Gara-Gara Trump: Impor Alkohol AS Ambruk, Kopi Hijau Laku Keras
Jakarta, CNBC Indonesia- Nilai impor makanan, pakan, dan minuman Amerika Serikat (AS)mencapai US$198,66 miliar atau sekitar Rp 3.329 triliun) pada Januari-November 2025. Angka ini naik US$1,74 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu, menurut data Bureau of Economic Analysis (BEA).
Secara bulanan, impor November 2025 tercatat US$16,78 miliar, bertambah US$620 juta dari Oktober.
Kenaikan total tersebut ditopang oleh segelintir komoditas dengan lonjakan tajam.
Bureau of Economic Analysis (BEA) mencatat lonjakan tajam pada kopi dan kakao, sementara minuman beralkohol dan sayuran justru menyusut dalam.
Pergerakan impor AS tak bisa dilepaskan dari kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Sejak perang tarif berlaku, Trump memang memberlakukan tarif tinggi kepada alkohol impor, terutama dari Eropa. Kebijakannya ini bahkan mengundang protes keras dari negara mitra dagangnya.
Kopi hijau menjadi pendorong utama. Hingga November 2025, nilai impornya mencapai US$9,45 miliar, naik US$3,48 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terjadi di tengah harga kopi global yang masih tinggi dan pasokan yang ketat dari negara produsen utama.
Lonjakan juga terlihat pada biji kakao. Nilai impor naik US$1,55 miliar menjadi US$2,53 miliar. Krisis pasokan Afrika Barat membuat pasar AS bergantung pada harga, bukan volume. Pola serupa muncul pada produk daging dan bakery, yang masing-masing naik di atas US$1,8 miliar dan US$2 miliar secara tahunan.
Di kelompok ini, impor berfungsi sebagai penyeimbang. Tekanan biaya produksi domestik mendorong pelaku usaha mengamankan pasokan dari luar negeri, terutama untuk produk olahan dan protein.
Sebaliknya, tekanan paling dalam terjadi pada minuman beralkohol selain wine. Nilai impor turun US$2,46 miliar menjadi US$8,44 miliar. Sayuran juga menyusut US$1,87 miliar secara year-to-date. Koreksi ini muncul setelah lonjakan tajam pada tahun sebelumnya, ketika gangguan rantai pasok masih dominan.
Penurunan berlanjut pada minyak pangan dan biji minyak, wine dan bir, serta gula tebu dan bit. Harga global yang lebih lunak dan penyesuaian stok menekan kebutuhan impor sepanjang 2025.
Komoditas dengan pasokan ketat dan posisi strategis di rantai konsumsi AS masih memiliki ruang harga. Produk dengan substitusi luas menghadapi pasar yang lebih selektif.