MARKET DATA
Newsletter

Hari Ini Arah Ekonomi Dibedah, Kebijakan IHSG-Rupiah Dibuka Terang

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 February 2026 06:23
Bendera Amerika Serikat
Foto: Bendera Amerika Serikat (Photo by Win McNamee/Getty Images)

Pelaku pasar hari ini akan mencermati sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Mulai dari penjualan ritel Indonesia, penjualan ritel AS, dan kelanjutan perkembangan MSCI terhadap pasar saham dalam negeri.

Simak pembahasan serta pemaparan arah kebijakan pasar keuangan Indonesia bersama dengan pemangku kebijakan tertinggi regulasi keuangan Indonesia pada acara hari ini.

Berikut adalah acara yang akan menentukan arah pasar keuangan hari ini dan juga masa yang akan datang:

CNBC Indonesia menggelar Economic Outlook 2026

CNBC Indonesia menggelar Economic Outlook 2026 bertajuk "Consolidating Growth, Accelerating the Transformation", yang akan berlangsung hari ini, Selasa (10/2/2026) di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Acara ini menghadirkan para pemangku kepentingan utama, mulai dari menteri, regulator industri keuangan, pemimpin usaha, hingga pakar ekonomi ternama tanah air.

Sebagai pembicara terdapat  Juda Agung (Wakil Menteri Keuangan),  DestryDamayanti (Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia),  DianEdiana Rae (Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan), dan  AnggitoAbimanyu - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan/LPS, hingga Dony Oskaria (Chief Operating Officer Danantara).

Panel diskusi sektor riil akan menghadirkan Setyono Djuandi Darmono (Direktur Utama PT Jababeka Tbk), Shinta Widjaja Kamdani (Ketua Umum APINDO), Jongkie Soegiarto - (Ketua GAIKINDO), Henry Najoan ( Ketua Umum GAPPRI), dan Adhi S. Lukman (Ketua Umum GAPMMI)

Menarik ditunggu kebijakan atau pernyataan dari masing-masing narasumber mengingat narasumber berikut memiliki peran besar dalam pemerintahan Prabowo Subianto untuk bisa mencanangkan pertumbuhan ekonomi 8% serta kelanjutan pembuatan regulasi terkait.

Untuk gambaran besar kondisi ekonomi Indonesia, berikut adalah indikator-indikator penting kondisi makroekonomi domestik yang perlu disimak.

Indeks Keyakinan Konsumen

Bank Indonesia mengumumkan data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Senin kemarin.

Sejalan dengan kinerja pertumbuhan ekonomi makro yang solid, sentimen positif juga terpancar dari sisi konsumen. Survei Konsumen Bank Indonesia pada periode Januari 2026 mengindikasikan bahwa optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi terus menunjukkan tren penguatan.

Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 127,0, meningkat cukup tajam dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 123,5 berdasarkan rilis data kemarin Senin (9/2/2026).

Posisi indeks yang konsisten berada jauh di atas ambang batas 100 ini menegaskan bahwa konsumen masih berada di zona optimis.

Kenaikan IKK ini didorong oleh dua faktor utama, yakni membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta ekspektasi positif terhadap ketersediaan lapangan kerja dan peningkatan penghasilan di masa mendatang.

Tingginya keyakinan konsumen ini menjadi indikator awal yang baik bagi sektor ritel dan manufaktur, karena diharapkan dapat menjaga roda konsumsi tetap berputar kencang.

Stabilitas konsumsi swasta ini akan menjadi bantalan utama dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global yang dinamis.

Era Pemangkasan Suku Bunga dan Stabilitas Rupiah

Beralih ke sektor moneter, arah kebijakan bank sentral global maupun domestik mulai memasuki fase pelonggaran. Setelah mempertahankan tren suku bunga tinggi sepanjang tahun 2024 untuk memerangi inflasi di AS, Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) kini kompak memangkas suku bunga acuan mereka di tahun 2026 mendatang.

Data pasar per Januari 2026 mencatat Fed Funds Rate telah turun ke level 3,75%, sementara BI Rate menyesuaikan diri untuk tetap di level 4,75% akibat pelemahan Rupiah yang terjadi di pasar valas.

Selisih suku bunga yang terjaga sebesar 1,00% atau 100 basis poin ini dinilai masih cukup menarik dan kompetitif untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing, sekaligus memelihara stabilitas nilai tukar Rupiah.

Lebih dari itu, penurunan suku bunga acuan ini diharapkan dapat segera tertransmisikan ke perbankan, sehingga menurunkan biaya dana (cost of fund) bagi dunia usaha.

Biaya pinjaman yang lebih murah diharapkan dapat mengakselerasi ekspansi bisnis dan penyaluran kredit, yang pada akhirnya akan memacu pertumbuhan sektor riil secara lebih cepat pada tahun ini guna percepatan mesin ekonomi ke pertumbuhan PDB 8%.

Ancaman Turun Kasta & Reformasi Besar-Besaran Bursa

Isu yang paling menyita perhatian pelaku pasar modal saat ini adalah peringatan keras dari MSCI terkait posisi Indonesia. Indonesia terancam turun kelas dari kategori Emerging Markets dan turun kasta ke Frontier Markets jika standar pasar dinilai tidak lagi memenuhi kriteria global.

Risiko downgrade ini menjadi alarm bahaya, mengingat status Emerging Market adalah kunci masuknya foreign flow dalam jumlah triliunan Rupiah ke pasar saham tanah air, terutama kebutuhan Indonesia yang masih sangat bergantung terhadap aliran dana pasif dari index global seperti MSCI.

Merespons ancaman tersebut, pemerintah mengambil langkah tegas dengan melakukan perombakan besar-besaran pada jajaran regulator. Perubahan struktur terjadi mulai dari Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga jajaran direksi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Langkah ini diambil untuk memastikan adanya penyegaran visi dan eksekusi kebijakan yang lebih agresif dan dinamis demi mempertahankan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.

Sebagai tindak lanjut, regulator langsung melakukan eksekusi secara signifikan dengan menerbitkan aturan baru yang lebih ketat.

Salah satu kebijakan strategis yang diberlakukan adalah kenaikan free float menjadi 15%, naik dua kali lipat dari aturan sebelumnya yang hanya 7,5%. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan likuiditas pasar secara riil agar sesuai dengan standar tinggi yang ditetapkan MSCI.

Tak hanya soal likuiditas, transparansi pasar juga dibuka lebar-lebar. Regulator kini mewajibkan pembukaan data kepemilikan saham hingga porsi 1%, jauh lebih transparan dibandingkan aturan lama yang hanya mewajibkan pelaporan untuk kepemilikan 5% ke atas.

Tindakan ini membawa misi ganda yaitu memenuhi standar transparansi global sekaligus melindungi investor ritel dari praktik manipulasi pasar atau "saham gorengan" yang kerap bersembunyi di balik kepemilikan semu.

Kinerja Penjualan Ritel Indonesia

Hari ini, Selasa (10/2/2026), Bank Indonesia dijadwalkan akan merilis data Penjualan Ritel Indonesia untuk bulan Desember 2025 yang dijadwalkan pada hari ini Selasa (10/2/2026) menjadi salah satu barometer penting untuk mengukur kekuatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama ProdukDomestik Bruto (PDB) nasional.

Berdasarkan data Bank Indonesia sebelumnya, kinerja penjualan eceran pada November 2025 mencatatkan pertumbuhan yang solid sebesar 6,3% secara YoY.

Angka tersebut menunjukkan akselerasi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,3%, sekaligus menandai tren pertumbuhan positif selama tujuh bulan berturut-turut.

Secara rinci, peningkatan penjualan ritel pada periode tersebut didorong oleh permintaan yang kuat pada beberapa kelompok komoditas utama. Kelompok suku cadang dan aksesoris otomotif mencatatkan kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 17,7%, meningkat signifikan dari 12,0% pada bulan sebelumnya.

Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga tumbuh 8,5%, sementara barang budaya dan rekreasi naik 8,1%. Di sisi lain, penjualan bahan bakar yang sebelumnya terkontraksi kini kembali mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,8%.

Momentum kenaikan ini juga terlihat secara bulanan, di mana aktivitas ritel meningkat 1,5% pada November, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,6% pada Oktober. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan permintaan menjelang akhir tahun.

Untuk data Desember yang akan dirilis, konsensus pasar memperkirakan penjualan ritel akan tetap tumbuh di kisaran 5,5% hingga 6,3%, seiring dengan pola musiman belanja akhir tahun dan dukungan kebijakan pemerintah yang menjaga daya beli.

Stabilitas data ini diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi pasar domestik di tengah ketidakpastian global.

Penjualan Ritel AS Lampaui Ekspektasi

Sentimen positif datang dari Amerika Serikat, di mana penjualan ritel November 2025 tumbuh impresif 0,6% secara bulanan. Angka ini melampaui konsensus pasar (0,4%) dan membalikkan kontraksi 0,1% pada Oktober, mencatatkan kenaikan terbesar sejak Juli.

Pemulihan ini didorong oleh rebound penjualan kendaraan bermotor (1%) pasca berakhirnya insentif pajak EV, serta lonjakan belanja liburan pada sektor barang olahraga dan hobi (1,9%).

Penjualan inti yang menjadi komponen perhitungan PDB juga tumbuh solid 0,4%, menegaskan daya beli konsumen Paman Sam masih sangat bertenaga.

Kini, fokus global tertuju pada rilis data Desember 2025 yang dijadwalkan keluar hari ini (10/2). Konsensus memproyeksikan pertumbuhan ritel akan sedikit moderat namun tetap ekspansif di level 0,4%.

Jika realisasi sesuai ekspektasi, hal ini akan mengonfirmasi stabilitas konsumsi AS di tengah tren penurunan inflasi, sekaligus memperkuat narasi soft landing yang menjadi landasan optimisme ekonomi global tahun 2026.

Data ini krusial sebagai petunjuk efektivitas kebijakan moneter The Fed dalam menjaga pertumbuhan tanpa memicu resesi.

Ekspektasi Inflasi AS Jatuh

Ekspektasi inflasi median di Amerika Serikat untuk satu tahun ke depan turun menjadi 3,1% pada Januari 2026, terendah dalam enam bulan, dibandingkan 3,4% pada Desember.

Konsumen memperkirakan perlambatan kenaikan harga untuk bensin (turun 1,2 poin persentase menjadi 2,8%), biaya perawatan medis (turun 0,1 poin persentase menjadi 9,8%), sewa (turun 0,9 poin persentase menjadi 6,8%), serta harga rumah (turun 0,1 poin persentase menjadi 2,9%, level terendah sejak Juli 2023).

Sementara itu, ekspektasi median perubahan harga dalam satu tahun ke depan tidak berubah untuk makanan di 5,7%, dan meningkat 0,7 poin persentase untuk biaya pendidikan perguruan tinggi menjadi 9%. Selain itu, ekspektasi inflasi tetap stabil di 3% untuk horizon tiga tahun maupun lima tahun ke depan.

Di sisi lain, ekspektasi pertumbuhan pendapatan meningkat 0,2 poin persentase menjadi 2,7%, sedangkan ekspektasi pengangguran naik tipis 0,1 poin persentase menjadi 41,9%.

(gls/gls)


Most Popular
Features