MARKET DATA

Mata Uang Asia Kompak Menguat, Dolar AS Kalah Telak Usai Pidato Trump

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
25 February 2026 11:37
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang negara-negara Asia bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (26/2/2026). Seiring melemahnya indeks dolar AS (DXY) setelah pidato kenegaraan Presiden AS Donald Trump.

Merujuk data Refinitiv, per pukul 11.10 WIB, dari sebelas mata uang Asia yang dipantau, sepuluh mata uang menguat dan hanya satu yang melemah terhadap greenback.

Penguatan paling besar dipimpin won Korea yang naik 0,42% ke posisi KRW 1.435,3/US$. Dong Vietnam menyusul menguat 0,38% ke level VND 26.080/US$. Dolar Taiwan juga terapresiasi sebesar 0,25% ke TWD 31,29/US$, sementara peso Filipina naik 0,20% ke PHP 57,586/US$.

Di sisi lain, yuan China menguat 0,16% ke CNY 6,8718/US$. Penguatan ini membuat yuan berada di level terkuat sejak 18 April 2023 atau rekor tertinggi baru dalam 34 bulan terakhir.

Tekanan terhadap dolar juga membuka ruang penguatan pada mata uang Garuda. Rupiah terpantau menguat 0,15% ke posisi Rp16.790/US$, atau berbalik dibandingkan posisi rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini yang melemah 0,03% di level Rp16,820/US$.

Baht Thailand menguat 0,13% ke THB 31,01/US$ dan dolar Singapura menguat 0,11% ke SGD 1,265/US$.

Penguatan tipis juga terlihat pada yen Jepang yang naik 0,01% ke JPY 155,87/US$, serta rupee India yang menguat 0,01% ke INR 90,893/US$.

Sementara itu, satu-satunya mata uang yang masih berada di zona merah adalah ringgit Malaysia, yang melemah 0,03% ke level MYR 3,891/US$.

Arah pergerakan ini selaras dengan melemahnya dolar AS. DXY pada waktu yang sama turun 0,08% ke level 97,769, menandakan minat terhadap greenback sedikit mereda dan memberi ruang bagi mata uang Asia untuk menguat.

Salah satu pemicunya datang dari pidato kenegaraan Presiden AS Donald Trump pada pagi tadi, yang tidak memberi sinyal akan mengubah kebijakan tarifnya. Sehingga pasar kembali menilai arah kebijakan dagang AS masih akan agresif dan penuh ketidakpastian.


Trump juga menyatakan keyakinannya negara-negara lain akan mematuhi perjanjian dagang, bahkan menyinggung kemungkinan tarif pada akhirnya dapat menggantikan pajak penghasilan.

Di saat yang sama, AS mulai menerapkan tarif global sementara 10% sejak Selasa kemarin, yang disebut-sebut tengah diupayakan Gedung Putih untuk dinaikkan menjadi 15%, menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan skema tarif resiprokal Trump.

Dari sisi kebijakan moneter, nada komentar pejabat bank sentral AS cenderung menahan laju penguatan dolar.

Susan Collins menilai mempertahankan suku bunga masih tepat di tengah pasar tenaga kerja yang membaik dan risiko inflasi yang belum sepenuhnya hilang. Thomas Barkin juga menilai posisi kebijakan saat ini sudah memadai untuk menghadapi berbagai risiko ekonomi.

Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga sekitar tiga kali masing-masing 25 basis poin tahun ini. Ekspektasi pemangkasan suku bunga ini ikut menekan daya tarik dolar AS, sehingga DXY bergerak melemah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular