MARKET DATA

Ini 3 Saham Pilihan: Free Float Masih Rendah, Bisnis Menjanjikan

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
02 February 2026 09:45
Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Batas minimum free float saham Indonesia akan diwajibkan naik dari 7,5% menjadi 15%. Hal ini akan memicu aksi korporasi oleh sejumlah perusahaan yang belum memenuhi persyaratan tersebut.

Sebagai catatan dulu, free float merupakan jumlah saham dari suatu perusahaan yang benar-benar tersedia dan bebas diperjualbelikan oleh publik di bursa saham.

Namun, publik ini bukan berarti hanya investor "retail" seperti kita. Menurut aturan yang masih berlaku sejauh ini, pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5% juga dinilai sebagai free float, kecuali pemegang saham yang berkaitan dengan pengendali, manajemen, dan saham treasury.

Oleh karena itu, pengetatan free float menjadi faktor krusial saat ini, mengingat banyak institusi baik lokal maupun asing yang menggunakan celah dari aturan itu untuk masuk sebagai free float, di sini mereka tidak wajib melapor, sehingga lebih mudah menggerakan harga saham, terutama ketika jumlah retail yang sebenarnya di suatu saham sudah semakin kering.

Hal tersebut juga menjadi perhatian MSCI, sampai akhirnya pada pekan lalu mereka memberi ultimatum pada regulator dengan menuntut transparansi data free float, jika tidak ditindaklanjuti dengan serius sampai Mei 2026, maka market kita berisiko turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Menanggapi itu, Otoritas Pasar Modal bersama Self Regulatory Organization (SRO) menerbitkan aturan baru terkait batas minimal free float sebesar 15% bagi emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Langkah tersebut kemudian memicu spekulasi pelaku pasar, bahwa untuk menaikkan free float perusahaan harus melakukan suatu aksi korporasi.

Karena, untuk menaikkan free float tidak bisa hanya dengan cara menjual saham dari pemilik mayoritas. Yang ada jika itu terjadi, harga saham malah jatuh, untuk menjaga stabilitas harga nantinya, malah yang terjadi perusahaan harus buyback.

Hal tersebut malah bisa menjadi pedang bermata dua.

Cara yang lebih masuk akal justru melakukan right issue, tetapi pengendali tidak menyerap semua saham baru yang diterbitkan, sehingga kelebihan-nya bisa optimal diambil retail.

Atau, bisa melakukan stock split jika suatu saham dinilai sudah mahal secara nominal. Sehingga harga saham akan lebih terjangkau untuk berbagai kalangan investor, terutama retail.

Cara lain yang lebih mudah juga bisa melakukan private placement, tetapi dengan catatan harus ada investor strategis yang masuk.

Dari cara-cara itu, menjadi masuk akal kalau untuk menaikkan free float malah akan menaikkan harga saham, karena ada dana yang mengalir dari investor baru, baik ritel atau big fund lain.

Namun, sampai disini tentu tidak semua saham yang free float masih di bawah 15% menarik dibeli.

Menurut kami, hanya beberapa saham saja yang menarik dilirik, kita harus mempertimbangkan: prospek bisnis ke depan yang benar-benar dikerjakan, bukan hanya narasi, fundamental yang kuat, valuasi masih cenderung murah, maupun dukungan dari kekuatan grup untuk mendukung aksi peningkatan grup.

Berikut ada lima saham yang menurut kami patut dilirik:

PGEO

Menurut pantauan kami, PGEO masih memiliki free float sebesar 10,90%. Masih ada gap sekitar 5% untuk memenuhi syarat terbaru dari regulator.

Kami menilai untuk mencapai itu, lebih masuk akan PGEO mengincar investor strategis untuk menampung saham-nya. Menariknya, baru-baru ini Danantara mulai terbuka menunjuk manajer investasi untuk mulai berinvestasi di IHSG selama enam bulan ke depan.

Ada kemungkinan PGEO menjadi salah satu yang diincar, mengingat valuasi juga masih murah dengan PBV saat ini di 1,39 kali. Lebih rendah dari rata-rata tiga tahun di 1,58 kali dan jauh dari pesaingnya seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang PBV sudah ratusan kali.

Menariknya, PGEO masih punya sisa dana IPO sekitar Rp4 triliun untuk pengembangan bisnis-nya, yang tentunya tak jauh-jauh dari sektor energi baru terbarukan dari panas bumi.

Pada Januari 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga resmi menetapkan PGEO sebagai pemenang peringkat pertama dalam seleksi Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) untuk wilayah panas bumi Cubadak Panti. Berikut adalah detail data yang Anda butuhkan:

  • Skor Kemenangan: PGEO unggul dengan nilai tertinggi sebesar 87,01, mengalahkan peserta seleksi lainnya.

  • Lokasi Proyek: Wilayah PSPE ini terletak di Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat, Sumatera Barat.

  • Potensi Energi: Area seluas 29.897 hektare tersebut diperkirakan menyimpan potensi cadangan panas bumi sebesar 77 MWe (Megawatt elektrik).

  • Status Terkini: PGEO kini berstatus sebagai calon pelaksana resmi yang akan melakukan survei mendalam sebelum masuk ke tahap eksploitasi.

BRIS

Berikutnya, ada saham BUMN lagi di sektor perbankan yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang kami nilai menarik, dengan free float saat ini masih di 9,91%.

Case untuk BRIS ini menurut kami juga seperti-nya mirip PGEO yang paling masuk akal adalah menarik investor strategis masuk, seperti Danantara, BPJS TK, Dapen, atau perusahaan Asuransi.

Baru-baru, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sudah mengumumkan Dapen dan Asuransi diberikan kelonggaran untuk investasi di pasar saham Indonesia dengan kenaikan limit sampai 20%.

Update terbaru terkait bisnis, Per 28 Januari 2026, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) secara resmi melaporkan kepada OJK bahwa mereka tidak lagi mengkonsolidasikan laporan keuangan BRIS.

Hal ini terjadi setelah hak Saham Seri A Dwiwarna milik pemerintah pada BRIS dialihkan kewenangannya kepada PT Danantara Asset Management (Persero) sebagai badan pengelola investasi nasional.

Dengan rampungnya proses ini pada awal 2026, BRIS secara efektif resmi menyandang status Bank BUMN (Persero) yang berdiri sendiri dan setara dengan bank-bank besar lainnya seperti Mandiri, BRI, dan BNI di bawah naungan Danantara.

ADMR

Berikutnya, ada PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang masih memiliki free float sebanyak 11,97%.

Menurut kami, saham ADMR potensial mendapatkan momentum kenaikan harga lebih lanjut karena secara tren masih naik, meskipun sempat ada guncangan waktu IHSG trading halt sebanyak dua kali.

Secara fundamental, prospek bisnis ADMR juga dinilai ciamik dalam beberapa tahun ke depan dari bisnis alumunium.

ADMR kini tengah memasuki babak baru melalui transformasi masif di sektor hilirisasi aluminium yang diproyeksikan bakal memanen hasil signifikan pada 2027. Katalis pertumbuhan utama bersumber dari progres pembangunan smelter aluminium di bawah naungan PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) yang berlokasi di Kalimantan Utara.

Proyek ini didukung penuh oleh pasokan alumina dari PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), yang memastikan rantai pasok domestik ADMR menjadi sangat terintegrasi dan efisien.

Kolaborasi dengan CITA menjamin kepastian bahan baku jangka panjang, sementara KAI fokus pada penyelesaian konstruksi tahap pertama yang ditargetkan beroperasi komersial (Commercial Operation Date) untuk mencapai kapasitas penuh sebesar 500.000 ton per tahun secara bertahap.

Memasuki tahun 2027, prospek pertumbuhan ADMR tumbuh signifikan seiring dengan meningkatnya permintaan global akan green aluminium untuk industri kendaraan listrik (EV) dan komponen energi terbarukan.

Dengan memanfaatkan keunggulan biaya operasional melalui pasokan batubara metalurgi grup sendiri serta rencana transisi ke energi hidro, ADMR berpotensi menjadi produsen aluminium dengan biaya terendah di Indonesia.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 

(saw/saw)



Most Popular