesamaan angka yoy dan ytd di akhir tahun bersifat teknis. "Inflasi ytd 2,92% pada akhir tahun, inflasi yoy dan ytd akan sama karena membandingkan dua titik yang sama, yakni IHK Desember 2025 dan IHK Desember 2024," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026).

Kelompok makanan menjadi pendorong utama tekanan harga sepanjang 2025, dengan inflasi 1,66% dan memberikan andil 0,48% terhadap inflasi nasional.

Secara historis, tingkat inflasi 2,92% ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 yang hanya 1,57%, yang juga tercatat sebagai inflasi tahunan terendah dalam sejarah Indonesia. Inlasli 2025 adalah yang tertinggi sejak 2023.

Dari sisi ekspektasi pasar, hasil konsensus CNBC Indonesia terhadap 12 institusi menunjukkan inflasi Desember 2025 diperkirakan berada di 0,62% secara bulanan dan 2,94% secara tahunan. Inflasi inti juga diproyeksikan di level 2,44% (yoy).

Sebagai perbandingan, pada November 2025 inflasi tercatat 0,17% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,72% (yoy), sementara inflasi inti berada di 2,36% (yoy). Dengan demikian, data Desember menjadi penentu akhir laju inflasi Indonesia sepanjang 2025.

Berdasarkan komponennya, Pudji mengatakan, seluruhnya mengalai inflasi pada Desember 2025. Tertinggi ialah untuk inflasi bahan pangan bergejolak sebesar 6,21%, inflasi inti 2,38%, dan untuk barang yang harganya diatur pemerintah mengalami inflasi 1,93% pada Desember 2025 secara tahunan.

 

Indeks Layanan Jasa AS Melandai

 Indeks ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat turun untuk bulan ketiga berturut-turut menjadi 47,9 pada Desember 2025, level terendah sejak Oktober 2024. Angka ini lebih rendah dibandingkan 48,2 pada November dan juga di bawah perkiraan 48,3.

Capaian tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur AS mengalami kontraksi dengan laju yang lebih cepat. Pelemahan terutama dipicu oleh penurunan produksi (51 dari 51,4) dan persediaan (45,2 dari 48,9), setelah keduanya sempat meningkat pada November. Hal ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dalam sektor manufaktur. Sementara itu, tekanan harga tetap tinggi (58,5, tidak berubah dari bulan sebelumnya).

Di sisi lain, terdapat sejumlah sinyal positif pada Desember, seperti perbaikan pada pesanan baru (47,7 dari 47,4), tunggakan pesanan (45,8 dari 44), serta pesanan ekspor baru (46,8 dari 46,2). Selain itu, indeks persediaan pelanggan tetap berada di wilayah "terlalu rendah" (43,3 dari 44,7). Namun demikian, dibutuhkan beberapa bulan berturut-turut dengan peningkatan pada indikator-indikator ini untuk menopang pemulihan jangka menengah hingga panjang.

Retreat Kabinet
Kabinet Merah Putih dijadwalkan menggelar retreat di Padepokan Garuda Yaksa, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. retreat diharapkan bisa menghasilkan kebijakan yang mendorong ekonomi tahun ini serta mampu mengevaluasi program 2025 yang kuran g efektif.

(emb/emb)


Most Popular
Features