Kabar Buruk bagi Petani Indonesia, Harga Kakao Terguncang Hebat
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Harga kakao memasuki 2026 masih dalam tren turun setelah koreksi tajam di akhir tahun lalu.
Sepanjang Januari, tekanan jual berlanjut meski pasar mulai membaca tanda kelelahan penurunan di bursa global.
Arah pelemahan ini sudah terbentuk sejak kuartal terakhir 2025, ketika pasar mulai mengoreksi ekspektasi yang sebelumnya terlalu agresif. Laporan International Cocoa Organization (ICCO) per Desember 2025 mencatat perubahan keseimbangan yang tegas: pasokan global mulai membaik, sementara permintaan industri melemah. Kombinasi ini membuka ruang koreksi setelah harga sempat bergerak pada level ekstrem.
Di bursa London, kontrak kakao terdekat ditutup di kisaran ÂŁ4.377 per ton pada akhir Desember 2025, turun tajam dari ÂŁ6.726 per ton setahun sebelumnya.
Penurunan juga tercermin di New York, dengan harga turun ke sekitar US$6.065 per ton dari US$8.541 per ton. Koreksi ini mengakhiri fase "supply panic" yang mendominasi pasar sepanjang musim 2024/2025.
Perbaikan pasokan menjadi fondasi utama perubahan arah harga. Produksi dari Amerika Latin membaik dan mengurangi tekanan global.
Afrika Barat masih menghadapi masalah struktural, tetapi volume kedatangan kakao di Pelabuhan Pantai Gading hanya turun tipis secara tahunan. Angka ini tidak cukup besar untuk mempertahankan harga tinggi ketika pasar mulai memeriksa sisi konsumsi.
Di sisi permintaan, grinding kakao global melemah dua musim berturut-turut. Aktivitas pengolahan di Eropa dan Asia menurun seiring tekanan inflasi dan penyesuaian belanja konsumen.
Industri cokelat mengurangi pembelian biji, membuat pasar kehilangan jangkar permintaan yang biasanya menopang harga pada periode pasokan rapuh.
Memasuki Desember 2025 hingga Januari 2026 Refinitiv menunjukkan kakao London (LCCc1) bergerak turun konsisten dari kisaran 4.500-an pada awal Desember ke 4.377 di akhir tahun. Tren pelemahan berlanjut di awal 2026. Harga jatuh dari 4.368 pada 8 Januari ke 3.093 pada 27 Januari. Dalam kurang dari tiga minggu, pasar melepas lebih dari 25% nilainya.
Tekanan serupa terlihat di pasar fisik dan kontrak regional Indonesia. Harga kakao Makassar kontrak terdekat turun dari sekitar 4.900 pada awal Januari menjadi kisaran 3.430-3.503 pada 27-28 Januari. Penurunan ini mengindikasikan transmisi tekanan global ke pasar domestik berjalan cepat, meski struktur biaya dan kualitas biji berbeda.
Mekanisme di balik penurunan ini berlapis. Pertama, posisi spekulatif yang dibangun saat harga berada di puncak mulai dibongkar ketika narasi pasokan berubah. Kedua, lemahnya permintaan membuat pelaku industri tidak agresif menyerap koreksi harga. Ketiga, faktor pembiayaan di negara produsen menambah tekanan struktural.
Reuters melaporkan regulator kakao Ghana, COCOBOD, menghadapi krisis likuiditas setelah perubahan model pendanaan membuat petani terlambat dibayar. Penumpukan kakao yang belum terjual meningkatkan risiko pada musim tanam berikutnya dan menambah ketidakpastian jangka menengah.
Dari sisi cuaca, Dow Jones melaporkan kondisi relatif mendukung di Brasil, Asia Tenggara, dan sebagian Afrika Timur. Curah hujan di Indonesia dan Malaysia membantu kondisi pohon, sementara Bahia di Brasil mendapat tambahan hujan. Ghana dan Pantai Gading mengalami fase kering musiman, tetapi belum cukup untuk mengubah ekspektasi pasokan secara drastis dalam waktu dekat.
Namun, tekanan harga mulai menunjukkan tanda kelelahan teknikal. Reuters mencatat kontrak kakao New York Maret 2026 berpotensi menembus area resistensi US$4.465 per ton, dengan sinyal divergensi bullish pada indikator jangka pendek. Area dukungan berada di sekitar US$4.289, sementara ruang pemulihan terbuka menuju US$4.635-4.740 jika pantulan berlanjut.
Bagi Indonesia, pelemahan harga kakao ini menjadi kabar buruk. Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Dengan harga yang melemah maka pendapatan akan berkurang.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb)