MARKET DATA

Ringgit Malaysia Memang Hebat, Tapi Rupiah Tak Seburuk Itu

mae,  CNBC Indonesia
31 January 2026 10:01
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak beragam pada pekan ini tetapi mayoritas menguat, termasuk rupiah.

Nilai tukar rupiah memang ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan, Jumat (30/1/2026). Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.780/US$ atau melemah 0,21%. Namun, secara keseluruhan, sepanjang pekan ini mata uang Garuda menguat 0,18%.

Penguatan ini juga memperpanjang tren positif rupiah menjadi dua pekan beruntun. 
Kendati demikian, rupiah masih melanjutkan tren pelemahan jika dilihat pergerakan sebulan.


Pada pekan ini, rupiah tidak menguat sendiri. Mayoritas mata uang Asia menguat. Ringgit bahkan melonjak 1,62%. Namun, bath Thailand justru hancur pekan ini.

Mayoritas mata uang Asia menguat setelah indeks dolar melemah pekan ini meski di akhir pekan menguat.

Indeks dolar sempat ambruk ke 95 di awal pekan yang merupakan rekor terendah dalam empat tahun.
Dolar AS akhirnya menguat pada Jumat setelah mantan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh dipilih sebagai Ketua The Fed berikutnya, serta seiring pemulihan mata uang AS dari aksi jual tajam di awal pekan yang menurut para analis sudah berlebihan dalam jangka pendek.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro, naik 0,79% ke level 96,93, sementara euro turun 0,79% ke US$1,1874.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat memilih Warsh untuk memimpin bank sentral AS ketika masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei. Warsh dipandang cenderung mendukung suku bunga yang lebih rendah, namun tidak akan melangkah sejauh pelonggaran agresif yang dikaitkan dengan sejumlah kandidat potensial lainnya.

Marc Chandler, kepala analis strategi pasar di Bannockburn Global Forex, mengatakan bahwa penguatan dolar pada Jumat kemungkinan setidaknya sebagian didorong oleh penyesuaian posisi pasar menjelang pengumuman tersebut.

"Dolar benar-benar sudah terlalu banyak dijual berdasarkan momentum jangka pendek," ujar Chandler, kepada CNBC.

Dolar juga menambah penguatan setelah data pada Jumat menunjukkan harga produsen AS naik lebih tinggi dari perkiraan pada Desember, dengan pelaku usaha tampaknya meneruskan kenaikan biaya akibat tarif impor.

Ringgit Makin Menggigit

Pada Selasa, Gubernur Bank Negara Malaysia (BNM) Datuk Seri Abdul Rasheed Ghaffour mengatakan bahwa kepastian kebijakan, reformasi pemerintah yang terus berjalan, serta faktor eksternal yang mendukung telah mendorong penguatan nilai tukar ringgit secara stabil ke level terbaik sejak 2018.

Ia menyebutkan bahwa meskipun faktor eksternal dan domestik sama-sama berperan penting, faktor domestik tetap menjadi fokus utama dalam memperkuat fundamental ekonomi, meningkatkan daya saing, serta menjaga keberlanjutan reformasi yang mendukung pertumbuhan jangka panjang. Faktor-faktor inilah yang akan menjadi pendorong ringgit ke depan.

"Hal-hal ini sangat penting, dan jika dijalankan dengan benar, hasilnya adalah ringgit menjadi semakin menarik dan aliran investasi masuk ke dalam negeri," ujarnya kepada Bernama.

Ringgit menguat ke level 3,9175 terhadap dolar AS pada Rabu, mencatatkan level penutupan terkuat sejak April 2018. Secara tahunan (year-on-year), mata uang Malaysia tersebut telah terapresiasi 10,77% terhadap dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengatakan pelaku pasar akan mencermati dengan ketat data ekonomi Amerika Serikat.

Mohd Afzanizam memperkirakan ringgit akan tetap mendapatkan dukungan kuat dalam kisaran 3,93 hingga 3,96 per dolar AS.

Dalam catatannya, Kenanga Investment Bank Bhd menyebutkan bahwa perhatian pasar pekan depan akan tertuju pada data pasar tenaga kerja AS, yang diperkirakan akan membentuk ekspektasi arah kebijakan The Fed menjelang Maret.

Bank sentral Malaysia juga menegaskan tidak akan menjadikan nilai tukar ringgit sebagai alat untuk mendongkrak ekspor. Otoritas moneter Negeri Jiran menilai, kinerja ekspor lebih ditentukan oleh permintaan global, bukan oleh pelemahan atau penguatan mata uang.

Penegasan tersebut disampaikan Bank Negara Malaysia (BNM) melalui jawaban tertulis kepada media. BNM menekankan bahwa ringgit tidak pernah dirancang sebagai instrumen daya saing ekspor, dan peran bank sentral hanya sebatas menjaga pasar valuta asing tetap berjalan tertib dan berfungsi dengan baik.

"Nilai tukar ringgit sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar," tulis BNM.

Pernyataan ini muncul di tengah performa kuat ringgit sepanjang 2026. Mata uang Malaysia tercatat mengungguli seluruh mata uang Asia, dengan penguatan sekitar 3% sepanjang tahun berjalan, setelah melonjak hampir 10% pada 2025.

Kinerja tersebut berbanding terbalik dengan kondisi sejumlah negara tetangga, termasuk Indonesia, di mana pasar saham tertekan dan rupiah sempat menyentuh level terlemah terhadap dolar AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)



Most Popular