Bersiaplah Menyambut Badai, Tekanan Global & Lokal Bakal Guncang RI
Saham global anjlok dan dolar AS menguat tajam pada Jumat atau perdagangan terakhir pekan lalu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan mantan gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai pilihannya untuk menjadi ketua bank sentral berikutnya, sementara data inflasi menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan.
Warsh, yang kerap menjadi pengkritik The Fed, dipandang sebagai pendukung suku bunga yang lebih rendah, namun juga dianggap tidak akan melangkah sejauh pelonggaran agresif yang dikaitkan dengan beberapa kandidat potensial lainnya. Warsh akan mengambil alih jabatan ketika masa jabatan Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, berakhir pada Mei, jika ia lolos konfirmasi di Senat yang komposisinya terbelah tipis.
Trump mengatakan tidak pantas untuk menanyakan langsung kepada Warsh apakah ia akan memangkas suku bunga, tetapi menambahkan bahwa ia yakin Warsh cenderung menurunkan biaya pinjaman.
Saham Wall Street melemah setelah data ekonomi menunjukkan Indeks Harga Produsen (PPI) untuk permintaan akhir melonjak 0,5% bulan lalu, di atas perkiraan 0,2% para ekonom yang disurvei Reuters, setelah kenaikan 0,2% pada November yang tidak direvisi. Dunia usaha tampak meneruskan kenaikan biaya akibat tarif impor kepada konsumen.
Investor juga terus mencermati deretan laporan kinerja perusahaan. Saham Apple (AAPL.O) ditutup naik 0,43% setelah produsen iPhone tersebut melaporkan kinerja kuartalan, sementara KLA Corp (KLAC.O) anjlok lebih dari 15% dan menjadi salah satu penekan terbesar indeks S&P 500 setelah perusahaan peralatan semikonduktor itu merilis laporan keuangannya.
"Mungkin sebagian kegelisahan ini berasal dari ketidakpastian-ada ketua baru yang dinominasikan, akan ada prioritas baru, mungkin arah kebijakan moneter yang baru, dan itu menjadi sumber kecemasan. Namun demikian, secara keseluruhan, pemilihannya sudah cukup banyak diperkirakan di antara kandidat dalam daftar pendek," kata Terry Sandven, kepala strategi saham di U.S. Bank Asset Management, Minneapolis, kepada Reuters.
"Volatilitas pada Jumat, menurut saya, lebih merupakan fungsi dari indikator inflasi yang menunjukkan persistensi, dan kedua, laporan laba perusahaan yang sedang dicerna pasar-dengan pertanyaan utama mengenai profitabilitas dari belanja modal (capex) besar-besaran yang dikeluarkan," tambah Sandven.
Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 179,09 poin atau 0,36% ke 48.892,47, S&P 500 (.SPX) melemah 29,98 poin atau 0,43% ke 6.939,03, dan Nasdaq Composite (.IXIC) merosot 223,30 poin atau 0,94% ke 23.461,82.
Sepanjang pekan lalu, S&P 500 naik 0,3%-kenaikan pertamanya dalam tiga pekan-sementara Dow turun 0,4% dan Nasdaq melemah 0,2%. Secara bulanan, S&P 500 naik 1,4%, Dow menguat 1,7%, dan Nasdaq naik 0,9%.
Indeks saham global MSCI (.MIWD00000PUS) turun 7,26 poin atau 0,69% ke 1.042,93, namun masih berada di jalur kenaikan mingguan serta mencatatkan kenaikan persentase bulanan terbesar sejak September.
Indeks STOXX 600 Eropa (.STOXX) ditutup naik 0,64%, mempertahankan penguatan setelah pengumuman Trump terkait The Fed. Kinerja laba perusahaan yang kuat mendorong indeks ini mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak Mei. Indeks tersebut membukukan kenaikan bulanan ketujuh berturut-turut-rentang terpanjang sejak 2021.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat menyusul pengumuman Warsh dan data inflasi, melanjutkan tanda-tanda stabilisasi setelah pelemahan sebelumnya.
Indeks dolar (=USD), yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang, naik 0,57% ke 96,73, sementara euro (EUR=) turun 0,54% ke US$1,1904. Meski demikian, dolar masih berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut dan penurunan bulanan ketiga berturut-turut.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang bergerak naik tipis, dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun (US10YT=RR) naik 2,4 basis poin ke 4,251%, dan berada di jalur kenaikan bulanan kedua berturut-turut. Ini akan menjadi rangkaian kenaikan bulanan beruntun pertama sejak awal 2024.
Menurut CME FedWatch Tool, ekspektasi pasar terhadap jalur penurunan suku bunga relatif tidak berubah setelah pengumuman Warsh. Pasar belum mematok peluang di atas 50% untuk pemangkasan suku bunga hingga pertemuan bank sentral pada Juni.
Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan bank sentral AS tidak perlu memangkas suku bunga lebih lanjut kecuali pasar tenaga kerja mulai memburuk atau inflasi menurun, mengingat tingkat kebijakan saat ini 3,50%-3,75% bersifat netral.
Penguatan dolar membantu meredakan reli logam terbaru. Emas jatuh ke bawah US$5.000 per ons setelah mencetak rekor hampir US$5.600 pada Kamis. Perak spot (XAG=) anjlok 27,66% ke US$84 per ons, penurunan harian terbesar setidaknya sejak 1982.
Minyak mentah AS (CLc1) turun 0,32% dan ditutup di US$65,21 per barel, sementara Brent (LCOc1) melemah tipis ke US$70,69 per barel, turun 0,03% pada hari itu. Harga minyak mengonsolidasikan kenaikan terbaru dan bertahan di dekat level tertinggi enam bulan pada Jumat, didukung oleh ketegangan yang terus berlanjut antara AS dan Iran.
(emb/emb)